HALAL DAN HARAM


A. Pengertian Halal dan Haram

(حلال, halāl, halaal) adalah istilah bahasa Arab dalam agama Islammakanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut dalam Islam. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas istilah halal merujuk kepada s

egala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam (aktivitas, tingkah laku, cara berpakaian dll). Di Indonesia, sertifikasi kehalalan produk pangan ditangani oleh Majelis Ulama Indonesia–secara spesifik Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia. yang berarti “diizinkan” atau “boleh”. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk merujuk kepada

Haram adalah

sebuah status hukum terhadap suatu aktivitas atau keadaan suatu benda (misalnya makanan). Aktivitas yang berstatus hukum haram atau makanan yang dianggap haram adalah dilarang secara keras. Orang yang melakukan tindakan haram atau makan binatang haram ini akan mendapatkan konsekuensi berupa dosa.

B. HEWAN YANG DIHARAMKAN BERDASARKAN SUNNAH NABI

  1. Daging keledai Jinak
    Jumhur Ulama berpendapat tentang haramnya memakan daging keledai jinak berdasarkan sabda Nabi r:
    a. Hadits Salamah bin Akwa -radiallahuanhu- “Kami bersama Rasulullah saw. berangkat menuju Khaibar. Kemudian Allah berkenan menaklukkannya bagi kemenangan pasukan muslimin itu. Pada sore hari di mana Khaibar telah ditaklukkan, kaum muslimin banyak yang menyalakan api hingga bertanyalah Rasulullah saw.: Apakah api-api ini, untuk apakah kamu sekalian menyalakannya? Mereka menjawab: Untuk memasak daging. Rasulullah saw. bertanya lagi: Daging apakah itu? Mereka menjawab: Daging keledai piaraan. Maka Rasulullah saw. bersabda: Tumpahkanlah masakan itu dan pecahkanlah periuknya! Seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, atau cukup kami tumpahkan isinya lalu kami cuci periuknya? Rasulullah saw. menjawab: Atau begitu juga boleh” (HR Muslim 3592)

b. Hadis riwayat Abdullah bin Abu Aufa t: Dari Syaibani ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah bin Abu Aufa tentang daging keledai piaraan” lalu ia menjawab: Musibah kelaparan menimpa kami bersama Rasulullah r pada hari perang Khaibar padahal kami telah berhasil menangkap beberapa ekor keledai kaum mereka yang keluar dari Madinah lalu kami pun segera menyembelihnya. Ketika periuk-periuk kami yang berisi daging binatang tersebut sedang mendidih, tiba-tiba berserulah seorang penyampai seruan Rasulullah r: “Tumpahkanlah periuk-periuk tersebut dan janganlah memakan daging keledai itu sedikit pun!” Apakah maksud pengharaman beliau ini? Lalu kami pun saling membicarakannya di antara kami sehingga kami berkesimpulan beliau mengharamkannya untuk selamanya dan pasti dan beliau juga mengharamkan itu karena tidak bisa dibagi seperlima. (HR Muslim 3585)

c. Hadits Abu Tsa’labah, “ Rasulullah r mengharamkan daging keledai piaraan” (HR Muslim 3582)Dan larangan dari riwayat yang lain Seperti Ali, Ibnu Umar dan sahabat y yanglainnya.

Faidah: Daging Keledai Liar Hukumnya Halal
Hal ini sudah menjadi ijma Ulama. Konsumsi daging ini telah diriwayatkan dari Nabi dan para sahabat beliau. Disebutkan dalam hadits Qatadah, bahwa dia bersama orang-orang yang ihram -sedangkan ia dalan keadaan halal (tidak ihram)- kemudian nampaklah oleh mereka keledai-keledai liar. Abu Qatadah langsung menangkap salah satu dari keledai tersebut dan menyembelihnya, lalu membawanya kepada mereka. Merekapun memakan sebagian daging tersebut dan berkata “(Bolehkan) kita memakan daging buruan padahal kita sedang ihram ?” merekapun membawa daging yang tersisa ke pada Rasulullah r, dan Rasulullah r bersabda, “Makanlah yang tersisa dari dagingnya.” (HR Bukhari dan Muslim )

Dalam Riwayat lain disebutkan bahwasannya Nabi r berkata kepada mereka, “Apakah kalian membawa sebagian daging keledai tersebut ?” Mereka menjawab, “Kami membawa kakinya (oahanya).” Ibnu Qatadah berkata, Kemudia Rasulullah r pun memakannya.

Bolehnya memakan daging kuda
Jumhur Ulama diantarnya ulama Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali juga mayoritas Sahabat dan tabi’in membolehkan mengkonsumsi daging kuda baik itu kuda Arab maupun kuda non-Arab, berdasarkan dalil berikut
a. Hadits Jabir t, dia berkata “Pada perang Khaibar Rasulullah r melarang (mengkonsumsi) daging keledai jinak dan mengizinkan daging kuda.” (HR Muslim 3595)

b. Hadits Asma’ binti Abu Bakar t “Pada masa Rasulullah masih hidup, kami biasa menyembelih kuda lalu memakannya sewaktu di Madinah.” (HR Bukhari dan Muslim)

  1. Segala Jenis Binatang Buas Yang Bertaring
    Setiap hewan yang memiliki taring untuk membunuh mangsanya baik hewan itu liar (singa, macan, srigala dll) maupun hewan tersebut jinak (kucing, anjing dll) maka menurut jumhur Ulama hal tersebut tidak boleh/diharamkan, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:
    a. Hadits Abu Hurairah t, bahwasannya Nabi r bersabda:
    Segala jenis binatang buas yang bertaring haram dimakan.” (HR Muslim)

b. Hadits Ibnu Abbas t dia berkata
Rasulullah r melarang setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burug yang bercakar tajam.” (HR Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i)

c. Diriwayatkan dari Ibnu Az-Zubair, dia berkata, Saya pernah bertanya kepada Jabir t mengenai harga anjing dan kucing, lalau dia menjawab, “Nabi r mengecam (melarang) hal itu.” (HR Shahih Muslim)
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas t, bahwasannya Nabi r pernah bersabda,
Sesungguhnya jika Allah mengharamkan pada suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia mengharamkan juga harga (jual-belinya) pada mereka.” (HR Abu Dawud)

Faidah: Kelinci adalah Halal
Menurut Jumhur Ulama, daging kelinci adalah halal, berdasarkan hadits Anas t dia berkata:
Kami mengejar seekor kelinci. Orang-orang berhasil mengepungnya dan menangkapnya. Kemudian aku mengambilnya dan membawanya kepada Abu Thalhah. Ia lantas menyembelihnya dan mengirimkan pahanya kepada Rasulullah lalu beliau menerimanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

  1. Setiap Jenis Burung yang Bercakar/Predator
    Burung jenis predator seperti elang, gagak, rajawali dan sejenisnya untuk memangsa/melukai buruannya adalaha haram. Hal ini didasarkan hadits Ibnu Abbas t diatas, bahwasannya Nabi r melarang semua jenis burung yang memiliki cakar tajam.
    Maksud cakar tajam adalah cakar yang digunakan untuk berburu mangsanya.
  2. Jallalah
    Jallalah adalah hewan pemakan barang-barang najis -atau sebagian besar makanannya adalah barang-barang najis- seperti Unta, sapi, kambing dll jika diberi makan barang-banrang najis.
    Hewan ini, baik dagingnya maupun susunya tidak halal dikonsumsi. Hal ini dinyatakan oleh Imam Ahmad dalam salah satu versi pendapatnya dan Ibnu Hazm, berdasarkan hadits Ibnu umar, dia berkata, “Rasulullah melarang memakan daging hewan-hewan pemakan najis berikut susunya.”
    Sementara itu Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa ia hanya makruh dan tidak sampai haram. Ini juga menjadi versi lain pendapat Imam Ahmad.

Kapan hewan pemakan najis halal dimakan
Jika hewan pemakan najis dikandangkan selama tiga hari dan diberi makanan-makanan yang suci, maka ia halal untuk dikonsumsi dan diminum susunya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar t, “Sesungguhnya dia mengerangkeng ayam pemakan najis selama tiga hari.” (sanadnya Shahih HR Ibnu Abi Syaibah. Lihat al-Irwa’ 2504).

Diriwayatkan juga dari Imam Ahmad bahwa dia mengandangkan hewan pemakan najis selama tiga hari, baik itu berupa unggas ataupun binatang ternak. Dalam riwayat lain darinya, dia konon mengandangkan ayam (unggas) selama tiga hari, sementara unta, sapi dan semisal selama 40 hari.

Ulama sepakat bahwa hewan pemakan najis bisa menjadi halal tetapi berbeda pendapat mengenai lamanya waktu pengandangan/pemebrian makanan suci.

  1. Kelompok Binatang yang Diperintahkan Syara’ Untuk Dibunuh
    Hewan-hewan ini adalah:
    a. Tikus
    b. Kalajengking
    c. Burung gagak dan sejenisnya/burung layang-layang
    d. Anjing predator
    e. Tokek
    f. Ular

Berdasarkan hadits berikut ini:
a. Diriwayatkan dariAisyah -radiallahuanha- dari Nabi r bersabda:
Ada lima binatang yang boleh dibunuh ditanah haram: Tikus, Kalajengking, Burung layang-layang/Sejenis gagak dan anjing predator.” (hadits hasan HR Bukhari dan Muslim)

b. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash t, dia berkata, “Nabi r memerintahkan untuk membunuh tokekdan menyebutnya fasiq kecil” (HR Muslim)

c. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud t, dia berkata “Kami tengah bersama Nabi r disebuah goa, dan saat itu turun pada beliau ayat ‘Demi Malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan‘ (QS Al-Mursalaat:1). Ketika kami mengambil air dari mulut goa, tiba-tiba muncul seekor ular dihadapan kami. Beliaupun bersabda, ‘Bunuhlah ular itu‘ Kamipun berebut membunuhnya, dan aku berhasil mendahului. Rasulullah r bersabda, ‘Semoga Allah melindungi dari kejahatan kalian sebagaiman Dia melindungi kalian dari kejahatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Binatang-binatang ini diperintahkan untuk dibunuh karena termasuk bainatang yang menjijikkan dan tidak diterima oelh tabiat yang sehat.

  1. Hewan yang Dilarang Dibunuh Menurut Syariat
    Hewan jenis ini adalah:
    - Semut
    - Lebah
    - Burung HudHud
    - Burung Shurad
    - Katak
    Hewan-hewan tidak boleh dimakan, berdasarkan hadits-hadits berikut:
    a. Diriwayatkan dariIbnu Abbas t, dia berkata, “Rasulullah melarang kami membunuh empat macam binatang: Semut, lebah, burung hudhud dan burung shurad.” (HR An-Nasa’i dan Ahmad)

b. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman t, dia berkata, “Seorang tabib menyebut resep obat dihadapan Nabi r dan menyebut katak sebagai salah satu resepnya. Rasulullah r pun melarang membunuh katak.”

Dari haramnya memakan binatang yang dilarang untuk dibunuh dapat disimpulkan mengenai larangan menyembelihnya, sehingga hewan-hewan ini tidak halal disembelih. Sebab seandainya ia halal dimakan, tentu tidak dilarang untuk dibunuh.

One thought on “HALAL DAN HARAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s