Hei Engkau Cinta, dengarkan


Hai engkau, mengapa engkau selalu hadir?

Bukankah engkau sudah tidak tertarik lagi padaku?

Hai engkau, tak apa engkau hadir

Tapi jangan lah membuat harapan yang mendustakanku

Yang membuatku lelah untuk berharap dan meyakinkan diri

Dan semu ini aku serahkan kepada zat pengatur Cinta

Lelah, lelah aku. Lelah selama ini aku meyakinkan diriku bahwa engkau mencintaiku. Entah engkau mencintaiku atau tidak, tak peduli aku sekarang. Aku sudah tidak begitu percaya dengan perasaanku ini. Aku sudah tidak peduli dengan cerita-cerita ini. Maaf, sekali lagi maaf. Karena aku telah lelah dalam harap heningku tentang cinta. aku lelah. Aku pasrah. Aku tak mengetahui engkau mencintai siapa. Dan aku tak mengetahuinya. Hanya zat pengatur cintalah yang mengetahuinya. Dan kini aku sudah tak ingin mencari tahu, aku sudah tak ingin mencari tahu siapa yang engkau cinta. Biar. Biar engkau mencintai siapapun. Engkau bebas. Dan aku tak ingin mengetahuinya.

Aku sudah tak ingin terjebak dalam bayang rindu. Maaf. Bukan aku bermaksud menyakitimu. Tapi aku yakin anda tak tersakiti. Karena menurutku anda pun tak merasakannya. Anda tak merasa bahwa hal ini untuk anda. Ini bukanlah sebuah kemarahan, ini bukanlah sebuah kekecewaan. Tapi maaf, memang karakter seperti inilah aku. Jika sudah keras, keras pula kata-kataku. Sudah menjadi gawan bayi kata-kataku keras, pedas. Inilah aku. Baik engkau terima atau tidak, inilah aku.

Walaupun baru saja, engkau hadir dalam bayang mimpiku malam ini. Sungguh aneh, dalam keadaan terjaga, aku tak bisa membayangkan wajahmu dengan jelas. Tetapi dalam mimpi engkau hadir sangat jelas. Engkau hadir bersamaku di depan seorang guru. Guru itu bertanya tentang cinta dan pacaran. Aku bilang “aku sudah tidak begitu . . . . . .” belum aku selesai bicara engkau menyahut“Kami tidak ingin pacaran pak, hanya saja insya allah kami akan berkomitmen untuk saling mencintai. Ya kan mas?” sambil menengok ke aku yang ada disebelahmu dengan tatapan penuh senyum dan seri keyakinan hati.

Tapi lupakanlah semua itu. Seperti halnya engkau melupakan hal-hal lain begitu cepat. Itu mungkin hanya mimpi belaka yang kemudian aku terbangun. Aku sudah tidak percaya juga dengan mimpi-mimpi ini. Mungkinkah engkau mencintaiku? Tak mungkin kayaknya. Dan mungkinkah engkau akan mengatakannya dalam kehidupan nyata? Bukan hanya alam sadar mimpi? Tak mungkin lagi lah.  Aku sudah tidak begitu percaya dengan perasaan ku ini. Masak dirimu bisa mencintai diri ini. Tak mungkinlah. Semua itu tak mungkin terjadi. Aku sudah tak ingin terjebak dalam bayang ini. Aku sudah tak ingin lelah lagi meyakinkan diriku bahwa engkau mencintaiku. Aku tak akan terjebak dalam jebakan yang ke dua kalinnya. Termasuk dalam jebak bayang mimpi ini. Karna aku bertekad untuk merdeka dari perbudakan cinta yang selama ini menyelinap diri.

Akan tetapi aku tak akan membencimu. Dan janganlah engkau membenci aku. Kita sama-sama makhluk yang mencari kebenaran. Mari kita cari kebenaran-kebenaran cinta menurut jalan masing-masing. Saya tidak akan mengurusi jalan cinta anda. Anda berhak berhak melaju dengan cepat maupun lambat, jalur kanan maupun jalur kiri. Itu adalah jalur cinta anda. Anda berhak penuh atas hal itu.

Sekali lagi, ini bukanlah ungkapan kekecewaan maupun kemaraha. Ini hanyalah untuk memperjelas tentang diriku ini padamu. Jika engkau mengetahui. Dan mohon jangan anda marah maupun kecewa padaku dengan pembicaraan-pembicaraan  ini. Karna ini bukan untuk menyakiti anda. Ini adalah alat kesadaranku, untuk menyadarkan diriku sendiri tentang perasaan ini. Untuk meyakinkan diriku agar terlepas dari Budak Cinta. doakan aku terbebas dan terlepas darinya. Dan sekali lagi, anda berhak mencintai orang lain. Siapapun anda boleh. Siapapun anda bebas. Aku tak ingin tahu dan mengetahuinya. Anda berhak mencintainya tanpa suatu tuntutan maupun ketakutan. Karna anda adlah makhluk freedom. Makhluk merdeka. Merdeka memilih cinta.

Blora, 2 November 2012

Yang Tercerahkan dari Budak Cinta

Imam Hanafi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s