HANAFI part 1 (Sebuah Permulaan)


SEBUAH PERMULAAN

Tirai-tirai bambu sepanjang bibir sungai dan kicauan burung-burung emprit menemani mereka bermain air. Mentari nampak malu-malu mengintip di balik celah-celah bambu. Angin sepoi menambah suasana makan asyik. Mereka adalah Brahma, Putera dan si kembar Irwan dan Irvan. Tak hanya itu, kerikil kerikil sungai dan juga pasir-pasir yang masih lembut menambah suasana indahnya bermain air.
Irwan dan irvan sedang berenang dan bermain air di sebelah utara, sementara Putra bermain tanah padas untuk dibuat mainan. Sedangkan Brahma terus berenang ke arah selatan, seolah-olah ia melihat sesuatu. Ia terus berenang ke arah selatan, ia melihat sebuah batu yang bercahaya dan berwarna biru dari dalam air.
“Ma, Brahma kamu mau kemana?” teriak Putra.
“Ya ma, jangan kesitu disana gawat.” Juga Irwan.
“Ya ma, kata ayahku di sana banyak penunggunya.” Teriak Irvan pula.
Brahma terus berenang ke arah selatan menjauhi temannya. Bahkan ia tidak mendengar teriakan teman-temannya itu. Melihat keadaan Brahma yang sudah aneh, Putra mengambil tanah padas yang ada di tangan kanannya dan dilemparkan tanah itu ke arah Brahma. Hampir saja kena tangan Brahma, tapi meleset. Tanah itu jatuh disebelah depan tepatnya di sebelah kiri tangan Brahma. Tanah itu jatuh di depan ranting pohon bambu yang berduri dan tak terurus. Airnya pun menciprati wajah Brahma. Dan akhirnya, Brahma pun menengok ke belakang.
“Ma, jangan kesitu. Ayo pulang.” Teriak Putra.
“Heh, kalian gak lihat apa?” teriak Brahma sambil menunjuk ke suatu tempat.
“Lihat apa ae?”
“Ya lihat apa?”
“Masak kalian gak lihat? Itu di sana dari dalam air ada sebuah batu yang bercahaya dan berwarna biru. Masak kalian gak lihat? Aku melihatnya dengan jelas sekali.” Jelas Brahma sambil tetap menunjuk ke suatu tempat.
“Mana, mana Ma?”
“Ih Brahma mulai menghayal ni.”
“Wah ya bahaya ini, jangan menghayal lagi ah ma. Mana? aku tidak melihatnya kok. Ayo kesini jangan kesitu.”
“Masak aku bohong sama kalian. Ke sini ah!” ngotot Brahma dan ia ingin membuktikan bahwa ia melihat benda itu.
Mereka pun melangkah menuju arah tempat Brahma berada. Yaitu di tempat dekat dengan kumpulan sampah dari ranting-anting pohon bambu yang berduri dan tak terurus. Mereka mendekati Brahma. Dan Brahma menunjukkan tempat benda itu berada yaitu di bawah pohon garsem1.
“Eh, coba lihat ah!” perintah Brahma sambil menunjuk ke suatu tempat di dekat pohon garsem.
“Mana ? mana ae ma?”
“Ya ae, mana ma?”
1 Semacam pohon yang buahnya mirip denan buah cery.
“Itu ow di sana, di dekat pohon bambu, tepatnya di bawah pohon garsem. Kalian gak lihat? Aku masih melihatnya dengan jelas ni.”
“Mana ae ma? Gak ada nok.” Tanya Irwan.
“Ya, gak ada nok. Wah Brahma mulai menghayal ni.” Sahut Irvan sambil terus menengok ke arah yang di tunjukkan oleh Brahma.
“Ndak, aku ndak menghayal. Aku sekarang aja masih melihatnya dengan jelas.” Brahma ngotot bahwa ia melihat benda itu.
“Wis-wis, wisto. Ma, ayo pulang hari sudah mendung tu. Lagian aku juga sudah kedinginan.” Bujuk Putra sambil menepuk-nepuk bahu Brahma.
“Ya ma, ayo kita pulang. Mendungnya makin gelap ni. Dan lagi, hem . . . . lihat ah. Bulu kuduk ku mulai merinding ni.” Kata irvan sambil menunjukkan tangannya.
“Ya ma, Irvan benar. Aku juga mulai merinding. Apalagi ditambah kedinginan. Dan lagi aku kini sudah mulai takut ni. Coba dengar suara burung-burung gagak itu. Aku takut ma. Ayo ma pulang.” Ajak Irwan dengan melas yang sudah bermuka kusam dan putih sayu karena pucat kedinginan dan mungkin karena di tambah ketakutan yang menimpanya.
“Ayo ah ma pulang. Gak kasihan tu ama teman-teman mu.” Bujuk putra lagi.
“Cet . . . yakin ow, aku melihatnya. Aku gak bohong ama kalian. Ya udah kalau kalian menginginkan begitu. Aneh ya? Tadi pagi kita ke sini ak langitnya masih cerah ae? Langit masih biru, burung-burung emprit masih berkicauan dan angin sepoi masih menghembus merdu. Tapi sekarang? Tiba-tiba kok mendung datang dengan gelap sekali, suara burung emprit telah diganti dengan suara burung gagak. Apalagi ditambah angin yang mulai kencang dan tak beraturan.
Benar-benar aneh. Dan yang paling aneh, aku melihat benda itu sangat jelas sekali, tapi tak satupun dari kalian yang melihatnya. Yakin ow aneh banget. Aku baru merasakan keanehan seperti ini.” Gerutu Brahma.
“Wis to ma, ayo pulang.” bujuk Putra.
“Ya ma, ayo kita pulang saja. Mendungnya semakin gelap ni.” Sahut mereka berdua.
“Ya udah ayo kita pulang. Lagian aku juga sudah lapar ni, he . . . “ akhirnya hatinya Brahma pun terketuk oleh perkataan temannya, walaupun sebenarnya ia masih penasaraan akan batu itu.
“Eh, kalian lapar? Ayo ah ke rumah ku. Tadi pagi ibu ku masak uenaaaaak bangeeets.” Tawar putra pada teman-temannya untuk makan di rumahnya.
“Yakin? emang masak apa ae?” tanya Irwan.
“Wis to, ntar ak ngerti dewe no. 2 Yo ah,3 ke rumah ku. Mau gak?”
“Ayo . . . ayo . . . . ayo . . . .” teriak mereka semangat.
Mereka pun menuju ke rumah Putra. Di tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya. Deras dan semakin deras sekali. Sekarang langit sudah sangat kelam. Bumi telah tertutupi oleh mendung yang sangat gelap. Tak ada celah yang bisa dimasuki sinar matahari. Bahkan guruh bersahut-sahutan seakan-akan sedang bercakap-cakap. Kilatan petir yang sesekali, menambah suasana semakin menjadi. Kilatan petir kebanyakan dari arah timur. Dengan kilatan yang sangat terang, hingga menyilaukan mata. Tak hanya itu, kilatan petir itu diikuti oleh guruh yang menggemparkan telinga.
2 Udah lah, nanti kamu akan tahu sendiri.
3 Ayo ah.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Putra. Rumahnya Putra adalah rumah joglo jawa dengan empat tiang penyangga utama yang ada di tengah. Mereka memakai baju Putra untuk sementara. Dan kemudian menuju ruang makan yang terletak berdekatan dengan ruang dapur di rumah bagian belakang. Dan benar masakan ibunya Putra sangat disukai oleh mereka. Mereka dihidangi oleh soto ayam jawa. Apalagi dengan ayam jawa asli dan perasan jeruk nipis yang menambah nikmat makan siang waktu itu.
“Em . . . . masakan ibu mu enak sekali Put.” Puji Brahma.
“Ya put, masakan ibu mu ueeeenaaake mboh.” Sahut Irwan dengan mantap sambil terus makan dengan pulukan4 tangannya.
“Ih kamu wan, lebay baget sih lho. Gak usah lebay kayak kitu napa ae? Biasa aja kali.” Sindir Irvan sinis.
“Ih kamu juga nok van. Sebelum ngomongin orang tu lihat dulu dirimu, sudah benar atau tidak. Jangan asal ceplos” sinis Irwan juga.
“Kalian berdua ini jangan beretangkar terus. Dikit-dikit bertengkat, dikit-dikit cekcok. Gak pegel piye ngunuku terus?5 Apalagi kalian tu satu saudara, sesama orang tua, satu spesies, satu keturunan dan sedarah kandung. Bahkan kadang kalian pun menggunakan baju yang sama corak dan motifnya. Seharusnya kalian berdua itu akur. Bukan terus bertengkar dan terus cekcok kayak gini.” Brahma menasehati mereka karena bosan melihat mereka akan suatu hal yang kecil pasti cekcok. Mereka merupakan anak kembar yang tak pernah akur. Pasti ada selalu cekcok dan pertengkaran diantara mereka. Walaupun masalahnya itu hanya kecil. Tapi jika tidak ada cekcok diantara mereka, grup mereka tidak seru. Karena mereka berdua yang membikin suasana semakin heboh.
4 Makan dengan tangan.
5 Apa kalian gak lelah selalu begitu?
“Berarti ak kalau jarang-jarang boleh dong?” tanya Irwan.
“Hay boleh gimana? Karepmu piro?” sahut saudaranya Irvan yang menghentikan makan sejenak.
“Wis-wis6, mulai lagi? baru di nasehatin sudah mulai lagi. Maksudku bukan gitu. Maksudku seharusnya kalian itu akur, bukan selalu bertengkar. Seharusnya kalian itu bersatu, satukan kekuatan, satukan pikiran jadilah satu kesatuan. Bukan terus bertengkar begini.” Perjelas Brahma.
“Kalau begitu, berarti kami ini Indonesia Raya dong?” tanya Irwan diplomatis.
“Lho kuwe karep mu piro?7 kok malah tekan Indonesia Raya?8 Hay? Karepmu piro?9” sahut saudaranya lagi dengan nada cetus.
“Lha kata Brahma kita harus bersatu menjadi satu kesatuan? Berarti kita harus menjadi Indonesia raya. Seperti BINEKA TUNGGALA EKA yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Ya to Bram?” perjelas Irwan dengan santai sambil terus menikmati makanannya.
“Wis-wis, tu kan dalam lingkup kenegaraaan, lha kalau dalah lingkup kita ya kalian berdua itu. Sebenarnya kalian itu sama tapi beda, tetapi kalian tu harus tetap bersatu dalam satu kesatuan jangan ada perpecahan. Dan juga maksudku tu kalian berdua kan bersaudara, seharusnnya kalian berdua itu saling menyayangi, saling akur. Bukan saling cekcok seperti ini. Kalian itu harus bersatu, tidak saling bertengkar. Gak kasihan ama orang tuamu yang udah pegel ngandani
6 Udah-udah,
7 Lho, maksudmu berapa?
8 Kok bisa-bisanya sampai indonesia raya.
9 Maksudmu berapa?
kalian untuk akur?10 Kasihan tu mereka. Lha wong aku aja pegel oug,11 apalagi mereka? Gitu. Ya to put?”
“Njih mbah Brahmo Satrio putro, Rojo Buto kang gegirisi. Ha . . . “ ejek si kembar serentak. Setiap kali dinasehatin Brahma pasti mereka malah mengejek Brahma. Dasar Si Kembar Aneh. Kalau ada masalah di antara mereka aja mereka bertengkar. Tapi kalau soal ejek megejek, mereka kompak sekali. Sungguh aneh.
“Wis-wis, makan dulu kalau ngobrolnya nanti. Gak elok12 makan sambil bicara. Wis-wis makan dulu. Habiskan makananya dulu tu baru ngobrol.” Jawab Putra tenangkan keadaan. Yang pada waktu itu membawa nampan yang berisi teh hangat.
Hujan makin turun dengan deras. tapi suasana di rumah putra malah tambah menyegarkan. Apalagi di tambah oleh guyonan-guyonan konyol dan juga tingkah laku Si Kembar yang aneh, suasana pun tambah asyik. Suasana kekeluargaan terlukis jelas dalam acara siang itu. Mereka saling ketawa, cerita dan bercanda di rumah Putra. Walaupun suasana hujan di luar makin deras, tapi suasana hujan itu tidak menyurutkan suasana kekeluargaan di rumah Putra.
Air tetap menetes dari langit dengan ukuran yang sama. Angin-angin tetap meniup pepohonan walaupun tidak beraturan. Suara guruh dan kilatan petir masih membubuhi langit desa Ringin itu. Adzan dhuhur pun tiba. Walaupun langit masih tampak gelap dan kilat masih terlihat sesekali, tapi kini air yang turun dari langit yang sangat gelap itu sudah mendingan. Debit air yang turun dari langit sudah menurun. Dan mereka, Brahma, Putra dan si kembar Irwan dan Irvan berlarian menuju Masjid An Nur untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.
10 Gak kasihan ama orang tuamu yang udah lelah memberi tahu kalian untuk akur?
11 Lha, aku aja lelah,
12 Gak sopan.
Dalam keadaan cuaca yang masih mendung dan hujan lebat itu, sholat dhuhur masih tetap ditegakkan. Irwan dan Irvan menyanyikan lagu sholawat, dan biasa pasti mereka rebutan microphon. Sementara Brahma kemudian mengkomati. Dan sholat dhuhur pun akhirnya ditegakkan. Sholat dhuhur di imami oleh Mbah Jarwo.
Seselai sholat dhuhur mereka tiduran di dalam masjid. Mungkin karena kelelahan berenang di sungai tadi pagi. Dan juga karena cuaca yang sejuk, sehingga lebih nikmat digunakan untuk tidur. Hanya Brahma yang tidak bisa tidur. Dia terus terpikirkan oleh batu yang ada di sungai tadi pagi. Hatinya terus bertanya-tanya tentang batu itu. Dan teman-temannya tidur pulas dan nyenyak sekali, tetapi ia mengusahakan untukk tidur tapi tidak bisa. Ia tidak bisa tidur.
Kemudian Mbah Jarwo menghampiri Brahma yang nampak resah itu. Mbah Jarwo duduk di depan Brahma. Dan brahma pun bangun dari tidurannya. Ia berbicara dan berbincang dengan Mbah Jarwo.
“Ma, da apa kok kelihatannya resah kayak gitu?” Taanya Mbah Jarwo duluan mengawali perbincangan. Dan kemudian Mbah Jarwo duduk di depannya.
“Gak papa mbah , gak ada apa-apa.” jawab Brahma gamang karena jika di jawab dengan jujur, takut kalau malahan ia dikira menghayal.
“Wis to, cerita aja sama Mbah. Gak papa kok. Silahkan cerita kalau kamu mau cerita. Insya Allah jika Mbah bisa bantu kamu, maka aku akan bantu.” Ucap Mbah Jarwo tenangkan Brahma yang agak ragu-ragu untuk mengungkapkan rasanya.
“Gini lho mbah, tadi pagi aku tu melihat batu yang menyala berwarna biru di sungai. Tapi anehnya, tak ada satupun dari temanku yang melihat benda itu. Padahal aku itu dapat melihatnya dengan jelas sekali. Bahkan sengat jelas. Yakin
o mbah aku nggak bohong. Mbah tahu itu batu apa?” Brahma menceritakan apa yang terjadi tadi pagi di sungai.
“Kamu termasuk orang pilihan ma.” Jawab Mbah Jarwo sambil tersenyum dan melihat lekat-lekat mata Brahma.
“Lho kok orang pilihan? Maksudnya mbah?” tanya Brahma penasaran.
“Kamu masih ingat Almarhum Mbah mu? Mbah Said? Tahu?”
“Ya mbah, emang kenapa?” tanya Brahma yang tambah penasaran karena menyengkutkan Almarhum Kakeknya.
“Ia adalah sahabatku dari kecil. Kami sangat dekat sekali sewaktu kecil. Ia adalah termasuk orang-orang yang terpilih. Ia dulu menemukan sebuah dunia yang bernama negeri HANAFI. Dulunya aku juga nggak percaya dengan negeri tersebut. Tapi Mbah mu mengajakku kesana. Dan dunia itu benar-benar nyata.”
“Bagamana keadaan negeri itu mbah?”
“Yang pasti tidak seperti dunia ini. Negeri itu sangatlah indah. Dengan langit yang berwarna merah, jingga, biru hijau bahkan ungu dan dengan gradiasi-gradiasi warna yang mengagumkan. Bintang-bintang sangat berdekatan bahkan kelihatan sangat besar dan sangat indah. Dan dengan mentari yang sinarnya masih jingga dan masih muda. Mentari di sana tidak sepanas mentari di sini. Mentarinya sangat indah sekali. Seakan-akan mentari itu berbicara dan meyakinkan tumbuhan serta penduduk yang ada di sana bahwa ia tidak akan menyakiti mereka dengan teriknya.”
“Terus apa lagi mbah?”
“Kamu pernah dengar tentang naga merah delima yang sangat kuat, harimau jawa yang sudah punah, kuda yang punya sayap dan hewan hijau atau yang biasa kita kenal dengan permata katulistiwa?”
“Ya mbah, apakah mereka ada di sana?”
“Ya, banyak dari hewan-hewan langka ada di sana. Bahkan banyak dari hewan-hewan yang di ceritakan di kisah-kisah kuno juga ada di sana. Hewan itu benar ada nya dan tidak hanya sebuah legenda.” Perjelas Mbah Jarwo kepada Brahma.
“Terus bagaimana cara untuk kesana mbah?”
“Cara untuk kesana tidak lah mudah. Banyak halang rintang dan cobaan yang harus kau hadapi. Dan juga butuh sebuah keberanian seorang kesatria. Jadi jika kau mau ke sana kau harus persiapkan dirimu dengan sebaik-baiknya. Dan yang paling penting kamu harus menemukan empat potongan yang berbeda yang memiliki bentuk sama dengan komposisi yang berbeda tapi dari dasar yang mirip, dengan rupa yang mirip tapi dengan bahan yang berbeda dan dari penglihatan yang berbeda. Dan negeri itu terletak pada peta langit dengan ada pohon yang berwana biru perak menjulang ke suatu tempat. Di mana di tempat yang tersembunyi, di sanalah tempatnya. Ingat Itu baik-baik. Udah dulu ya ma, aku tak pulang. Assalamu’alaikum?” Mbah Jarwo pun meninggalkan masjid itu.
“Ya mbah, wa’alaikum salam warohmatullah.”
Gemericik air masih terus turun dari langit. Mendung masih menyelimuti desa Ringin itu. Teman-teman Brahma masih tidur dengan polos dan nyenyaknya. Brahma masih belum bisa tidur, karena terus memikirkan omongan yang di ucapkan Mbah Jarwo tadi. Tapi karena lelah memikir, akhirnya ia pun tertidur juga.
Dalam tidur Brahma bermimpi dibisiki oleh seseorang yang tidak di kenal dan ada suara tetapi tanpa wujud. Dalam mimpinya, ia berada pada suatu hamparan yang gelap dengan langit berwarna biru ke gradiasi hitam yang ada pada pojok-pojok langit itu. Suara seseorang misterius menggelegar agak keras.
Dia bilang “Hay anakku, engkau adalah sebuah harapan. Kami telah menunggu-nunggu kedatanganmu. Kami telah menanti akan dirimu. Maka selamatkanlah kami.” Suara itu pun hilang sesaat. Dan Brahma bangun dari tidurnya.
Ia tidak mengerti apa yang di maksud oleh suara misterius di dalam mimpinya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya ”Mengapa aku di tunggu-tunggu untuk menyelamatkan mereka? Menyelamatkan dari apa?”. Kemudian Brahma ingat tentang batu yang ada di sungai pagi tadi. Ia pun langsung lari menuju ke sungai tanpa sepengetahuan dari teman-temannya, karena teman-temannya masih terlelap dalam tidurnya.
Dengan cepat Brahma sudah sampai di sungai. Keadaan di sungai sudah berubah. Dari air yang semula jernih, kini telah mulai keruh. Debit air yang mengalirpun sudah semakin tinggi. Arus sungai mulai tambah deras. apalagi dengan angin yang menerpa pohon-pohon bambu dengan tak beraturan menambah suasana semakin menegangkan.
Walaupun begitu Brahma tetap nekat untuk berenang. Ia langsung menjeburkan badannya ke dalam sungai tanpa mempertimbangkan arus yang pada waktu itu sangatlah deras. ia berenang sempuyungan menuju pohon garsem. Ia belum melihat batu yang ia temukan pagi tadi. Tapi sayang, gulungan air besar dengan arus yang kuat menggulung ia terus ke bawah menjauhi pohon Garsem. Ia terus berenang ke atas untuk menyelamatkan dirinya. Ia terus mengeluarkan tenaga untuk terus berenang ke atas. Tapi arus terlalu besar dan ia tetap tergulung-gulung ke bawah.
Untungnya, ada akar pohon ringin yang berada di pinggir sungai menjorok ke bawah. Ia raih akar itu dengan sengkuyungan. Tapi akhirnya ia bisa walaupun dengan susah payah. Sekarang tubuhnya di tamping oleh akar dari pohon ringin itu. Ia sangat lah lemas bahkan lemas sekali. Tubuhnya semakin pucat dan badannya kedinginan. Ia tetap berenang menuju keatas. Kemudian ia meraih
sebuah ranting pohon bambu yang menjorok ke sungai. Kurang dari tiga meter dari pohon garsem, angin kencang menghempas pohon itu. Dan Brahma kembali terperosok ke bawah lagi.
Ia sangat lemas sekali, tenaganya hampir habis. Dan ia tergeletak di tepi sungai. Kemudian ia punya ide. Brahma mengambil pelepah pohon pisang dan di jadikannya tali sepanjang hampir sepuluh meteran. Di ujung tali ditaruh pemberat berupa ranting pohon mangga. Dilemparkan ujung tali yang ada pemberatnya tadi ke ranting-ranting bambu yang ada di dekat pohon garsem. Dan akhirnya berhasil, pemberat tadi menyangkut pada ranting-ranting bambu. Ia pun menuju pohon garsem dengan susah payah. Ia terus menarik tubuhnya dengan tali dan terus meelawan arus air sungai yang sangat besar itu. Kembali ada gulungan ombak menerpanya, tapi ia masih dapat bertahan.
Akhirnya ia sampai dekat dengan pohon garsem. Ia mulai melihat dengan jelas batu yang menyala dan berwarna biru. Batu itu ada di dalam akar pohon dan dijaga oleh hewan yang nampak asing bagi Brahma. Hewan itu berwarna hitam denagan empat taring yang siap mencabik-cabik tubuh dan dengan mata hitam yang semakin membuatnya nampak seram. Kemudian ia ingat cerita Mbah nya tentang hewan ini. Hewan itu adalah Sita. Sita adalah penjaga batu itu.
Sita kelihatan marah melihat kedatangan Brahma yang tanpa diundang. Ia terus menggeram-geram dan menyembunyikan batu itu dengan cara di erami. Brahma ingin mengambil batu itu dalam eraman Sita. Tapi sita kayaknya semakin marah. Ia menyerang Brahma. Untungnya Brahma cekatan dan ia langsung naik ke atas pohon garsem.
“Maaf sita, bukan bermaksud aku mengganggumu. Aku tidak bermaksud mengganggumu.”
“Kwik . . . . .” geram sita. Sita terus mondar-mandir di bawah pohon garsem menunggu Brahma turun. Ia begitu kelihatan sangat marah. Empat gigi
taringnya terus ia tunjukkan kepada Brahma. Matanya terus memelototi Brahma. Dan Brahma belum berani turun, karena takut dicabik-cabik oleh Sita. Kemudian ia ingat oleh cerita Mbahnya yaitu Mbah Said bahwa Sita itu bisa di taklukkan dengan buah Burma. Buah burma adalah semacam buah hampir mirip seperti buah jagung tapi berwarna merah.
Dengan terengah-engah Brahma melihat kanan kiri tapi belum menemukan buah burma tersebut. Kemudian ia tertuju pada semak-semak yang penuh dengan duri. Disana ia melihat sebuah buah burma yang berwarna merah. Tapi jarak ia kesana sangaatlah jauh. Buah tersebut berada di pojok timur, di bawah pohon bambu yang banyak ranting yang berduri. Ia melihat tanting pohon garsem yang menjulang ke sana. Tapi dia masih pikir-pikir untuk terjun dengan ranting itu. Karena raning itu kelihatan terlalu kecil dan rapuh.
Keaadan terus mendesak Brahma untuk segera bertindak. Apalagi Sita sudah mulai meloncat-loncat ke atas pohon Garsem. Akhirnya ia memutuskan untuk terjun menggunakan ranting yang rapuh itu. Brahma pun terjun, di tengah terjunnya rantingnya patah dan ia terjatuh tersungkur. Tubuhya lemas, ia sulit menggerakkan tubuhnya, karena tubuhnya seperti telah rapuh dan tulangnya telah remuk. Selain itu ia juga sudah kelelahan kareana berenang menghadapi derasnya air tadi. Di sisi lain, Sita mengejarnya dari arah utara. Ia mencoba bangun tapi sangat sulit. Sita mulai menerkam dirinya. Tapi untungnya di sebelah tangn kirinya Brahma terdapat ranting pohon. Ranting pohon itu ia gunakan untuk memukul Sita. Sita pun jatuh tersungkur.
Sementara Sita sedang jatuh dan mencoba bangun, Brahma terus berusaha untuk bangun dan mengambil buah Burma. Tapi, ranting-ranting berduri menghalanginya untuk mengambil buah itu. Tanpa pikir panjang ia menyingkirkan ranting yang berduri itu tanpa memperdulikan tubuhnya yang berlumuran darah. Ia terdesak keadaan karena Sita terus mengejarnya dari
belakang. Dan akhirnya Brahma mendapatkan Buah Burma itu. Buah Burma itu ia lemparkan sejauh-jauhnya, sehingga sita lari untuk mengejar buah itu.
Setelah sita lari mengejar buah itu, ia pun menuju pohon garsem untuk mengambil batu tadi. Batu tadi masih berada di dalam akar pohon garsem. Tubuh Brahma sangat lemas. Ia merasa sudah kekurangan darah. Ia pun terjatuh lagi. Tapi ia tetap mencoba menuju akar pohon garsem. Ia menuju ke sena dengan cara mengesot, karena ia sudah tidak mampu untuk berdiri lagi. Dan akirnya Brahma mendapatkan batu itu. Batu itu sekarang sudah ada pada tangan Brahma.
Langit pun mulai cerah seketika. Hujan mulai reda. Arus air mulai tenang kembali. Angin kini mulai berhembus beraturan. Mentari mulai muncul di balik awan-awan hitan yang mulai luntur. Dan yang terpenting luka yang ada di sekujur tubuh Brahma hilang seketika dan Brahma kembali segar lagi. Selain itu terdapat pelangi kembar yang berada di langit yang sekarang biru. Pelangi itu seperti saudara kembar yang saling menyayangi dengan membentuk gradiasi warna yang menakjubkan. Sungguh keajaiban yang luar biasa.
Penduduk desa Ringin mulai keluar dari rumah mereka. Warga pada tidak mengerti apa yang terjadi seharian ini. Mulai dari pagi yang cerah kemudian muncul mendung yang sangat gelap seketika. Dan sekarang mulai dari mendung yang sangat gelap menjadi langit yang sangat cerah dengan waktu yang sangat singkat. Apalagi ditambah dengan pelangi kembar yang menakjubkan.
Teman-teman Brahma yang tiduran di masjid tadi sudah mulai bangun. Mereka dihadapkan takjub oleh keadaan langit sekarang. Diantaranya yang paling kagum yaitu si kembar Irwan dan Irvan.
“Wah bagus sekali ya pelanginya?” Irwan kagum akan perubahan cuaca yang terjadi dan takjub melihat indahnya pelangi kembar.
“Ya wan, coba kita bisa seperti pelangi kembar itu. Mereka kembar tapi mereka bersatu dan menjadi satu kesatuan. Mereka membentuk gradiasi warna yang menakjubkan yang tidak bisa dibuat oleh pelangi lain.” Sahut saudaranya Irvan.
“Wah ya ae, emang benar omongannya Brahma. Jika kita bersatu maka kita akan menjadi lebih baik.”
“Eh bro, Brahma mana?” tanya Putra yang kemudian mengalihkan perhatian Si kembar.
“Ha . . . . Brahma? Brahma gak ada?” Si kembar balik nanya dengan serentak.
“Ya Brahma mana?”
“Aku gak tahu ae.”
“Ya aku juga gak tahu.”
“Atau menungkin? Pasti berada di sungai!!” jawab mereka bertiga besamaan.
Mereka pun mulai lari kearah sungai dengan segera. Mereka tidak memperdulikan pertanyaan warga saat itu. Saat itu warga tengah berada di luar rumah untuk melihat indah nya langit dan indahnya pelangi. Mereka tetap lari menuju sungai. Dan sesampainya di sungai mereka melihat Brahma berada di seberang sungai tepatnya di bawah pohon garsem dengan membawa potongan batu yang bercahaya Biru dengan terang.
“Ma, lagi ngapain? Apaan itu?” tanya teman-temannya.
“Inilah batu yang aku ceritakan. Sungguh sulit aku mendapatkannya. Dan batu ini yang membuat cuaca seperti ini.”
“Apa?”
“Ya, batu ini adalah batu yang aku ceritakan tadi pagi. Dan cuaca yang berubah seketika tadi pagi maupun barusan adalah karena batu ini. Batu ini yang memanggil saya untuk menjemputnya. Percaya atau tidak ini adalah fakta.”
“Kok bisa?” gerutu Irwan.
“Ceritanya panjang, aku ceritain nanti saja. Mari kita pulang.”
Putra, Irwan dan Irvan tak percaya akan hari ini. Mereka terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada hari ini. Dan juga tentang batu yang dibawa oleh Brahma. Batu itu sangat menarik dan sangat cantik. Batu itu sesekali bisa mengeluarkan cahaya biru keunguan. Dan mereka pulang kerumah masing-masing karena hari sudah mulai sore. Batu itu dibungkus kaos oleh Brahma agar orang-orang tidak tahu akan batu itu. Hari itu merupakan hari yang sangat aneh bagi Brahma serta teman-temannya dan juga dirasakan oleh warga desa Ringin.
Sesampai di perkampungan, Brahma langsung di temui oleh Mbah Jarwo. Mbah Jarwo Bilang “Ma, ini baru permulaan. Masih banyak tantangan yang harus kau hadapi. Siapkan dirimu baik-baik. Jangan kau sia-siakan waktumu.” Brahma hanya bisa mengangguk saja. Ia masih belum mengerti maksud dari ucapan Mbah Jarwo.
* * * * * *
Nantikan keseruan kisah selanjutnya.
Bagaimana brahma menuju negeri hanafi?
Bagamana pemecahan rahasia untuk mencapai negeri hanafi?
Tetap nantikan sesi selanjutnya
BIODATA PENULIS
Nama : Imam Hanafi
Tempat ltg, lahir : Blora, 6 April 1995
Riwayat sekolah :
– Tk Pertiwi Sarimulyo
– SD Ngawen 4
– SMP 1 Ngawen
– SMA 1 Blora
– Madrasah Diniah Nurul Huda Sarimulyo
E-mail :
– Imam.imamhanafi@gmail.com
– Imamhanafi13@yahoo.co.id
– imamhanafi@ovi.com
facebook : http://www.facebook.com/imamhanafo
Web Site : http://www.imamhanafo.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s