HANAFI BAG II


Pesona pelangi kembar, beralih gemerlap bintang yang hiasi malam permai desa Ringin. Penduduk surai ramai nikmati malam itu. Semua orang menghadap kelangit seraya memuji bintang yang seakan mendekat. Dengan cahaya yang sempurna, dengan warna yang kontras. Biru, merah, kuning, putih dan warna lain yang hiasi langit malam itu.

Tradisi lama dihidupkan lagi. Sebuah tradisi nguluri muji yang diadakan sebagai tanda syukur akan kembali diadakan malam ini. Sesepuh desa mulai mengkoordinir warga untuk upacara tradisi malam ini. Tiga lesung kuna yang terbuat dari kayu jati utuh disiapkan. Lesung ini bentuknya sudah aus dan berwarna hitam pekat. Tapi masih terlihat garis-garis lintang pohon jati yang masih terlihat kuat dan kokoh.

Ketiga lesung ini bernama kyai mala, kyai lawa, dan kyai pati. Menurut kepercayaan lesung ini berasal dari istana MALAWAPATI, dimana raja besar Angling Dharma bertahta. Ada yang bilang kerajaan Malawapati berada di Bojonegoro. Akan tetapi, ada juga sebuah tempat yang bernama Malawapati didekat desa Ringin. Penduduk bilang tempat ini singit (gawat). Banyak makhluk halus yang menjaganya. Bahkan, yang paling aneh satu area itu tidak ada satupun rumput yang tumbuh. Yang ada hanya pohon ringin besar yang berada ditengah-tengah yang diduga dulu adalah pusat kota dan alun-alun.

Raja Angling Dharma adalah raja yang besar pada masanya. Menurut cerita rakyat, istananya mewah dengaan adanya banyak taman dan pilar-pilar kerajaan yang besar dan menjulang tinggi. Raja itu sangat adil dan bijaksan. Dengan kesaktian dan kemampuan berperang yang tinggi, banyak daerah yang tunduk dibawah kekuasaannya. Angling Dharma juga sosok hebat yang dikenal masyarakat sebagai raja dengan tunggangan naga. Oleh karena itu, kehebannya pun tak tertandingi.

****

Sesepuh juga menyiapka seperangkat alat musik jedoran yang akan digunakan untuk pementasan pencak silat dor. Pencak silat dor adalah sebuah kesenian pencak silat yang pementasannya diiringi oleh alat musik dor/cedoran. Sedangkan alat musik ini sendiri merupakan seperangkat alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi puji-pujian/sholawatan kepada nabi.

Semua perlengkapan dibawa ke lapangan yang berada di pusat desa Ringin. Ditengah lapang itu, terdapat sebuah pohon Ringin yang sangat besar. diduga umurnya sudah ratusan bahkan ribuan tahun.

Pohon ringin itupun bentuknya unik. Dari kejauhan seakan-akan seperti sebuah payung yang akan memberi kesegaran, pengayoman dan ketentraman bagi yang berada dibawahnya. Tidak heran sila ke-3 PANCASILA bergambar pohon ringin/beringin yang berarti memberi pengayoman.

Tiga lesung tadi ditempatkan disebelah utara pohon beringin. Sementara kesenian pencak silat dor, berada disebelah selatan pohon beringin. Penduduk desa mulai berdatangan dan berkumpul ke lapangan desa.

Tempat obor/lampor mulai dipasang mengelilingi tepi lapangan yang berbentuk bulat. Selain itu, tempat obor juga mengitari pohon beringin yang berada tepat ditengah lapangan.Dari lapangan desa itu, terdapat 7 buah simpangan. Dari setiap arah simpangan juga dipasang tempat obor lurus memotong lapangan menuju pusat pohon beringin.

Api obor diambilkan dari pagenen. Yaitu suatu tempat perapian alami yang tidak pernah padam yang terletak disebelah tenggara dari lapangan desa.Jika diambil garis lurus dari pohon beringin desa, pagenen berada diantara beringin lapangan desa dengan beringin yang berada di malawapati.

Ada 99 obor yang akan dibawa oleh para pria dan anak-anak. Api pertama diambil oleh sesepuh desa. Kemudian api itu disalurkan keseluruh peserta lamporan. Dari sini peserta dibagi menjadi 7 kelompok. Setiap kelompok mengarak lamporan melalui 7 jalan simpangan yang kemudian bertemu di lapangan desa.

Setelah sampai di lapangan desalamporan diarak lagikeliling lapangan desa sebanyak 3 kali. Kemudian lamporan/obor dipasang ditempat yang telah disediakan.hal ini diteruskan dengan atraksi obor berupa menyemburkan api dari mulut.

****

Suara bedug menggema. Diiringi kumandang adzan suara merdu nan bijaksanamenggema melalui celah-celah speker yang terpasang di penjuru menara masjid. Itulah suara Brahma. Sholat isyak didirikan. Kegiatan pun dihentikan sejenak. Semua orang berbondong menuju masjid untuk sholat isya berjamaah.

Sholat diimami oleh sesepuh desa yang dalam bahasa setempat disebut moden. Setelah selesai solat. Moden memberi pengarahan tentang jalannya upacara.Dan kemudian ditutup dengan doa.

****

Genderang beduk ditabuh. Masyarakat mulai kembali berkumpul di lapangan desa sembari membawa ambeng masing-masing. Upacara dibuka dengan doa yang dilanjutkan dengan tradisi menganan atau makan bareng-bareng dilapangan. Setelah manganan selesai musik damai lesung mulai bertalu dibagian utara pohon ringin.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s