Abstraksi Cinta


Abstraksi Cinta

Senja nampak kering kerinduan. Mungkin sebuah badai cinta terjang hati. Mungkin kecemburuan daun kering nan berguguran. Angin senja yang berhembus. Sayap-sayap cinta beterbangan tanpa angan. Cerita hati terus mengalun dalam dekap kesendirian. Aku tersentuh hati. Porak poranda derita kurasa. Kehilangan arah mata angin hati ini. Tak berlajur untuk sebuah cinta ini.

Entah sebuah kebencian tanpa sebab. Atau sebuah kecemburuan yang tak beraturan. Terasa hati begitu ambigu tentang hak acu. Begitu terasa tertekan akan hal perasaan. Begitu dalam begitu sempit. Hingga darah mengalir, dada pun terasa sakit. Hingga nafas mengalun dalam paru-paru pun menghempas tak lepas. Seakan marah tapi tak tahu apa yang diamarahkan.

Ya mungkin benar, kecemburuan melanda diri yang telah letih ini. Baru kusadari aku cemburu. Apakah ini sebuah ujian hati? Tentang seberapa besar engkau mencintainya? Dan tentang pengujian hati untuk menjadi benteng cerita cinta. Segala tak ayal tentang hal ini. Tapi hati terasa kaku untuk mengakui kecemburuan ini. Biar. Biar aku hilangkan ini dalam kalbu. Letih. Biar aku letih dalam kesendirian. Sebuah masalah sederhana menjadi masalah yang tak kunjung reda.

Berawal dari cinta yang dinantikan semenjak usia berdaun muda. Ketika itu entah kenapa aku menantinya selama itu. Beberapa tahun dalam penantian yang terdalam. Dalam konsep itu pun semua pengujian hati telah aku lalui. Telah terbentuk benteng-benteng cinta. Dengan segala peralatan perang batin. Dengan segala tameng-tameng kecemburuan. Dengan segala senjata-senjata yang siap bertempur dengan perang batin yang bergejolak melawan kecemburuan.

Tapi apa? Beru-baru perasaan ini kurasa dalam ketenangan hati. Perang bergejolak merampas hak hati. Padahal baru sebulan aku curahkan dan ungkapkan perasaan yang telah bertahun-tahun terpendam. Mungkin badai cinta sedang uji aku. Sebuah angin besar datang padaku. Akan menjadi badai atapun akan menjadi pendorong kapal cintaku. Itu lah yang aku jalani saat ini.

Kadang cinta seindah senja diufuk sore. Dengan cahaya jingga yang menawan, dengan sinar redup arti kedamain. Aku tak berdaya karenamu. Akal pun terasa kaku memikirkanmu. Itulah cinta. Cinta bagai sebuah keindahan hakiki. Yang nyanyiannya seindah petikan jiwa. Maknanya pun melebihi syair sang dewata. Hingga cinta dapat kusetarakan dengan surga. Cinta pun dapat membisukan rasa. Merapukkan raga yang tak bermakna. Hingga cinta tak dapat ku utarakan dengan lidah. Dan inilah cinta.

Sungguh kebimbangan antara rasa ada dan tiada. Antara mencintai dan dicintai. Aku tak mengerti sebuah keindahan cinta yang kurasa. Karna aku belum menyadari sebuah arti cinta yang sesungguhnya. Aku belum pernah mencintai seseorang sebegitu dalam denganmu. Dengan keindahan yang menawan. Dengan ketakterdugaan engkau datang.

Selama tiga seper delapan tahun ini meninggalkan dirimu. Tanpa ada kata yang terucap. Tanpa ada surat yang menyiprat. Dan tanpa kedatanganmu yang kutunggu. Tak pernah aku melihat sesosok dirimu selama itu. Ingin aku berpaling dalam ketenangan tiga tahunan ini. Ketika diri ini mencintai orang lain dan ingin berpaling, engkau selalu datang tanpa diundang.

Ya itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini. Engkau selalu datang ketika aku akan berpaling. Hingga aku mengurungkan niat untuk berpaling dan mencintai orang lain. Padahal aku tak tahu dirimu. Dimana dirimu. Bagaimana dirimu. Dan siapa yang dirimu rasa. Tentang siapa yang dirimu cinta. Sungguh engkau sosok misterius yang iringi hari-hariku. Ketika ketenangan hati sudah dimulai, saat itupun engkau hilang lagi.

Terus seperti itu. Banyak wanita yang berkunjung singgahi hati nan kusam ini. Tapi engkau kembali lagi, seakan memberi harapan-harapan yang tak tau arti. Mungkinkah sebuah abstraksi cinta yang kurasa? Tapi mungkin itulah ia.

Beberapa bulan yang lalu. Ketika diriku melihat statusnya. Dengan keindahan kata yang ia ucapkan. Seakan cinta menghampiri dirinya. Aku terjebak dalam tangis. Meriam-meriam berdaya ledak hantam benteng cintaku. Pasukan bertahan mulai agak kewalahan. Semakin aku mundur dari zona cintaku. Semakin sempit rasa ini. Semakin sempit cinta ini. Pertempuran batin bergejolak panas. Darah-darah kesetiaan mulai bercucuran. Seakan ia akan segera habis masa hidupnya. Semakin lemas kesetianku. Semakin lemah penantianku.

Sebelum perang itu, aku telah diberi sebuah pertanda yang tak begitu kurasa. Aku hanya merasa itu adalah bunga tidur. Dalam hal itu wanita itu memberi sebuah pesan tanpa menyertakan dirinya dihadapanku. Ia berkata dalam pesannya :

Sebuah cerita yang harus ku ungkapkan. Kini aku mengerti tentang indahnya mengasihi dan dikasihi. Tapi lebih dari indah jika engkau yang mengasihi. Tapi telah kunantikan. Engkau tak kunjung datang. Dan hatiku terpaut pada yang datang padaku.

Sungguh tak kusadari inilah makna sebenarnya. Waktu itu aku tak mengerti makna dari mimpi ini. Tapi kini aku sadar tentang makna mimpi itu. Ya biar. Biar ia bahagia dalam hidupnya. Dan biar. Biar aku tetap dalam zona bertahan walau sudah tidak ada harapan untuk menang. Walau pasukan mulai berkurang, dan mulai terbayang bayang kekalahan. Tapi aku dapat sebuah pelajaran makna cinta dari hal ini. Cinta. Ketika ia ingin pudar. Biarlah ia pudar. Sebuah makna cinta yang sebenarnya, ketika engkau belajar keikhlasan hati.

Walau dalam keadaan lemah. Walau dalam keadaan letih. Kucoba kututup semua pintu gerbang cintaku. Aku mencoba menyendiri dalam benteng cinta yang sebagian hancur telah diserang. Kini kucoba tenangkan diri walau dalam dekap. Dalam kesendirian cerita hati. Didalam benteng cinta yang bertahan ini hanya aku dan hatiku yang mengetahui betapa kacau hati yang telah perang. Sudah. Aku berkata pada diriku “Kenapa engkau memikirkan orang lain, sedangkan dirinya tidak memikirkanmu?” aku bangkit dalam kelam. Aku kibarkan bendera putih, sebagai tanda aku sudah damai.

Aku jalani hariku lagi walau berjalan dengan sempoyongan. Mungkin energi ku telah hilang. Cakra-cakra cintaku telah berkurang. Tapi semangat hati untuk bangkit dari keterpurukan cinta menamparku untuk segera bangun. Ia berkata “Buatlah perubahan. Tuhan menciptakan semua ini tidak sia-sia. Ia menciptakan cinta. Ia pun menciptakan rasa benci. Semua hal itu tidak sia-sia. Pelajarilah hai pemuda. Pelajarilah.”

Yapp benar sekali yang ia bilang. Tuhan menciptakan cinta tidaklah sia-sia. Pelajarilah. Pelajarilah cinta. Dan kini kusadari keindahan dari cinta adalah ketika engkau dapat belajar darinya. Engkau dapat belajar ketenangan hati setelah perang hati. Engkau dapat belajar mengerti disaat orang yang engkau cintai berpindah ke lain hati. Engkau dapat belajar kesetiaan ketika ujian cinta menghadang perasaan. Engkau dapat belajar kesabaran disaat dalam penantian panjang. Dan engkau dapat belajar keikhlasan hati, disaat yang engkau cintai pergi. Dan yang paling berat dan bermakna adalah ketika engkau dapat mengobati rindu candu disaat rasa rindu terus menggebu.

Kemudian aku bertemu dengan orang yang juga menginspirasi hidupku. Aku belajar makna kehidupan dari padanya. Sebuah kehidupan adalah sebuah keindahan katanya. Hidup adalah indah, bagi orang yang mengerti keindahan hidup. Ia berkata “Keindahan berawal dari satu hal. Menikmatinya.” Ketika engkau menikmati sesuatu. Engkau akan merasakan sebuah keindahan hakiki. Dan engkau akan mengerti betapa indahnya dunia. Bukan betapa suramnya dunia.

“Cobalah nikmati hidupmu hai kawan” ia bilang. “Ketika engkau sakit hati, nikmatilah. Sesungguhnya Keindahan yang nyata. Keindahan dari cinta bukan hanya ketika engkau dicintai. Tapi keindahan cinta juga ketika engkau tersakiti. Karena disaat itu, engkau merasakan betapa mahalnya cinta. betapa mahalnya kasih sayang. Betapa mulianya sebuah kata “cinta”. Cintailah dirimu. Cintailah hidupmu. Yang terpenting cintailah illahmu. Dan engkau akan mendapat suatu keabadian cinta. Betapa indahnya hidup ini. Hingga tuhan tidak menciptakan sakit hati/patah hati secara sia-sia.”

Sebuah kata yang menghidupkan kedamain hati yang telah kelam. Bunga-bunga kehidupan berkecambah dalam tumbuhnya cerita hati. Mega hati yang kelam telah tersingkir o leh sinar cinta hidup yang mendalam. Sungguh benar kata ia. Begitu masuk, menancap diujung hati. Sebagai sebuah pusaka untuk bangkit kembali.

Aku belajar banyak darinya. Ia membuka pintu hati yang tak terduga akan terbuka. Ia telah melihatkan aku sisi lain dibalik dunia ini. Yang lebih indah. Yang lebih megah. Walau kemegahan sederhana. Pengertian sederhana. Tetapi sebuah makna yang terkandung luar biasa.

Begitu tentram ketika ku bicara padanya. Begitu angin semilir menuju relung hati, ketika ia berucap sebuah kata. Sangat sejuk senyumnya. Suatu keindahan yang tak pernah kudapat dari yang lain. Sebuah dorongan besar bangunkanku dalam keterpurukan. Aku kini kembali bangkit dengan semangat selangit. Ia berkata “Buatlah keluargamu bangga akan dirimu. Buat orang-orang mengagumi dirimu. Prestasi terbesarmu adalah engkau dilahirkan di dunia ini. Itulah awal dari prestasi-prastasi besar yang harus engkau wujudkan.”

Aku bertanya “Mungkinkah orang seperti diriku ini, dengan segala kekurangan ku, dengan semangat ku yang sedikit tersisa? Aku hanya orang bodoh yang tak mengerti hidup. Aku hanya orang yang terbudak oleh cinta. Aku tak bisa apa-apa. Beda dengan dirimu. Aku tak yakin aku bisa. Aku lemah!!! Aku letih!!! Aku tak punya daya. Aku tak punya kekuatan untuk mewujudkannya. Aku. . . .”

“Yakinkan dirimu. Ketika engkau yakin engkau bisa. Engkau mampu luar biasa. Tak ada yang tak mungkin didunia ini. Percayalah la takhof, innallaha ma’ana. Jangan takut!!! Allah selalu bersama kita.” Katanya hujani semangat hidupku dengan kelembutan air yang mendorong turbin semangat untuk bangkit. Telah terisi ulang baterai semangat hidupku. Telah kulupakan denyut cinta yang luluh lantakan ku.

Kini aku banyak belajar darinya. Belajar dari sudut pandangnya. Sungguh keindahan hati yang mendapat inspirasi untuk bangkit kembali. Aku tekankan pada diri ini “AKU YAKIN AKU BISA. AKU MAMPU LUAR BIASA”. Sebuah kata yang membawa perubahan dalam hidup dan cerita hatiku. Sungguh kata yang memberi keajaiban dalam ceritaku. Kini aku bangkit. Ku berdiri tegak. Kulihat awan biru tersenyum padaku. Angin semilir buai aku kedalam semangat yang membara. Hari-hari yang panas kulalui dengan semangat hati untuk bangkit lagi. Aku bangkit. Aku berubah. Banyak perubahan kualami. Banyak cerita kulalui. Bukan hanya cerita cinta. tapi tentang kehidupan yang bermakna.

Kini aku sadari betapa indahnya hidup. Betapa agung kuasa-Nya. Segalanya tak ada yang sia-sia. Luar biasa. Dorongan yang luar biasa. Aku kembali berprestasi. Dan benar. La takhof innallaha ma’ana. Jangan takut. Sesungguhnya Allah selalu bersama kita. Dan kuyakinkan dengan la takhof innaka antal a’la. Jangan takut sesungguhnya engkaulah yang menang. Subhanallah. Allah memberiku kemenangan.

Aku semakin dekat dengan dirinya. Ingin kuraih cintanya tapi aku sadar. Siapa aku? Siapa ia? Pantaskah diriku? Aku hanya diam. Apalagi aku juga mengetahui ia rebutan banyak orang. Hanya orang yang pantaslah yang berhak bersanding dengannya. Yang berhak melindungi hak-hak cintanya.

* * *

Gadis yang pernah luluh lantakan diri itu datang kembali. Ia hadir dengan senyum gelak tawa dalam canda yang tak bisa aku lihat secara nyata. Hanya sebuah untaian kata yang mewakili ekspresinya. Ia kembali tersenyum padaku membawa sebuah harapan baru lagi. Caranya panggil aku, gayanya logat bicaranya padaku, sentuhan katanya yang ia ucapkan padaku, mengingatkanku awal aku bertemu dengannya. Dan ketika itu awal pula cinta tumbuh mengawali hariku.

Ketika ku tanya “hay, bukankah dirimu ini sudah ada jiwa yang hiasi hati mu?”. Ia berkata dengan nada-nada lembut penuh harapan padaku. “apakah ada jiwa-jiwa yang tenang hampiriku mas? Apakah pantas diri ini berhak dimiliki?”. Aku bilang “tak mungkin diri seperti dirimu belum ada yang memiliki. Tak mungkin diri seperti dirimu tak pantas dimiliki. Hanya orang-orang pantaslah yang berhak memiliki dirimu. Ia berkata “Belum berani singgah mungkin mas. Ia belum berani singgahi hati yang mungkin tak layak ini. Jika ada yang pantas, siapakah?” Aku hanya terdiam membisu, tanpa membalas kata-kata darinya.

Aku tak jadi berpaling lagi. Entah tak tahu kenapa pasukan hatiku mulai tegak kembali. Pohon cinta suci yang sempat berguguran dan rapuh tak bernyawa, kini ia mulai tumbuh kembali bahkan berbunga kemekaran berdaun hijau kalbu. Bermekaran kemegahan warna hati. Taman-taman hati mulai tumbuh nan indah. Mulai bercabang, mulai berbunga mulai memasuki musim semi cinta.

Terus seperti ini. Ia sering kembali disaat aku ingin berpaling darinya. Tapi setelah aku kembali dengan hari-hari biasaku. Ia pergi lagi tanpa jejak. Aku tak tahu kemana ia pergi. Dan aku tak tahu maksud hati menemui diriku kembali. “Mungkinkah sebuah ikatan batin?” “Tak mungkin” batinku. Tapi kenapa ia mengerti keadaan hati ini. Mengerti waktu-waktu untuk kembali padaku dan terus membisikkan ku untuk kembali padanya.

Dan ketika waktu itupun aku mulai terngiang oleh nya. Dengan segala keindahan hati. Dengan segala bayangan semu. Dengan segala hologram-hologram yang pancarkan sebuah sinar keabadian. Sebuah sinar yang ketika aku bertemu dengannya. Dengan bayang ia berwajah kemerahan ketika menemui diriku. Seakan ia malu dengan kecantikannya. Ia membisu dengan cinta bisunya. Ia menyembunyikan sesuatu entah apa. Itulah terakhir kali aku berjumpa dengamu ya khumairah. Dengan wajah mu yang merah delima, terus pertanyakan hati apa yang daku rasa? Tapi diriku tak tau apa yang diri mu rasa. “Ya khumairah” panggilan kasih rosullulah kepada Aisyah istrinya sang gadis yang berpipi merah delima. Dan aku panggil ia dengan sebutan ya khumairah, sebagai perwujudan dan kenangan terakhir kali ku bertemu dengannya. Begitu membekas. Begitu terasa bekas guyuran lembut pandangannya. Hingga tak kering kemuning hingga hari ini.

Sungguh keanehan yang nyata. Iringi derap langkah. Sungguh ia wanita pertama yang membuatku seperti ini. Kadang aku nampak gila. Membayangkan seorang gadis yang tak tentu arah dimana. Membayangkan cinta abstrak yang sulit dimerti oleh hati.

Dari sini aku belajar perjuangan. Perjuangan mempertahankan rasa ini. Ku kokohkan benteng-benteng cintaku kembali. Ku perbaiki tembok-tembok cinta yang retak. Ku buat pondasi yang lebih dalam lagi agar tak terkoyak oleh badai cinta semu yang siap menyerang. Dan kini aku mengerti. Nilai sebuah perjuangan, bukanlah seberapa cepat anda memperoleh kemenangan, tetapi seperapa lama anda bertahan dalam kesulitan.

Begitu lama ku bertahan. Ku tetap diam dalam benteng cinta yang mulai suram. Tak ada yang berkunjung. Tak ada pula yang memerangi. Hingga ruangnya pun penuh debu nan kusam. Tapi aku tetap sabar dalam penantian. Aku terdiam. Aku membisu. Penuh haru.

***

Hari demi hari kulalui. Telah seperti biasa perasaanku ini. Hingga ku tibalah hari ketika ia datang dengan penuh harapan. Yang akan hiasi hari-hari ku dengan tawa indahnya. Sebuah hari yang pernah kuharapkan tiga tahun yang lalu. Dimana nampak begitu jelas bunga merah itu jatuh dalam bejana yang kosong. Yang diterbangkan oleh angin angin cerita. Menuju sebuah taman diantara benteng cinta dan istana hati. Ia menetaskan benih benih baru. Dengan segala keindahannya. Benih itupun tumbuh kembali. Pohon cinta yang kering dulu, kini telah tergantikan olehnya. Begitu indah begitu permai. Mulai daun, ranting, cabang mulai tumbuh begitu pesatnya. Bunga bunganya pun mulai nampakkan kuncupnya.

Taman hati terasa hidup kembali. aku bernaung dalam angan. Dengan harapan-harapan yang telah ku harapkan. Aku duduk dikursi-kursi yang telah disediakann olehnya. Begitu sejuk. Begitu tenang. Entah kegembiraan apa yang kurasa. Ruangan hati pun berhias bendera-bendera yang melambangkan kekuatan imperium kerajaan cinta. Begitu megahnya kerajaan ini. Semoga penantian ini tak berakhir dengan sia-sia. Akan tetap kokoh benteng ini. Dan akan tetap jaya imperium cinta ini.

Tapi disaat pasukan hati sudah siap menyambutnya dengan taburan mawar merah. Tiba-tiba hati ini terasa kaku. Terasa ambigu. Terasa dalam kebimbangan yang nyata. Takut terlena karena cinta. Takut luluh hancur karena hati. Aku takut, jika mencurahkan dan mengungkapkan perasaan ini akan terjadi perang kembali. Sungguh aku tak suka perang. Aku takut. Aku bimbang. Aku ragu.

Aku tersingkur dibilik kamar hatiku. Aku tersipuh dalam doaku. Dalam keheningan malam hati. Tanpa rasa. Tanpa daya. Hanya hening. Sangat hening. Air tangis luluh dari mata sang raja imperium. Ku berdoa dalam tangisan hati.

TUHAN…//Saat aku mencintai seorang teman//Ingatkan aku akan adanya sebuah akhir//Sehingga aku akan tetap bersama Yang tak pernah berakhir//TUHAN…//Ketika aku merindukan seorang kekasih//Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu//Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi//TUHAN…//Jika aku hendak mencintai seseorang//Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu//Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu//TUHAN…//Ketika aku sedang jatuh cinta//Jagalah cinta itu//Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu//TUHAN…//Ketika aku berucap “Aku cinta padamu”//Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu//Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu//Sebagaimana seorang bijak berucap//Mencintai seseorang bukanlah apa-apa//Dicintai seseorang adalah sesuatu//Dicintai oleh yang kau cintai sangatlah berarti//Tapi dicintai oleh SANG PECINTA adalah segalanya//

Sebuah doa kupanjatkan dalam rintihan hati yang bimbangkan diri. Aku bersujud dihadap-Nya. Mencari suatu petunjuk yang nyata. Agar aku tak terjatuh dalam jurang-jurang hati. Dengan kedalaman yang tak tau arti. Sehingga ketika engkau terjatuh, begitu sakit. Tak bisa kubayangkan betapa sakitnya. Hingga langit pun menangis karnanya. Dan aku tak mau itu. Sungguh ku tak mau.

Derap langkah batin mendesakku ke dalam ujung-ujung jembatan cinta penghubung. Seluruh pasukan mulai mengepungku dari segala lini. Mereka mendesakku untuk mengungkapkan perasaan ini. Mereka sudah tidak sabar lagi akan hadirnya seorang ratu yang akan hiasi istana ini. Yang akan melengkapi imperium ini. Yang akan menata taman hati. Yang akan menyuarakan suara merdu untuk menghibur diri dan hati yang tak pernah terhibur sebelumnya.

Aku terpojok. Aku tak kuasa. Telah kucoba kulawan. Tapi kekuatanku tak mampu menghalaunya. Akhirnya kuberanikan diriku. Ku proklamasikan kepada rakyat hatiku. Aku berkata “Okey baikkkkk. Aku akan mengungkapkan perasaan ini. Tapi jika anda akan mengahadapi perang kembali atau pun badai yang didepan siap menghadang. Anda harus siap?”. “Kami SIAP” sahut mereka. Sebuah sahutan hati yang yakinkanku untuk mencurahkan perasaan ini.

Akhirnya akupun beranikan diri untuk lebih maju kedepan. Derap langkah diri, derap detak jantung bertabuh genderang imperium cinta. telah dikawal beberapa pasukan yang siap sambut dengan taburan bunga. Aku melangkah kedepan. Terus maju kedepan. Genderang jantung terus bertabuh. Dipertigaan perbatasan rasa ini aku berucap :

Aku tak kan pernah memaksamu mencintai diriku. Aku tak kan pernah melarangmu mencintai orang lain. Aku tak pernah ingin membebani dirimu atas perasaanku. Karena aku tahu kita masih mencari jati diri. Karena aku tahu kita masih mencari cinta sejati. Sungguh Jika engkau dilahirkan bukan sebagai jodohku. Walau kita mencoba untuk bersatu. Toh kita akan berpisah jua. Sungguh jika engkau dilahirkan sebagai jodohku. Walau kita mencoba untuk berpisah. Sungguh kita akan bertemu jua. Tapi hanya Allah lah yang mengetahuinya. Biarlah cinta ku ini mengalir apa adanya. Seiring bergulir waktu dan rotasi rasa. Jika cinta ini ingin pudar. Biarkan ia pudar. Dan sungguh aku tak ingin mengikat hal ini. Karena khalil Gibran pernah berkata: “Cintailah satu sama lain. Tapi jangan mengikat cinta. Biarkan ia mengalir diantara pantai-pantai jiwamu” . Sungguh Deepak copra juga bersua “sesungguhnya cinta adalah kebebasan. Ikatan mencabut cinta. Karna ikatan itu ekslusif. Sedangkan cinta itu inklusif. Ikatan itu penuh tuntutan. Sedangkan cinta tidak dibebani dengan tuntutan”. Maaf jika aku keterlaluan dalam hal ini. Batin terasa membeku. Jiwa terasa kaku. Fikirpun tak tentu. Karna terdesak batin yang ingin ungkapkan. Sebuah perasaan yang terpendam dalam. Dan ku serahkan semua ini pada mu. Karna ku tak tahu apa yang dirimu rasa. Tentang siapa yang dirimu cinta.

Sungguh suatu kebebasan yang nyata setelah ku ungkapkan perasaan ini. Terasa aku begitu terbang. Dengan awan-awan putih yang kulalui. Walau ku tak tahu bagaimana jawabnya. Tapi hati ini telah bebas lepas. Tali-tali cinta yang mengikatku telah terlepas dengan sendirinya. Tulang-tulang yang terbelit telah kembali dalam kebebasan yang nyata.. Hingga ia pun menjawab

Bissmillah, dengan menyebut nama Allah tuhanku. Sungguh lidah tak dapat berucap. Sungguh hati tak tahu tentang diri ini. Aku bingung mau berkata apa. Aku ragu mau bilang apa. Sesungguhnya aku tak menyangka dirimu akan ucapkan ini padaku. Aku belum percaya ini adalah kisah nyata. Apakah aku bermimpi? Tapi aku tak tahu makna. Aku tak mengerti cinta itu apa. Mungkin hanya sebuah ketertarikan.

Itulah jawabannya. Jawaban penuh ambigu. Atas jawaban itu aku tak mengerti apakah ia mencintai diriku atau tidak. Tapi yang terpenting aku telah ungkapkan perasaanku ini. Seluruh penghuni imperium telah bersorak sorai. Walaupun sang ratu belum bisa ku bawa pulang dan bersinggah didalam istana cintaku ini. Ia masih kebingungan dengan perasaannya. Mungkin ia seperti dibawa kedalam pintu surga cinta. tapi ia ragu apakah ini nyata atau mimpi belaka. Ia masih belum berani masuk kedalamnya.

Kemudian ia bertanya “Sungguh aku tak percaya. Mengapa dirimu memilih diriku? Bukan yang lain yang lebih mulia dari diriku?”. Ku bilang “Bukankah hidup adalah pilihan?”. “Tapi, mengapa pilihan itu jatuh padaku. Padahal diluar sana masih banyak putri nan cantik yang mengharapkan bersanding dengan mu. Berdasarkan apa engkau memilih wanita itu?”. “Berdasarkan kekurangan yang aku miliki” ku bilang. Ia bingung. Ia termenung.

Ku bilang “Bukankah Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan? Mengapa? Agar mereka dapat melengkapi satu sama lain. Begitupun dengan ku. Aku menemukan kelebihan yang kau miliki yang bisa menutupi kekurang yang ku miliki. Tetapi walau begitu, aku tidak akan memaksamu mencintai diriku.”

Hari demi hari berlalu. Aku mencintainya secara inklusif dan diam-diam. Aku tidak mendeklarasikannya bahwa aku mencintainya. Hanya aku dan rakyat hatikulah yang berhak mengetahuinya. Mungkin tak ada orang dari negeri lain yang mengetahui perasaan ini. Hingga muncullah dera goda yang menghadang. Banyak raja dari negara sahabat yang menginginkannya. Yang tertarik dengan keanggunan dan kecantikannya.

Yah, aku hanya diam. Aku tak dapat berkata apa-apa. Akupun tak berhak memutuskan apa-apa. “Hay badai . . . pasti sebentar lagi engkau akan kembali” gumamku dalam hati. Dan benar. Banyak sekali orang yang menyakan tenang dirinya padaku. Aku tak dapat menolak. Tapi aku juga tak bisa bertindak. Aku terdiam. Aku tutupi semua jalan cerita ini. Dalam raut wajah penuh manipulasi.

Dan aku mengetahui banyak yang mendekati dirinya. Yang hanya ingin sekedar berbincang. Ataupun lebih dari itu. Aku melihatnya didepan mataku. Aku melihat kehidupannya. Aku merasakan betapa awan hitam kelam kelabuhi diriku ini. Hingga ku tak bisa melihat taman hati kembali.

Memang benar. Ia mutiara marjan. Walaupun diam, masih tetap benyak yang berebut mendapatkan. Aku sadari aku hanya jiwa-jiwa biasa. Yang tak cukupkan waktu untuk memantaskan diri bersanding dengannya. Begitu gundah kurasa. Aku sedikit mundur kebekang. Sedepa demi sedepa.

Apalgi ketika aku mengetahui. Seorang sahabat sejati ku pun menginginkannya. Ia ingin bersanding dengannya. Aku tak tega rasa dan raga. Aku lepas. Aku ajukakan ia padanya. Lebih kurekomendasikan sobatku dari pada diriku. Tak tertahan aku ditera badai kabut itu. Aku tak menginginkan perang saudara mengiringi hari-hariku. Aku ingin kedamaian. Aku ingin persahabatan.

Apalagi ketika sahabat ku dengan penuh antusiame menceritakan kisahnya bersama wanita itu. Bak disambar petir mungkin. Dengan kilatan-kilatan yang menghantam diriku. Dengan suara dentuman kerasnya kagetkan diriku. Membuat diriku tidak tenang. Suatu kekacauan hati kurasa. Tapi aku tutupi semua demi harga diri seorang sahabat.

Begitu mendengar certinya. Dengan senyum yang menyertainya ketika bercerita tentangnya. Sebuah tanda yang tak terbantahkan. Bahwa ia mencintainya. Dan seperangkat diri yang tak tega menghalaunya mendapatkan kebahagiaan cintanya.

Aku tersentuh olehnya. Aku tetap diam. Aku terus mundur kebelakang. Ku tarik semua pasukan hatiku. Apalagi aku telah berjanji tidak memaksanya mencintai diriku. Aku telah berjanji tidak melarangnya mencintainya orang lain. Aku telah berjanji tidak ingin memberatkannya karna perasaanku. Aku tak ingin membuatnya menderita karnaku.

Memang kemarahan tanpa sebab menyertai diriku. Kadang ia menjadi korban atas hal itu. Dan baru kusadari hari ini. Aku cemburu. Karna ku tak ingin memberatkan dan menyakitinya karena hal ini. Aku pun sedikit perlahan mulai mundur. Aku agak menjauhi kehidupannya. Semakin jauh. Dan lebih jauh. Aku tak ingin mengganggu hidupnya. Aku bahagia melihatnya bahagia.

* * *

Sepuluh tahun dari hari itu. Ketika aku pulang dari negeri yang berbenteng tembok-tembok besar. yang melindungi negeri dari kaum-kaum yang ada diatasnya. Negeri yang memiliki pasukan. Walau kini telah menjadi batu. Karna begitu lamanya ia menantikan kehadiran sang kekasih yang tak kunjung menghampirinya. Ia pun bersama pasukan-pasukan cintanya membatu(china).

Tak terasa sepuluh tahun sudah. Ada sebuah keganjalan didalam diri ini. Hingga mengingatkanku dan memaksaku untuk kembali. Kembali pulang ke negeri ku. Kembali pulang ke kampung halamanku. Entah apa. Aku tak tahu tentang kegalauan yang kurasa. Begitu ambigu. Tak dapat ku mengartikannya. Tak dapat ku terjemahkan tanda-tanda yang hujani diri. Tak dapat pula ku paksakan perasaanku untuk tidak kembali. Ada apa? Ada apa gerangan?

Oh tuhan. Lindungi hati ini. Cerita ini. Diri yang letih ini. Oh tuhan. Sungguh aku tak mengerti. Tentang rasa hati ini. Tentang keinginan untuk kembali. Begitu terasa. Begitu pekik. Sangat sakit. Entah apa. Aku tak tahu. Aku tak mengerti.

Di depan pintu rumah yang membesarkanku, pelukan bunda yang hangat sambut aku dengan air mata dipipinya. Sambut aku dengan senyum dibibirnya. Begitu menawan. Begitu rasa rindu yang tak tertahan. Aku duduk diatas kursi yang dulu pernah aku duduki. Bunda menatapku lekat-lekat. Sangat pekat. Ku melihat ada air mata yang masih melingkupi mata yang telah tua itu. Sangat dalam pandangannya. Hingga air mata kehidupan itu pun mengalir dipojok-pojok lubang hati. Mengalir basahi pipi yang mulai keriput itu.

Aku tak tahan melihatnya. Aku bertanya “Oh bunda, mengapa engkau menatapku sebegitu dalam. Hingga aku merasakan ada sebuah pesan yang belum engkau sampaikan dan ingin engkau sampaikan padaku. Apakah itu?” bunda menjawab “Nak, sungguh bunda tak tega menceritakan ini padamu. Nak, sungguh bunda tak ingin melihatmu dengan kesedihan dihari-harimu. Nak, bunda tak ingin jika ku ceritakan hal ini, akan hilang semangat juangmu. Akan hilang cerita-cerita yang pernah engkau agung-agungkan.”

Begitu dalam untain kata-kata beliau. Menyentuh kedalaman hati ku ini. Tapi aku tak juga mengerti apa yang beliau maksud. Hingga kemudian ia menyodorkan padaku secarik kertas berwarna biru. Dengan bingkai indah. Dengan gambar sepasang merpati yang menghiasinya. Ya, benar. Sebuah undangan pernikahan. Tertulis nama Alifia Aurelia dengan Ibnu Zaid.

Alifia Aurelia. Sebuah nama yang biasa aku sebut Ya khumairah. Ibnu Zaid. Ia adalah sahabatku yang mencintai Alifia begitu dalam. Hingga ku lepas ia padanya. Entah apa, sebuah meteor hujam benteng dan istanaku. Kini ia luluh. Hancur. Berserakan. Hanya tinggal puing-puing yang tak dapat diberdirikan lagi. Aku terjebak didalam puing-puing cinta ini. Hingga tak terasa, air mata berlinang di pipi ini yang telah lama kering tak dilalui sumbernya.

“Sudah lah nak. Jangan lah engkau bersedih. Mungkin ia bukanlah jodohmu. Sebenarnya, nak Alifia juga sering berkunjung ke sini. Tapi engkau selalu tidak ada.” Perjelas ibu yang mencoba tenangkanku. “Ketika aku melihat dari matanya, ia begitu sangat ingin bertemu dengan mu nak. Ia begitu merindukanmu. Dan sepertinya ia begitu mencintaimu. Tapi bunda tak berkata apa, karna engkau pernah cerita bunda tentang sahabatmu yang mencintainya. Dan engkau tak ingin membahas itu lagi. Jadi, bunda tak bercerita padamu.”

Ketakutan hati yang kurasa kini terbukti sudah. Kini jelas sudah. Kenapa hati ini dalam kegalauan. Kenapa diri ini begitu ambigu. Mungkinkah masih ada ikatan batin antara aku dan dirinya? Aku tak tahu itu. Tapi ini yang ku rasa. Begitu menusuk ketika bunda bercerita. Begitu ada penyesalan ketika bunda mengatakannya. Tapi apa daya. Jodoh ditangan sang kuasa. Dan baru ku sadari, ternyata walaupun kurasa ia mencintai sahabatku, tapi ia masih menaruh rasa padaku. Oh betapa kejamnya diriku yang dulu pernah meninggalkannya. Yang dulu pernah menjauhi dirinya. Tapi apa daya. Waktu telah berlalu. Dan ku tak dapat berbuat apa-apa.

“Yahhh, mungkin bukan jodohku bun. Biarlah mereka bahagia, dengan cinta mereka. Biarlah ia tersenyum, dengan seorang kekasih yang kuat menjaganya. Dan mungkin memang Ibnu Zaid lah yang pantas bersanding dengannya. Bukanlah diriku.” Sebuah pernyataan yang begitu memilukan. Yang kuucap dengan nada desah. Yang ku ucap begitu berat. Hingga tersendak aku dalam mengucapkannya.

***

Hari tertanggal dalam undangan biru adalah hari ini. Aku berangkat dengan keraguan hati menuju resepsi pernikahan mereka. Pernikahan orang yang sangat aku sayangi dan juga seorang sahabat yang sangat aku kasihi. Derap langkah batin ini mengalun dengan sendu. Tapi apapun itu, aku harus datang demi harga diri seorang teman. Aku menjadi saksi atas perikatan suci. ikatan cinta yang akan abadi. Aku menjadi saksi ikatan janji mereka. Aku melihat langsung ketika sahabatku berucap akan berjanji menlindungi dan mengasihi Alifia Aurelia. Sungguh jika ingin aku menangis sedalam dalamnya, tapi aku sebagai saksi atas mereka. Dengan derap kata terbata, aku menyetujui mereka. Aku mensahkan mereka menjadi sepasang kekasih sejati.

Tapi ku melihat tak terdapat senyum dalam wajahnya. Alifia. Mengapa engkau bersedih? Denyut matamu dengan linangan air mata yang belum membasahi pipimu seolah tunjukkanku ada untaian kata yang belum terucap. Pandanganmu terhadapku seperti ada sebuah harapan yang engkau harapkan dari padaku. Oh Alifa. Jangan lah engkau bersedih. Mungkin inilah kegembiraan sejatimu. Bukan dari padaku kegembiraan itu berasal, tapi dari padanya kegembiraan itu ada.

Hai Alifia, jika cukup derap waktu. Sungguh ada satu kata yang ingin ku ucap padamu. Yanf sampai kini belum aku sampaikan. Hai Alifia. Selama aku pergi, belum ada yang bisa menggantikan kehadiranmu. Tapi apa daya. Engkau telah bahagia bersamanya. Semoga engkau bahagia hai Alifia.

Aku pun berdiri mengucapkan selamat atas mereka. Ketika kuhampiri Ibnu Zaid sungguh senyum yang menawan dari wajahnya. Begitu bahagia ia dalam pernikahannya. Tak percuma aku merelakan Alifia untuknya. Tapi, ketika ku hampiri Alifia. Sungguh aku tak dapat berkata apa-apa. Aku diam. Dia pun diam. Kami hanya menatap mata dalam dalam.

Matanya terbujur kaku melihatku. Tak ada senyum dalam wajahnya. Terlihat kerut pilu dalam wajahnya. Terlihat kesedihan yang mendalam darinya. Terlihat juga rindu yang lama telah terobati. Walau terobati dengan racun hati. Matanya berlinang air. Entah airmata yang ia tunjukkan atas kegembiraan padaku. Entah air mata yang ia tunjukkan atas kesedihannya padaku.

Akhirnya aku pun berucap “Aurelia. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga dirimu bahagia bersamanya.” Ku ucap pelan. Sangat pelan. Terberatkan oleh rasa ini dalam mengucapkan kata hati. Sungguh sangat sempit sekali hati ini. Derap jantung yang menggebu semakin memukul rasa hati. Sangat sakit. Begitu sakit.

Ia masih tetap terdiam. Kini air mata yang ia tahan, berguguran dilinangan kerutan pilu pipinya. Tak tahan ia dengan ucapanku. Tapi ia segera basuh air matanya. Mungkin tak ingin sang kekasih melihatnya bersedih. Dan ia jawab dengan keletihan “Ya Latif. Terima kasih atas kedatangan engkau. Engkau masih merelakan waktumu untuk datang. Terima kasih Latif. Tak ada kata yang bisa kucap lagi. Hanya terima kasih kamu telah kembali. Walau dalam akhir yang seperti ini.” Begitu dalam ucapannya. Hingga membuatku terjatuh dalam suatu jurang kehidupan. Ku terjatuh. Ku tak bisa bangkit lagi. Ranting-ranting pohon hantam aku ketika aku terjatuh. Sangat pedih. Sangat perih. Begitu sakit. Sangat sakit.

Aku pun berjalan menjauhi dirinya. Beberapa meter dari pelaminan, aku menengoknya kembali. Ia masih melihatku dengan tatapan pilu. Aku tak tega melihatnya. Aku terus berjalan pulang. Walau dalam sempoyongan. Walau dalam lubang hati yang semakin dalam. Walau dalam derita cinta yang mungkin tak kan tersembuhkan.

Di balik sisi, aku bahagia melihatnya bahagia. Terasa terbebas batin ini. Tidak dibebani dengan keragu-raguan cinta. Karna kini aku percaya ia telah mencintainya. Dan ia bahagia bersama kekasihnya. Dan telah ada sesosok orang yang pantas bersanding dengannya dan berhak melindungi hak-hak cintanya. Terasanya nyaman diri ini. Walau sebenarnya hati ini tersakiti. Dan kini, benar-benar ku lepas dirinya. Selamat jalan Ya Khumairah. Selamat jalan abstraksi Cintaku. Alifia Aurelia.

~~~***SELESAI****~~~

Blora, 23 Agustus 2012

IMAM HANAFI

One thought on “Abstraksi Cinta

  1. Ping-balik: IMAM HANAFI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s