Kawasan Wisata Spiritual Dan Arkeologis Kedinding Blora


TEMPAT WISATA BERSEJARAH DI JAWA TENGAH

KABUPATEN BLORA

 Oleh Dinas Pariwisata Kab. Blora

NAMA OBYEK  :   Kawasan Wisata Spiritual Dan Arkeologis Kedinding.

Kawasan ini dapat dikategorikan sebagai kawasan wisata spiritual dan arkeologis.  Terletak di Dusun Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban. Sumberdaya arkeologi di desa ini meliputi dua situs yang berasal dari kurun waktu yang berbeda, yaitu masa prasejarah dan masa Islam.  Lingkungan situs berupa tegalan yang secara aktif digarap oleh penduduk, dimana pernah ditemukan fosil hewan purba dan budaya manusia purba berupa alat serut dari bahan batu balsedon. Fosil dan budaya manusia purba tersebut berada di lingkungan endapan pasir dengan struktur silang siur di atas lapisan pasir konglomeratan yang merupakan teras sungai. Secara umum, situs yang secara keruangan sangat terbuka ini tidak tampak adanya perawatan maupun perlindungan khusus.

Sedang secara geografis Desa Kedinding berada di lembah dari dua bukit yang berbeda, yaitu Gunung Purwosuci dan Gunung Kedinding.  Dikedua lokasi tersebut, terdapat situs spiritual  yang berbeda sifat mitologisnya yang cukup terkenal dan hingga hari ini masih secara rutin diziarahi oleh masyarakat se-Kabupaten Blora. Makam Purwosuci berbentuk batu dengan ukuran halaman makam ± 49 m berada diatas perbukitan. Pernah dipugar oleh Bupati Blora dengan memakai sandi Sengkala ‘Karenya guna salira aji” atau tahun 1864. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, makam Purwo Suci itu adalah makam seorang Adipati Panolan sesudah Aryo Penangsang bernama Adipati Noto Wijoyo. Sedangkan di Gunung Kedinding kemungkinan merupakan pagar dari petilasan yang sekarang telah runtuh termakan zaman. Lokasi petilasan disekelilingnya ditumbuhi jenis pohon rimba yang berusia tua dan berdiameter besar dengan kondisi penutupan tajuk yang rapat.

Situs ini terletak di Dusun Kedinding, di puncak sebuah bukit kecil, tidak jauh dari situs prasejarah yang terletak di bawahnya. Secara astronomis, situs Purwosuci berada pada 07° 08′ 50,7″ LS dan 111° 3018,0″ BT.

Di puncak sebuah bukit milik perhutani yang ditumbuhi pohon jati, kemuning, preh, dan poh yang telah cukup tua dan oleh masyarakat setempat disebut sebagai bukit Purwosuci terdapat dua buah makam kuna. Bangunan makam dibelilingi oleh dua lapis pagar. Pagar luar berukuran 11 m X 8,80 m dibuat dengan batu-batu berukuran bolder dengan spesi pasir, gamping, dan semen merah.

Sementara pagar dalam berukuran 5,5 m X 4 m dibuat dengan bata berspesi pasir, gamping, dan semen merah. Walaupun telah rusak namun kekunaan makam masih tampak cukup jelas. Jirat makam dibuat dengan balok-balok batu putih, dan pada salah satu makam (sebelah barat) pada bagian sudut dasar jirat dilengkapi dengan ornamen berbentuk seperti antefiks candi. Sementara nisannya terbuat dari batu berbentuk empat persegi panjang dan selalu yang ditutupi/dibungkus dengan kain putih.

Menurut informasi juru kunci makam (plawangan) yaitu P. Rois, tokoh yang dimakamkan di Lokasi ini adalah Hadiwijaya dan istrinya Puspasariraji. Hadiwijaya adalah Tumenggung Panolan semasa Arya jipang (Arya Penangsang).

Sedang masyarakat sekitar Keramat Gunung Kedinding setiap satu tahun sekali setelah panen pertama selesai, pada hari Jum’at Pahing selalu melaksanakan sedekah bumi yang dilaksanakan di puncak Keramat Gunung Kedinding dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat berupa hasil bumi yang melimpah. Dan didalam pelaksanaan sedekah bumi tersebut selalu ada Pada saat diadakan sedekah bumi, masyarakat mengadakan hiburan berupa pementasan wayang krucil yang merupakan kesenian khas pada saat pemerintahan Sultan Hadiwijoyo.

Sejarahnya berawal dari Adipati Jipang bernama Aryo Penangsang yang ingin memisahkan diri dari Kesultanan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijoyo. Karena melihat adanya pemberontakan yang dilakukakan oleh Aryo Penangsang maka Sultan Hadiwijoyo yang didampangi oleh Kijuru Mertani dan pejabat kerajaan lainnya turun ke daerah Jipang dengan tujuan untuk menumpas pemberontakan.

Kemudian mereka beristirahat dan membuat pertahanan di gunung Kedinding, dan disela sela kegiatan Sultan Hadiwijoyo bertemu seorang wanita yang berasal dari Panolan, wanita tersebut kemudian dijadikan istri selir dan dari perkawinan ini mereka dikaruniai seorang putra bernama Pangeran/Raden Benowo. Sambil beristirahat di Lokasi Gunung Kedinding, beliau menyusun siasat dan strategi untuk menyerang pemberontak yaitu Tumenggung Panolan kala itu Arya Penangsang. Jika dilihat memang letak Puncak Gunung Kedinding lebih tinggi bila dibanding dengan wilayah Jipang Panolan. Jadi seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat Jipang Panolan termasuk gerakan prajurit perangnya dapat dipantau dari atas Puncak Gunung Kedinding imtuk mengambil strategi penyerangan.

Sultan Hadiwijoyo sambil menyusun siasat dan strategi perang, Beliau minta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan semedi, meditasi dan bertapa di Puncak Gunung Kedinding. Dari olah batin tersebut Sultan Hadiwijoyo mendapat wisik dan wangsit untuk menyerang Adipati Arya Penangsang dan memperoleh kemenangan.

Dari laku olah batin yang dilakukan Sultan Hadiwijoyo dalam rangka menentukan strategi menumpas pemberontakan Adipati Arya Penangsang. Karena dahulu permintaan dan wangsit yang diterima adalah misi penyerangan/penghancuran seorang Adipati Arya Penangsang yang notabene pegawai, maka dari itu hingga sekarang sawab atau karomah dari laku spiritual dan olah batin dari Sultan Hadiwijoyo berlaku hingga kepada anak cucu yang bekerja sebagai pegawai. Dari beberapa kejadian dan dikuatkan oleh masyarakat sekitar situs bahwa orang yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai baik tentara, PNS, pegawai swasta tidak boleh masuk ke lokasi situs. Jika masih dipelataran masih tidak apa-apa, namun jika telah menginjak salah satu anak tangga masuk situs maka sawab/karomah dari Sultan Hadiwijoyo akan mengenai. Anak tangga tersebut nampak pada gambar. Namun menurut mitos yang beredar juga, bahwa segala mitos yang berhubungan dengan “pegawai tidak boleh masuk lokasi petilasan dimulai dari anak tangga pertama masuk lokasi petilasan, jika dilanggar maka dengan cepat akan terkena masalah bahkan sampai dipecat” tidak berlaku bagi pegawai yang memiliki darah/tempat lahir dari daerah Tuban – Jawa Timur.

Jika ingin menjadi seorang paranormal akan mudah sekali terkabul dan biasanya menjadi seorang paranormal yang hebat, terkenal dan memiliki ilmu yang tua. Namun biasanya dalam perjanjiannya diberikan batas waktu selama 15 tahun mulai seseorang tersebut mengikat perjanjian. Setelah 15 tahun berlalu maka orang yang mengikat perjanjian akan meninggal. Dinyakini oleh masyarakat Dk. Kedinding bahwa setelah meninggal akan menjadi cantri di Gunung Kedinding.

5 thoughts on “Kawasan Wisata Spiritual Dan Arkeologis Kedinding Blora

  1. terima kasih dengan diuraikan semua silsilah sejarah ,,,, saya dari putra daerah itu akan jadi lebih mengerti keberadaan sejarah dan situs di daerah saya sendiri ,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s