Magnet-magnet (tanda tanya) ???


Mungkin hanya sebuah cerita yang tak terungkap semua orang. Itulah kata-kata ku ketika aku telah sedikit kecewa yang diaduk dengan rasa malu dan dicampur dengan sebuah motivasi besar. Kenapa? Coba dengarkan baik-baik cerita ku ini. Mungkin anda akan mendengarkan dengan perasaan bahwa cerita ini adalah cerita jenaka, relijius bahkan cerita yang mengharukan. Tapi inilah sebuah cerita dan inilah sebuah rasa.
Pohon-pohon melandai mengikuti arus angin. Siang yang nampak indah itu, tidak bagi ku. Kenapa? Karena sebuah kejadian memalukan dan menggetarkan hati yang tiba-tiba tertanam begitu dalam. Yaitu Ana, ia adalah seorang gadis anggun dengan penampilan memakai jilbab yang nampak serasi dengan wajahnya. Kata teman-teman ia adalah seorang yang pandai. Pandai dalam bidang apa? Ya dalam bidang segala hal. Termasuk juga agamanya, yang ilmunya sudah melebihi dari ilmu agama teman sebayanya.

Ya emang, ia adalah putri dari seorang kyai. Apa? Kyai? Ya kyai, kyai dari Desa Sendang Kulon. Maklum ia hebat, lha dari keluarga yang memiliki benih yang hebat juga. Dulu aku mengenal nya dari teman ku. Ia beda SMP dengan ku. Karna aku berada di SMP Satu Nusa, sementara dia berada di SMP Tunas Praja. Aku mulai mengenalnya ya mulai masuk SMA. Tepatnya di SMA yang terkenal fovorit di daerahku yaitu di SMA 1 Blora.
Ceritanya gini, waktu itu sedang berlangsung ujian masuk SMA ini. Jam di hp ku masih menunjukkan pukul 06.38. Ya, aku masuk ke SMA ini lebih awal, biasa, semangat pada hal yang baru itu masih tinggi. Begitupun semangatku untuk harus masuk SMA ini. Apalagi waktu itu aku melihat seorang gadis yang duduk di depan kelas tempat tes, ia sedang membaca buku dengan santainya.

Entah mengapa seolah-olah hati ku ini ada magnet untuk terus mamandangnya. Aku terus memandanginya sambil tetap berjalan menuju ruang test ku bersama Rifki yang baru aku kenal pada saat kenalan di gerbang SMA tadi. Aku tetap berjalan dan tetap melihatnya walaupun ia tidak tahu ada yang memandang dan menaruh simpati padanya. Tiba-tiba? “Set . . . . Buk . .. . gludek . ..” aku jatuh. Aku berjalan yang ternyata di depanku terdapat lubang parit. Semua orang pun melihat kearahku. Tak hanya melihat ke arahku, tapi banyak dari mereka melihatku dengan tertawa terbahak-bahak.

“Waduh kok bisa gini sih” gumamku dalam hati yang penuh dengan rasa malu.
“Tif latif, kamu itu ngapain kok bisa terjatuh gitu ha?” Tanya Rifki sembari tertawa bercampur rasa prihatin ketika melihat aku terjatuh. “Gak ada apa-apa kok mungkin tadi ada wali lewat” jawabku diplomatis. “Wali lewat? Aneh kamu tif. Masak ada wali yang menjatuhkan mu. Yang aku tahu sih wali itu bertugas dan memberi kebaikan. Yang aku tahu itu Cuma wali songo he . . .” Bilang Rifky yang agak mengejekku. “Lha wali band ndak kamu hitung?” jawabku meladeni ocehannya dengan bercanda dan terus menuju ke ruang tes. Rifky berada di ruang 12 sementara aku berada di ruang 13. Jadi kami saatu arah. Makanya kami berjalan menuju ruang kami bareng.

Ketika aku menengok ke Ana yang berada di ruang 9, ia hanya tersenyum melihatku terjatuh. Padalah teman-teman yang ada di sekitarnya tertawa terbahak-bahak. Tapi, ia hanya tersenyum anggun kemudian membaca buku lagi. Waduh sungguh hebat wanita itu. Ia tidak begitu senang ketika melihat orang lain sedang kesusahan.

Rasa tak wajar menghampiri hati ini. “Ingat latif, kamu akan menghadapi tes. Kamu harus menyelesaikan tes ini dulu, baru yang lain.” Sebuah suara membangunkan ku dari melamun yang menggugah rasa di hati. Tapi aku tak tahu siapa yang mengatakannya. Mungkin malaikat atau wali yang menjatuhkan ku tadi dan mencoba mengembalikan konsentrasiku. Tapi bukan wali band lho? Sungguh besar karunia Allah yang telah mengingatkan aku dari keterpurukan.

Sunyi dari sebuah suara. Itulah keadaan waktu tes itu. Tes berjalan dengan khitmat, lebih khitmat dari pada uparaca bendera setiap hari senin. Hingga burung-burung kecil yang berkicau pun ikut terdengar. Mereka semua mengerjakan soal dengan serius, begitupun dengan aku. Mungkin mereka tidak bicara karena keterbatasan waktu yang diberikan ditambah lagi dengan sulitnya soal yang dikerjakan. Bayangkan soal yang berjumlah sekitar 120 hanya diberi waktu 90 menit untuk mengerjakannya.

Tapi aku tetap berjuang menuju yang terbaik. Aku kerjakan soal itu dengan sungguh-sunggguh. Tiba-tiba, ditengah jalan cerita mengerjakan soal, aku teringat dengan kejadian tadi pagi. Rasa yang penuh malu yang sedikit ditaburi rasa yang dipertanyakan menghinggapi pikiran yang lengahkan konsentrasi ini.

Entah mengapa dan kenapa. Sulit sekali rasanya melepas rasa itu. Rasa itu bagaikan perpaduan antara magnet kutup utara dan kutup selatan yang mempunyai medan magnet yang sangat kuat sehingaa sulit untuk di lepas. Tapi aku ingin segera melepas rasa itu dengan terus mengerjakan soal. Tapi cara ini tidak mempan. Kemudian aku berdoa kepada Allah dan terus beristighfar. Dan Alhamdulillah rasa itu sudah hilang tanpa kusadari.
Hari-hari setelah tes masuk SMA telah berlalu. Guncangan batin sedang menggempa dalam naungan hati yang tengah bermedan cinta. Entah apa yang sedang aku rasakan. Sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sebuah rasa yang sulit diuraikan. Begitu rumit sekali bagiku.
Dalam benak ku, sesungguhnya aku bingung sendiri dengan rasa ini. Orang bilang cinta pada pandangan pertama itu hanya bertahan sebentar karena tidak dibarengi dengan penyatuan hati si pemilik cinta. Tapi mungkinkah aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama? Sungguh tak bisa aku bayangkan akan bisa seperti ini.

Akhirnya aku pun masuk dan diterima di SMA 1 Blora. Pertama masuk ada yang namanya Pra MOS. Pra MOS adalah masa dimana sebelum MOS. Sungguh aneh, batinku. Masak ada pra-pra segala. Biasanya kan yang ada pra-pra nya itu seperti ujian. Aneh.

Hari itu belum aku melihat gadis yang aku temui waktu tes dua minggu yang lalu. Kulihat kanan kiri kesemua sudut bangunan, tapi belum juga aku menemukannya. Entah rasa apa yang membuatku bisa begini. Mungkinkah cinta? Aku tak yakin akan perasaan ku ini. Tapi akhirnya aku melihatnya juga. Ia sedang bercanda dengan temannya sembari menuntun sepeda untuk segera pulang. Et . . . ternya ia tidak pulang. Tetapi, ia belok ke arah mushola. Akhirnya aku mengerti bahwa ia akan sholat Dhuhur.

MOS sudah di mulai. Di selah-selah kesibukan hari MOS, aku tetap mengamatinya walaupun ia tidak menyadarinya. Setiap kali ia merasa ada yang mengamatinya, aku selalu memalingkan muka ku. Dan dari situlah aku kenal Ana. Aku mengenalnya dengan membaca cocard nya yang bernama Ana Aida Fitria.

Suatu saat aku dipergoki Rifky sedang memperhatikan Ana. Aku mencoba menghilangkan diagnosa-diagnosa yang ada pada fikiran Rifky. Walaupun agak terdesak, tapi tetap kucoba sembunyikan rasa ini sebisa mungkin. Rifky pun akhirnya percaya pada ku. Ia cerita banyak tentang Ana. Tapi dulunya aku tak mengerti apa yang ia ceritakan. Soalnya, ia bercerita dengan nama Fitri. Sedang aku tak mengerti Fitri itu siapa. Dan ternyata, Fitri adalah panggilan dari Ana Aida Fitria.

Hari ketiga MOS berlangsung, aku berjalan bersama Rifky. Tepatnya, kami berjalaan dibelakang Ana. Tiba-tiba, slett . . . . Ana terpeleset. Entah mengapa, aku langsung lari dan berada dibelakangnya. Ia terjatuh kebelakang, dan aku menangkapnya. Tapi, ia langsung segera berdiri. Kemudian mengucapkan terima kasih dengan nada malu dan pergi lagi.
“Tif, Latif, sesungguhnya ia paling tidak suka jika disentuh laki-laki.” Bilang Rifky sambil memandangiku yang tengah terpaku.
“Lho masak? Emang kenapa?” tanya ku tak paham.
“Ia adalah seorang wanita yang sangat menjaga kesucian. Jika bukan mukhrimnya kan tidak boleh to tif, makanya ia langsung berdiri dan meninggalkan mu. Setiap hari pasti ia sebelum berangkat sekolah selalu berwudhu. Kadang ada temanku yang usil, menggodanya dengan mau menyentuh tangannya. Tapi, ia mencoba menghindar bahkan sampai menjerit-jerit. Jadi, ia sangat-sangat menjaga kesuciannya.”
“Ow, gitu ya. Subhanallah, masih ada ya wanita yang seperti itu.” Sungguh hebat wanita itu. Kekagumanku kepadanya semakin menjadi. Entah rasa apa yang ku alami ini. Tanda tanya tentang rasa yang aku alami terus mempertanyakan. Apakah rasa ini adalah rasa kagum atau rasa yang lainnya? Aku tak begitu mengerti apa yang saat ini kurasa.

Tapi, dari perkataan Rifky, aku mendapatkan kesimpulan bahwa Ana bukan seorang wanita biasa. Ia bukan wanita baen-baen kalau kata orang jawa. Aku mulai minder dengan rasa ku yang kurasakan sekarang. Entah kenapa, mungkin karena ia cantik, anggun, cerdas, juara 1 pararel pada tes masuk SMA ditambah ia sangat solihah.

Sedangkan aku? Aku adalah pemuda biasa yang berasal dari desa dengan tampilan yang sederhana dan juga dengan ilmu agama belum sampai sekuku hitam pada jari. Bahkan dalam benakku berkata bahwa ia tidak mengenal aku dan tidak akan bisa mencintai aku. Jadi, percuma saja aku mencintainya.

Sungguh rasa-rasa yang tak memungkinkan dan penuh tanda tanya terus menghampiri ku. Akhirnya aku memutuskan kepada orang tua ku untuk memperdalam ilmu agamaku dengan mondok di sebuah pondok pesantren didekat sekolahku. Dan mereka mendukungku sepenuhnya. Aku kini juga mulai belajar dengan sangat giat agar bagaimana si Ana tadi itu bisa mengenalku lebih dalam, begitupun dengan aku.

Ketika ia ikut mendaftar dan seleksi suatu organisasi, aku pun mengikuti jejaknya. Ia mengikuti seleksi OSIS dan ROHIS SMA 1 Blora, begitupun aku. Aku pun mengikutinya. Walaupun aku adalah satu-satunya anak dari daerahku dan belum mengenal anak-anak dari smp-smp lain yang ikut mendaftar, tapi aku mencoba memberanikan diri untuk ini. Dan memang benar, suatu organisasi bisa menciptakan perubahan. Buktinya yang dulunya aku kuper jarang punya teman, sekarang dari seleksi-seleksi organisasi maupun lomba aku mendapatkan banyak teman dan banyak palajaran.

Aku diterima diosis sebagai seksi pendidikan politik sementara Ana ia mencalonkan diri sebagai ketua dua. Dan akhirnya ia lolos dan diterima sebagai ketua dua atau bisa juga disebut dengan wakil ketua. Dimana ia mengkoordinasi seksi lima sampai delapan. Begitupun juga di ROHIS, ia diterima sebagai sekretaris. Sementara aku menjadi seksi takmir yang mengurusi mushola.

Dalam keorganisasian aku memperoleh banyak pelajaran tentang kepemimpinan, kehidupan bahkan tentang agama. Ilmu agama dari organisasi aku dapat dari organisasi ROHIS. Organisasi ROHIS memang organisasi khusus untuk menebarkan syiar-syiar islam. Dan dari situlah aku tahu bahwa pacaran pada saat remaja itu sangat membahayakan. Membahayakan bagaimana? Pertama belum ada tali yang sah yaitu tali pernikahan dan juga jiwanya masih labil. Jadi mudah terbujuk rayuan syetan dan bisa terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Na’udzubillahimindzalik. Tapi, bukannya tidak boleh. Itu tergantung pada individunya masing-masing. Tapi aku mencoba lebih baik jaga-jaga saja.

Kini aku mulai ada perubahan. Dan aku juga ikut OSN fisika mewakili SMA ku. Dulunya aku tak percaya akan hal ini. Ya, dulunya aku hanya mengikuti jejak Ana. Tapi, lama kelamaan aku juga mulai bisa fisika yang sebagian besar orang bilang itu sulit. Dan dalam OSN dan pengembangan OSN fisika inilah aku dan Ana mulai mengenal dan mulai akrab. Kadang disaat-saat jam pengembangan kami bercanda agar suasana regang.

“Kenapa hidup ini harus dibuat rumit dengan angka-angka dan hitung-hitungan?” tanya ku bercanda dengan Ana tentang penghitungan dalam fisika dan ilmu lainnya.
“Hidup harus diperhitungkan. Jika tidak diperhitungkan semua rencana akan kacau.” Jawabnya agak bijaksana.
“Halah, bukannya malah tambah mumet ya? Nanti kalau malah stress gimana? Kalau stress kan malah kacau lagi he . . .”
“Ih . . . kamu tu tif, emang kamu ingin stress. Santai aja kaleee.”
“Ih . . . nak umat, Bu Nyai Hajah Ana Aida Fitri Lebayyyyyy.” Aku memanggilnya Bu Nyai sambil bercanda. Habisnya, ia seperti Bu Nyai ae. Seperti bu Ustadzah yang penuh dengan ceramah.
“Lha, bukannya kamu itu juga lebay ya tif?”
“Aku bukan lebay bu Nyaiiiiiii . . . Aku tu lembut dan halus seperti namanya Al latief. He . . . Jarang-jarang lho Bu Nyai bisa lebay kayak gitu.” Aku bercanda sambil menahan tawaku.
“Ih . . . kamu tif, aku juga juga manusia lho. Tapi aku bukan rocker.” Ia juga meladeni candaanku.
“Kok rocker? Hubungannya apa?”
“Halah, kamu tu, kayak gini lho. Rocker juga manusia, punya rasa punya hati. Gitu. Tapi, aku tu manusia tapi tidak rocker.” Jawabnya sambil memperagakan seperti rocker beneran.
“Lha itu tadi apa? Kamu pantas sekali jadi rocker bu Nyai. He . . . . “ suasana pun jadi santai. Otak kembali segar lagi, tidak judek karena memikirkan hitung-hitungan yang kadang belum menemukan jawaban yang tepat.

Aku pun semakin akrab saja sama Ana. Dan aku mulai mengenal ia lebih dalam. Sungguh jika kamu mengenalnya lebih dalam, maka kamu akan terkagung-kagum padanya. Seminggu lagi ada olimpiade fisika tingkat kabupaten. Kemudian yang jadi juara satu, dua dan tiga akan dikirim ke Semarang untuk mengikuti olimpeade fisika tingkat provinsi. Aku dan Ana ditunjuk sebagai perwakilan dari SMA kami. Aku dan Ana mulai ada jam bimbingan dan kami berdua mulai belajar lebih rutin. Kadang kami juga belajar bareng sepulang sekolah di mushola SMA 1 Blora.
Aku terus berusaha untuk belajar lebih giat lagi. Apalagi ditambah dengan motivasi oleh Ana, semangat belajarku semakin menjadi. Usahaku tak hanya belajar, tetapi juga dengan rajin berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dalam segala urusanku. Aku mulai rutin solat malam dan puasa sunah senin kamis. Mulanya aku tu malu melihat Ana yang hampir setiap malam solat malam dan rajin puasa sunah. Jadi, aku harus bisa melebihinya. Aku pun melaksanakan sholat malam dan puasa sunah dengan rutin.
******

Hari lomba pun dimulai. Lomba diadakan di kantor departemen pendidikan kabupaten Blora. Kami mengikuti lomba olimpeade fisika yang dihadiri oleh sekitar 26 sekolah sekabupaten Blora. Kami berdua masuk babak final. Kemudian pembawa acara mulai membacakan pemenang lomba.
“Juara ke tiga diraih oleh . . . . . Habibul Latief dari SMA 1 Blora.” Suara pembaca acara yang mengumumkan juara mengagetkanku tak percaya. Tak menyangka aku bisa mendapatkan juara tiga, tapi masih ada yang sangat mengejutkanku. Apa itu? Coba dengarkan suara pembawa acara berikut ini.
“Dan inilah saat-saat yang mendebarkan bukan? Dan . . . . yang mendapatkan juara satu dalam olimpeade fisika tingkat kabupaten Blora, diraih oleh . . . . . .jeng . . . jeng . . .. jeng” pembawa acara membuat suasana semakin tegang dan membuat orang yang berada diruangan semakin penasaran.
“Adalah . . . . . Ana Aida Fitria dari SMA 1 Blora. Kepada peraih juara dipersilahkan menempatkan diri di depan.” Gema ricuh suara tepuk tangan penonton memenuhi udara siang yang lagi panas itu.

Kata-kata syukur dan tasbih berkali-kali kami ucapkan. Tak menyangka aku dan Ana bisa masuk final dan ikut kedalam olimpeade fisika tingkat Jawa Tengah. Apalagi aku, aku sungguh tak pernah membayangkan bisa ikut olimpeade fisika, apalagi sampai pada tingkat Jawa Tengah. Rasa kagumku kepada Ana malah begitu dalam. Bahkan semakin bertambah dalam. Entah pupuk apa yang membuat rasa ini tumbuh seperti ini. Hati yang resah terus mempertanyakan akan rasa ini.

Tiga hari lagi sudah memasuki olimpeade fisika tingkat Jawa Tengah. Aku dan Ana semakin menambah porsi belajar. Dan tak lupa yaitu selalu berdoa kepada Allah untuk diberi kemudahan. Tapi, yang membuatku tambah semangat yaitu semangat bahwa aku harus bia melebihi Ana. Masak anak laki-laki kalah sama anak perempuan. Begitulah motivasi buatku. Tapi, dibalik itu, masih ada magnet-magnet yang perlu dipertanyakan.
******

Pagi-pagi yang membuat hati ini membeku dan terus bergetar telah dimulai. Jam 06.00 kami berangkat dari Blora menuju Semarang. Kemungkinan, lomba akan dimulai pukul 09.00 atau puku 10.00. perasaan tak karuan terjadi pada hati ku. Mulai dari takut akan suatu keadaan nanti, hingga rasa yang tak bia diuraikan ketika melihat Ana yang juga berangkat satu mobil bersamaku. Ia melihatku dengan melemparkan senyum ramah. Ya Allah, apa yang sedang aku rasakan ini. Astagfirullahal’adzim.

Dan ternyata lomba dimulai pukul 10.00 . Aku ingat pesan guruku dulu bahwa jika aku mengikuti suatu olimpeade maka kerjakanlah soal yang kamu anggap benar-benar bisa. Jika tidak bisa atau bimbang mending tidak usah dikerjakan. Dan nasehat itulah yang aku lakukan. Aku dan Ana masuk kepada babak selanjutnya. Kamipun terus berlanjut mengikuti lomba.

Dan babak kedua telah seselai. Perasaan tegang dan darah yang mulai dingin menghinggapi diri ini. Rasa tidak karuan terus terbayang, mulai dari kemungkinan terendah hingga kemungkinan yang terbaik. Dan kini tibalah pengumuman lomba. Kamu tahu gak? Suatu keajaiban dari Allah benar-benar ada. Apa itu? Ya, pembawa acara mengumuin juara lomba bahwa

Dan juara pertama dalam olimpeade fisika tahun ini adalah . . . . “ waktu pembacaan itu aku sudah minder bahkan putus asa. Karna mungkin aku tidak akan mendapatkan juara.
“Adalah . . . . . “ suara pembawa acara membacakan lagi pemenang lomba yang membuat ruangan makin tegang dan penasaran.
“. . . . Habibul Latief dari SMA 1 Blora . . . . .” Apa aku? Ya, aku mendapatkan juara 1 olimpeade fisika tingkat Jawa Tengah. Alhamdulilah puji syukur kepada Allah. Aku pun langsung melaksanakan sujud syukur. Tak menyangka jadi nya akan seperti ini. Yakin, pernah ada keinginan maupun bayanganku untuk mendapatkan nikmat seperti ini.

Setelah aku maju ke panggung dan memboyong sebuah piala yang agak besar dan juga dengan uang pembinaan, kami pun melaksanan perjalanan pulang ke Blora dengan perasaan bangga. Di balik pintu keluar Ana Aida Fitri telah menungguku. Kelihatan dari wajahnya ia nampak malu-malu dengan kedua pipinya yang kemerahan.

“Selamat Mas Habib, moga tambah sukses lagi.” Ia mengucapkan selamat sembari mengulurkan tangannyq. Dalam batinku ada rasa yang tidak bisa diuraikan. Tapi juga ada pertanyaan, mengapa ia mengulurkan tangannya seolah ingin bersalaman dengan ku. Bukannya ia tu paling tidak suka jika disentuh oleh bukan mukhrimnya? Dan juga ia melemparkan tatapan mata kepada ku seolah-olah ada sandi-sandi yang harus diuraikan.
“Ya terima kasih Ana. Kok manggilnya Mas Habib? Dan juga kok tumben mau salaman sama aku?” tanya ku sembari bersamalaman dengannya. Rasa yang begitu indah menyelinap kedalam hati ini.
“Ya biar bisa dikenang aja Mas Hanafi. Dan juga sekali-kali gak papa kan? Hanya untuk . . .” jawabnya dengan lembut dengan kemudian memalingkan mukanya dengan ekspresi malu-malu gimana gitu.
“Apa . . . ?” tanya ku penasaran.
Gak papa kok mas habib, ayo tu sudah ditunggu Pak Sigit.” Jawabnya yang mengalihkan perhatian, seolah-olah ada rahasia dibalik suatu rahaasia.
Hati ku terus bertanya-tanya untuk menguraikan sandi-sandi yang mulai nampak. Gejolak hati semakin menjadi. Hari demi hari malah semakin parah perasaan ku kepadanya. Sungguh tak pernah terbayang difikiranku akan begini jadinya. Kata orang dan psikolog cinta, cinta pada pandangan pertama itu hanya sementara. Tapi buktinya ini? Banyak sekali perubahan karna perasaan ini.

Mungkin kini aku berada dalam medan magnet yang sangat kuat sekali. Yaitu medan magnet cinta. Aku terjebak didalamnya dan mencoba untuk keluar tapi aku tak bisa. Dalam hati ku terjadi perdebatan untuk mengemukan rasa ku pada nya atau tidak. Kekawatiran ku pertama yaitu jika ia tidak mau menerima cintaku karna ia adalah wanita yang sangat menjaga kesucian. Kemudian kekawatiran kedua yaitu bagaimana pandangan mbak-mbak ROHIS terhadapku bahwa mereka mengenggap aku termasuk orang yang bisa menjaga kesucianku. Kebimbangan dan gejolak batin terus terus menimpaku. Dan akhirnya aku tak tahan akan rasaku. Dan aku mencoba mengungkapkan perasaanku. Untuk masalah lainnya urusan belakang pikirku dalam hati.

Tapi, aku tak berani untuk mengungkapnya langsung dan akhirnya aku menulis sebuah surat saja.

Pagi yang sekarang ini nampak cerah bagi ku. Perasaan tidak karuan mulai menghinggapi batin ini, ketika aku beniat menyerahkan surat ini padanya. Dan aku pun waktu istirahat kedua ke kelasnya. Tapi apa? Kamu tahu gak, ternyata ia sudah pergi. Pergi kemana? Ia pergi mengikuti persekutuan pelajar ke USA. Tak pernah terbayangkan hasilnya akan seperti ini.

Dari situlah aku berfikir bahwa “Mungkin hanya sebuah cerita yang tak terungkap semua orang.” Dan ketika aku telah sedikit kecewa yang diaduk dengan rasa malu dan dicampur dengan sebuah motivasi besar. Kecewa karena belum sempat mengucapkan selamat tinggal beserta cinta kasihku padanya, malu karena aku tidak bisa seperti dai yang bisa ikut pertukaran pelajar di USA dan juga motivasi besar bahwa besuk aku harus kuliah di USA untuk menjemputnya.

Akhirnya aku menuju ke Mushola saja untuk sholat dhuhur dan tenangkan pikiranku. Waktu beranjak kembali ke kelas, aku melihat guru-guru sedang berkumpul dan mungkin akan segera pergi. Kemudian aku menghampiri mereka. Ternyata mereka akan ke bandara atau untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir. Kemudian aku titipkan saja surat ini kepada Bu Ayunda.

Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur. Mata hanya tertutup kelopak-kelopak mata yang mulai gelisah. Orang jawa bilang tidurku ini glebakan. Perasaan ini begitu remuk hancur berkeping-keping.
Pagi nan biru itu aku berangkat ke sekolah dengan hati yang bernada gelisah. Hiduppun seolah-olah tanpa makna. Mungkinkah ini yang dikatakan semua orang tentang rasa ketika kecewa dan patah hati? Seungguh menyakitkan sekali. Menuluk merelung sumua hak kehidupan. Kemudian Bu ayunda menemui ku ketika aku berada di Mushola.
“Tif, kemarin kamu nulis apa?” tanya Bu Ayunda yang kelihatannya sangat penting.
“Gak pa-pa bu, Cuma tulisan biasa.” Jawabku tampingkan keadaan.
“Kamu tahu gak, tadi malam kan ia tidur sehotel bersamaku, ia tidak tidur semalaman. Dari raut wajahnya kelihatan sedih sekali, apalagi ketika membaca tulisanmu, sampai-sampai ia tak bisa menahan air matanya jatuh. Kemudian tadi malam ia menghabiskan waktunya untuk menulis sesuatu. Ia tulis sesuatu itu dengan tetesan tangis yang mendalam.
“Emang yang ditullis apa bu?”
Ini ada sebuah surat untuk mu. Mungkin surat ini dibuatnya dengan penuh perasaan kasih. Dengan perasaan yang sangat mendalam untuk mu.” Bu Ayunda mengeluarkan sebuah kertas yang berbungkus amplop berwarna biru. Yang bertuliskan
Kepada kekasih yang akan abadi
Maz Habibul Latief
Ku terima makna hati yang telah lama mati
Ku hidupkan serpihan-serpihan batin yang tergeletak lemas tak berdaya
Tapi Maafkan aku yang harus pergi dari sisi
Tapi, cinta yang datang temani hatiku, begitupun dengan hatimu
Maaf atas segala hormat cinta yang tertanam
Perasaan batin terukir dalam sakit yang mendera kelam
Tapi, aku harus pergi, tuk laksanakan tugas yang abadi
Jangan kuatir tentang semua bait-bait cinta
Aku tetap akan menemani cinta yang datang
Walau dibalik warna kelabu sebuah mimpi
Aku mencintai mu secerpih cinta nan suci Mas Habibku
Tapi jika Allah memang menghendaki engkau adalah kekasih yang dipilih untuk ku
Tak usah kuatir dan tak usah bimbang
Apapun dera goda, kita akan tetap bertemu jua
Dan tolong jaga cintaku disana
Dan aku akan menjaga cintaku disini
Ikhlaskan batin ikhlaskan cinta
Cinta sejati takkan terhalang oleh jasmani
Jaga cintaku jika engkau setia padaku
Hingga suatu hari nanti jika engkau adalah kekasih sejadiku
Dan jangan engkau lebihkan kasih sayangmu kepadaku
Tapi jika engkau mencintaiku begitu mendalam
Maka cintai dulu tuhanmu yang sangat dalam lagi
Makna hati telah senyumkan hati
Jaga cinta dan perasaan hati
Oleh yang hatinya tetap tertaut dalam keabadian cinta
Ana Aida Fitria
Hati ini telah terobati dengan secarik surat yang begitu mendalam. Motivasi besar untuk kuliah di USA berkobar dihati yang penuh nada cinta. Sekarang, magnet-magnet itu jelas. Ternyata adalah sebuah magnet cinta. Yang menarik aku ke dalam medannya. Yaitu medan cinta. Dan diriku ini akan menyusulmu Ya khumairah Ana Aida Fitria. Nantikan aku di sana. Aku akan menyusulmu.
**********
Cerpen by
Imam.imamhanafi@gmail.com

One thought on “Magnet-magnet (tanda tanya) ???

  1. Ping-balik: IMAM HANAFI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s