CITAKU KARNA PRESTASI


CINTAKU KARNA PRESTASI

“Dan yang mendapatkan juara 1, pada semester pertama ini adalah Heyra Ayu Santika.” Kata Bu Lastri, wali kelas ku mengumumkan bahwa aku yang mendapatkan ringking 1 masih terngiang-ngiang dengan jelas dibenakku. Aku tidak menyangka akan mendapatkan berita ini. Oh, senangnya .

Setelah aku memberi tahu prestasiku kepada Bunda, Ayah, dan Abang Fa’iz, aku langsung ke kamar saja. Tiduran dan masih membayangkan insiden di kelas ku X2 itu. Ku buka hand phone ku, dan aku baca ada 31 pesan diterima. Isinya sih sama saja, mengucapkan selamat dari teman sekelas dan juga OSIS. Ya aku jawab terima kasih saja.

Hari ini hari pertama aku liburan semester satu. Dua minggu lagi bisa malas-malasan di rumah deh. Habis sholat subuh, aku bersiap-siap untuk lari pagi bersama kak Faiz dan teman-teman. Itulah yang aku lakukan pagi hari saat aku liburan kali ini. Tak kusangka dua minggu cepet banget, kata-kata Bu Lastri saja masih ku ingat sampai sekarang. Besok sudah mulai sekolah nih . . .

Aku bangun pagi-pagi dan ulai bersiap-siap untuk sekolah hari ini. Bang Faiz mengegas motor cowoknya kenceng banget. Bunda sampai geleng-geleng kepala melihat ulah kakak ku satu itu. Aku selalu berangkat bersama Bang Faiz, karena SMA Tuna Bangsa tidak jauh dari SMA Pemuda Bangsa, dimana Bang Faiz menuntuk ilmu di kelas XII nya ini.

Sekolah belum melanjutkan materi pelajaran, melainkan seminggu ini adalah seminggu remidial bagi anak-anak Tuna Bangsa. Dan alhamdulillah, aku gak ikut. Nilaiku tidak begitu mengecewakan.

Malam ini aku mencoba belajar lagi di pelajaran Bahasa Indonesiaku kemarin. Tidak sampai, suara bunyi ringtone sms dari hp ku mengagetkanku. Ku ambil hp ku dan ku lihat ada 1 pesan. Entah dari siapa aku tidak tahu. Nomornya asing bagiku. Ia hanya mennuliskan nama panjang ku. “Kurang kerjaan banget sih” gumamku.

Saat aku tanya, dia adalah siSandy, Sandy Putra Wijaya. Temen sekelas ku yang sangat kuper, dan pendiam. Walaupun dia memakai kaca mata -6, dia tidak sejenius penampilannya yang selalu memandangi buku-buku pengetahuannya. Karena aku cukup menghormatinya, aku pun membalas semua pesannya. Awalnya sih biasa-biasa saja, sampai akhirnya dia mengirimkan pesan yang amat mengejutkanku. Apa? Sandy mau mengalahkanku? Ya Allah, aku tidak menyangka. Aku pun mengusir semua pikiran-pikiran negatifku. Bukan hanyaSandysaja yang mau menjadi juara 1, tapi semua teman-temanku akan sama. Jadi aku pun menjawab “ya, itu motivasi yang bagus sekali.” Dan sesudah mengirimkan sms itu, aku langsung menonaktifkan hand phone ku, dan mebereskan semua buku-buku ku. Aku tak nafsu lagi untuk belajar. Aku pun berjalan menuju kamarku dan bergegas untuk segera tidur. Tapi aku tetap gelisah dan tidak bisa tidur.

Tak disangka sudah pagi. Aku seperti tidak ingin masuk sekolah. Apalagi bertemu dengan siSandyitu. Satu bulan ia tidak menunjukkan peningkatannya. Nilainya malah menjadi lebih parah. Tidak ada ulangannya yang tidak remidi. Ya Allah, parah sekali dia.

Itu satu bulan lalu, tapi apakah kamu tahu dua bulan selanjutnya? Aku selalu dibawahnya. Mengejutkan bukan? Penampilannya pun berubah 180 derajat dari semula cupu dan kuper, menjadi amat sangat keren. Rambut yang tak beraturan dan lebih berantakan, tanpa kacamata, dan memakai kalung hitam yang ketat dengan lehernya. Ya allah, bahkan ia mengalahkan Rama, cowok terkeren di Tuna Bangsa. Cewek-cewek pun lebih ganjen padanya. Sudah pinter, ganteng, cool, tajir lagi. Cewek mana yang gak mau.

Sebenarnya sih, aku juga ingin bicara dengan nya. Bukan karena sekarang ia keren, aku ingin berdiskusi tentang pelajaran yang semakin rumit. Tapi karena sekarang banyak cewek-cewek di sekelilingnya, aku jadi malas. Apa kata temen-temenku anak OSIS dan ROHIS, seksi 1, ganjen pada seorang cowok? Aku tak bisa membayangkan.

Malam ini aku belajar. Lagi-lagiSandysms aku. Dan yang ini sangat tidak sopan. “hyra, gimana? Cowok yang cupu bisa ngalahin elu? Sekarang elu mau ngedekatin akukan? Gak malu jadi cewek ganjen?”  kurang asem ni cowok. Emang dikira gue cewek apaan? Astagfirullah . . . ngomong apaan aku . . . entah mengapa aku sekarang jadi benci denganSandy.

Seminggu lagi tes kenaikan kelas. Aku ingin test itu segera selesai. Aku ingin cepet menjadi anak kelas XI dan berpisah jauh dengan yang namanyaSandy. Aku sangat yakin kita berpisah, karena dia lebih memilih IPS, sedangkan aku lebih memilih pada IPA. Aku sudah tahu pasti juara 1 kali ini adalahSandy. Bukannya aku pesimis, tapi dilihat dari ulangan harian, dia yang unggul. Walaupun nanti test nya lebih nggul aku, tapi itu hanya percuma saja. Huf . . . Aku kagum dengan dia. Dia bisa berubah dalam waktu yang sangat amat cepat. Sabar . . .  sabar . . .

Akhirnya tes kenaikan aku lewati. Hari ini pembagian raport. Walaupun raport diambil oleh orang tua, tapi masih tetap juara kelas diumumkan oleh Bu Lastri.

“Anak-anak, Ibu sangat bangga sekali menjadi wali kelas X2. Karena kalian sudah menunjukkan prestasi kalian. Dan kelas ini menjadi kelas terbaik di Tuna Bangsa pada tahun pelajaran 2009/2010 ini.” Semua bertepuk tangan dengan suara-suara yang meleking.

“Tapi anak-anak,” tambah Bu Lastri. “Memang semuanya naik kelas, hanya saja saat ini juara pertama tergeser menjadi juara ke 2. Dan yang menjadi juara satu kali ini adalah Sandy Putra Wijaya. Dimohon nakSandykemari.” Pinta Bu Lastri. Anak-anak takjub, kaget, bingung, semua pertanyaan-pertanyaan melontar dari mulut mereka. ”Apa Kok bisa sih?”

Tapi, tidak lama, murid X2 menjawab pertanyaan Bu Lastri. “Sandy tidak masuk Bu.” Jawab mereka serempak. Aku kaget bukan main. Apa? Sandy gak masuk? Kenapa? Ku pandangai bangku kosong milikSandydi belakang.

Sampai di rumah ku beri tahu kepaa Ayah, Bunda, dan Bang Fa’iz. Aku takut Bunda marah-maah padaku. Tapi ternyata tidak. Beliau malah mencium keningku sembari berkata “Tak apa-apa sayang. Bunda sudah bangga padamu.” Walaupun begitu, aku masih saja merasa bersalah. Tapi apa yang dapat aku lakukan?

Malam ini aku tak bisa tidur. Aku masih membayangkan semester kemarin, aku juga tidak bisa tidur karena rasa bahagia. Tapi malam ini adalah sebaliknya. Ku tatap langit yang sudah kelam. Kelihat bulan serta bintang-bintang tersenyum mengejek kepada ku. Ku tutup jendelaku dengan keras, dan bergegas tidur.

Sesudah sholat subuh, aku kembali tidur. Abang Fa’iz yang dari tadi berteriak-teriak memanggilku akan mengajak lari pagi, mulai capek membangunkan ku. Aku sangat malas untuk lari pagi. Entah kenapa aku hanya ingin di kamar saja. Ku pandangi jam dindingku sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ku raih handuk biruku, dan aku pun bergegas mandi.

“Hayra . . . ada tamu untuk mu sayang.” Teriak bunda sambil mengeetok-ngetok pintu kamarku. Aku pun bergegas membereskan diriku. “ Ya Bun, sebentar lagi.” Teriak ku. Siapa ya, pagi-pagi berkunjung? Ah mungkin Bella, teman sekelasku. Aku pun berjalan menuruni tangga. Dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang mengobrol dengan Bunda. Sandy  . . . ya, dia sandy.

“Sandy, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya ku sambil melotot. Sandy hanya tersenyum kepadaku.

“Aduh heyra, jangan begitu dong sama NakSandy. Dia ke sini baik-baik lho Ra.” Jawab Bunda sambil tersenyum kepadaSandy.

“Terima kasih tante.” Jawab Sandy polos. “Saya kesini mau mengajak Heyra jalan-jalan Tante. Apakah tante mengijinkan?” tanyaSandy.

“Berani benar ia bertanya begitu kepada Bunda.” Gumam ku dalam hati.

“Ya, boleh kok. Inikanmasih pagi. Tapi jangan terlewat batas ya.” Kata Bunda bercanda.

“Tenang tante, saya cuma mengajaknya jalan-jalan saja.”

Ya Allah, mimpi apaan aku tadi malam? Tak seperti biasa Bunda memberikan izin segampang itu.

Sesudah berpamitan dengan Bunda, aku pun menaiki motor yang dikendaraiSandy. “Aku mau dibawa kemana nih?” gumam ku dalam hati.

“Heyra . . .” Panggil Sandy dengan lembut.

“Ya da pa?”

“Kenapa diam ?”

“Lha harus bagaimana?” tanya ku sambil membuka helm ku.

“Gak kenapa-kenapa deh.”

“Emang kamu mau mengajak aku kemana sih?”

“Ntar juga tahu.” Kata Sandy sambill terus menambah kecepatan.

“Sudah sampai.” Kata Sandy sambil memberhentikan motornya.

Aku menatap wajahnya heran. Aku diajaknya ke jalan raya. “Apa-apan kamu?” tanyaku tak percaya.

“Tutup mata mu dengan ini.” Kata Sandy sambil memberikan penutup mata berwrna biru laut kepada ku.

“Apa maksu . . . “

“Sudahlah, pakai saja.” Kata Sandy memotong  ucapanku. Aku pun memakai penutup mata itu, kemudian kurasakanSandymemapahku ke suatu tempat. Entah di mana.

“Sudah, bukalah penutup mata mu.” Kata Sandy. Lalu ku buka dengan perlahan. Aku danSandyberada di atas gedung. Ya Allah, dada ku terasa sesak di sini. Angin yang berhembus menusuk tulangku.

“Sandy, ayo kita turun. Ngapain kita ke sini? Ayo lah, kita turunSandy.” Ajak ku.

“Aku ingin katakan sesuatu pada mu.” Kata Sandy, sambil menatap mata ku yang juga sedang menatap matanya.

“Kita bisa katakan itu ke tempat lainSandy.” Kataku, aku pun terjatuh karena dadaku semakin sesak saja.

“Heyra . . .” Kata Sandy lalu duduk didekatku sambil memegang tangan ku.

“Aku suka padamu. Maukah engkau menjadi mimpi indahku untuk selama-lamanya di dunia nyata ku ini?” tanyaSandysambil memegang tanganku semakin erat. Aku juga membalas genggaman tanganSandy, karena aku sungguh tak bisa bernafas.

“Maaf Sandy, aku tak bisa.” Kata ku sambil melepaskan tanganku pada genggamanSandy. Dan aku hanya menggenggam tangan ku sendiri.

“Mengapa heyra?” kataSandydanmulai berdiri. “Aku lakukan semua ini untukmu Heyra. Aku tahu, dulu saatSandymenjadi cowok yang cupu, kuper, kau tak sedikit pun mau mendekati aku. Apalagi aku adalah anak yang bodoh. Sekarang, ku ubah penampilan ku, ku bekerja keras memaksa otak ku berfikir. Ku beli semua buku pelajaran dan aku belajar untuk mengalahkan mu. “

“Tapi mengapa kau ingin mengalahkan ku?”

“Aku tahu cewek pandai seperti mu tidak mungkin menerima cowok yang bodoh.”

“Aku tidak begitu,Sandy. Aku menganggap mu sebagai teman ku.”

“Mengapa? Kau tidak suka pada ku?” tanyaSandysambil berteriak.

“Aku punya prinsip hidup,Sandy. Tolong hargai itu.” Jawab ku sangat pelan.

“Prinsip apa maksudmu?” tanya nya sambil berjalan dan duduk di tepi gedung dan kaki di bawahnya.

“Aku tak ingin pacaran dulu sebelum kerja. Itu sudah prinsip ku dari dulu. Insya Allah, aku tidak pacaran, karena itu dilarang agama.” Kata ku, sambil menundukkan kepala.

“Itu tidak masuk akal, Ra.”

“Itulah kenyataannya,Sandy.”

“Ya . . . ,” kata Sandy singkat, lalu dia berdiri.Adabeberapa genangan oli di sekitarnya.

“Awas, ada oliSandy.” Kata ku mengingatkan.

“Aku tahu, lalu apa peduli mu?” Tanya nya ketus. Aku terdiam. Saat andy melihat ku menunduk, ia pun berjalan menjauh.

“Ya sudah, lupakan saja.” Kata Sandy berjalan menjauh. Aku menundukkan kepala ku, sambil menangis terisak-isak.

“Heyra . . . “ suara keras memanggil ku. Tapi lama kelamaan lenyap. Aku mengangkat kepala ku kembali, ku  melihat sekeliling. Tak adaSandydi sini. Panggilan itu memang dariSandy. Di mana dia? Tanpa sadar kaki ku membawa ku menuruni tangga gedung itu. Ku lihat banyak orang mengerumuni sesuatu. Aku pun berlari dan masuk ke dalam kerumunan itu.

Ku lihatSandytergeletak di tanah, sambil merasakan sakit yang luar biasa. Darah menegalir di kepala, dan seluruh wajahnya. Lalu ku dekati dia, kepala Sandy ku letakkandi pangkuan  ku. Darah mengalir ke rok putih ku. Ku menangis terisak-isak. Perlahan, tanganSandymengusap pipiku.

Jangan menangis, sayang. Akukanmembawa cinta ku ini disana. Selamat jumpa lagi. Kukanmenunggumu. Semoga saja saat ku bertemu dengan mu, kau dapat mencintai ku. Terima kasih Ra, kau sudah mau menjadi mimpi Indah ku selama ini. Selamat tinggal Ra. I love you forever.” Kata Sandy. Kemudian ia mengucapkan kalimat syahadat. Tangisku tak henti juga. Sandy pun mengejapkan matanya untuk selama-lamanya.

“Innalillahi wa’innailaihi roji’un.”

Selamat jalanSandy. Semoga amal dan ibadah mu, di terima di sisi-Nya. Amin . . . .

.

~ ~ ~  SELESAI  ~ ~ ~

CERPEN BY

هِمَّةُ الْعُلْيَ

 HIMMATUL ULYA

One thought on “CITAKU KARNA PRESTASI

  1. Ping-balik: IMAM HANAFI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s