Arkeologi Blora


MANFAAT PENELITIAN ARKEOLOGI BAGI MASYARAKAT

Oleh : H. Gunadi Kasnowihardjo

Balai Arkeologi Yogyakarta

PENDAHULUAN

          Sejak tiga tahun terakhir ini Pemerintah Kabupaten Blora melalui kegiatan yang diusulkan oleh Kantor Kebudayaan dan Pariwisata mulai menggali potensi sumberdaya budaya yang ada di wilayah ini, salah satu diantaranya adalah sumberdaya arkeologi. Blora sebagai salah satu sasaran penelitian arkeologi sudah berjalan sejak tahun 1970 an. Walaupun penelitian arkeologi telah sering dilakukan, akan tetapi masih bersifat parsial dan hasil antara penelitian yang satu dengan yang lain belum terintegrasikan dalam satu tujuan yang terkait dengan upaya pengembangannya.

          Archaeology without its public is nothing, pepatah ini mensiratkan suatu pemahaman bahwa sumberdaya arkeologi adalah milik masyarakat dan untuk masyarakat. Oleh karena itu untuk apa dilakukan penelitian arkeologi apabila tidak akan bermanfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat disekitar ditemukannya sumberdaya arkeologi tersebut. Tuntutan seperti di atas selama ini belum disadari oleh para peneliti arkeologi, sehingga kebanyakan penelitian arkeologi masih belum terintegrasikan dengan kepentingan sektor dan stake holder lain. Hasil penelitian arkeologi tidak serta-merta disosialisasikan kepada Pemerintah dan masyarakat setempat. Laporan penelitian arkeologi ataupun produk publikasi lain dari hasil penelitian arkeologi tersebut biasanya berhenti di file para peneliti atau di rak buku perpustakaan. Maka sering kita jumpai suatu kenyataan bahwa seseorang warga masyarakat yang tinggal di dekat situs arkeologi mereka tidak tahu tentang potensi tersebut.  Setiap kegiatan penelitian arkeologi harus disosialisasikan sejak awal atau sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan penelitian, agar masyarakat dapat memahami potensi yang dimilikinya.

          Dalam sistem manajemen sumberdaya arkeologi sektor penelitian harus dapat berperan sebagai leading sector, hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang No.5  Tahun 1992, tentang Benda Cagar Budaya bahwa kegiatan penelitian, pelestarian, dan pemanfaatan benda cagar budaya merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan harus dikerjakan secara simultan tetapi berurutan. Seperti penulis usulkan dalam buku Manajemen Sumberdaya Arkeologi-2 tentang konsep Three in One dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi di Indonesia (Kasnowihardjo, 2004). Sebagai lembaga yang harus mengawali kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi, sektor penelitian dituntut tidak hanya bekerja secara akademik, akan tetapi harus memiliki visi dan wacana yang bersifat praktis dalam kaitannya dengan dua sektor lainnya yaitu sektor pelestarian dan sektor pemanfaatan.

PENELITIAN ARKEOLOGI DI BLORA TAHUN 1977 – 2005

          Penelitian arkeologi di wilayah Kabupaten Blora telah dimulai sejak tahun 1977 yaitu penelitian yang dilakukan di Dusun Jigar, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa di Dusun Jigar sedikitnya ada lahan seluas 2.500 m² yang memiliki potensi temuan sumberdaya arkeologi yang berasal dari masa plestosin. Temuan tersebut berupa fosil-fosil binatang purba seperti yang ditemukan di Situs Sangiran. Lokasi penelitian yang tidak jauh dari aliran sungai Bengawan Solo, secara geologis diketahui bahwa temuan beberapa fosil binatang purba tersebut berada pada endapan aliran Bengawan Solo Purba. Atas dasar hasil penelitian tersebut dapat diidentifikasi berbagai jenis hewan yang pernah hidup pada masa itu antara lain gajah, rusa, kura-kura, sapi, serta kerbau (Moeljadi dkk., 1977).

          Pada tahun 1978, dilakukan penelitian yang difokuskan pada kegiatan survey eksploratif untuk mengetahui potensi daerah aliran sungai Bengawan Solo Purba, dengan mencari teras-teras sungai purba tersebut. Survei dilakukan di Desa Getas, Kecamatan Cepu, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, dan Desa Doplang, Kecamatan Jati. Potensi tinggalan arkeologis hanya ditemukan di Desa Medalem dan Desa Mendenrejo yaitu fosil binatang purba. Bahkan di daerah ini penduduk setempat kadang-kadang menemukan fosil-fosil tulang binatang purba seperti gajah dan kerbau. Seperti halnya temuan di Dusun Jigar, beberapa fosil tulang binatang yang ditemukan di Medalem dan Mendenrejo antara lain berasal dari hewan seperti babi, kerbau, gajah, dan rusa. Di Desa Mendenrejo, selain fosil-fosil binatang purba juga ditemukan sejumlah artefak yang diperkirakan berasal dari masa klasik seperti uang kepeng dan fragmen keramik Cina (Haryono dan Suryanto, 1978).

          Penelitian arkeologi di Desa Medalem dilanjutkan atau diulangi lagi pada tahun 1982 dengan sasaran mencari tinggalan tinggalan fosil-fosil tulang binatang dan manusia purba. Hingga saat itu fosil manusia purba belum pernah ditemukan dari hasil penggalian yang dilakukan di lokasi penelitian. Temuan hasil penelitian berupa fosil binatang purba seperti rusa, kerbau, sapi, banteng, dan gajah. Selanjutnya penelitian sejenis juga dilakukan di Desa Mulyorejo, Kecamatan Cepu pada tahun 1984. Penelitian ini dilakukan atas berita adanya temuan fosil gading gajah purba di areal pengambilan pasir. Hasil penelitian di Desa Mulyorejo antara lain menemukan fosil-fosil binatang purba seperti gajah, rusa, banteng, kerbau, dan badak. Selain fragmen fosil tulang binatang purba juga ditemukan cangkang kerang jenis pelecypoda dan tulang-tulang binatang yang diperkirakan telah dibentuk sebagai alat. Alat batu yang ditemukan dari penelitian ini adalah serpih dan bilah. Diperkirakan alat batu dan alat kerang tersebut berasal dari masa kehidupan manusia purba yang fosilnya ditemukan di daerah Ngandong (Moeljadi, 1984).

          Pada tahun 1997 penelitian arkeologi dilakukan di Situs Lemahduwur, Situs Genjeng, di Desa Getas dan Situs Kamolan, Kecamatan Blora. Hasil penelitian ini antara lain ditemukan beberapa tinggalan  dari masa berkembangnya budaya Hindu-Budha di Indonesia. Temuan di Situs Lemahduwur diperkirakan sebuah candi dari batu padas dan berlatar belakang agama Hindu. Di Situs Genjeng ditemukan sebuah batu prasasti yang bertuliskan Jawa Kuno dan berbahasa Sanskrta. Di atas baris tulisan terdapat goresan yang melambangkan gambar matahari dan bulan. Menurut MM. Sukarto Kartoatmodjo prasasti tersebut dapat dibaca Raganaya atau Ragadaya yang bermakna bimbingan cinta atau kekuatan cinta. Apabila dikaitkan dengan sengkalan atau candra sengkala prasasti tersebut menunjukkan angka tahun 1269 Saka atau tahun 1347 Masehi. Temuan sisa-sisa sebuah candi bata di Desa Kamulan, Kecamatan Blora, diperkirakan merupakan candi agama Hindu. Hal ini berdasarkan konteks temuan sebuah fragmen arca yang ditafsirkan sebagai arca Dewi Durga (Istari, 1996).

          Penelitian tentang sebaran alat-alat paleolitik dan neolitik di sekitar aliran Bengawan Solo pada tahun 2003 Kecamatan Randublatung dan Kradenan antara lain menemukan 16 buah alat paleolitik dan fosil-fosil binatang purba seperti jenis-jenis yang pernah ditemukan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Temuan 16 buah alat batu paleolitik di atas belum dapat dijadikan sebagai bukti adanya budaya paleolitik di kawasan ini (Saptomo, 2003). Penelitian berikutnya adalah tahun 2005 dan 2009 yang memfokuskan pada kawasan pegunungan Kendeng, terutama di lokasi gua-gua hunian masa prasejarah. Dari penelitian ini diketahui bahwa di Blora bagian utara  ditemukan beberapa gua yang diperkirakan pernah dihuni oleh manusia prasejarah.  Dari beberapa gua yang ditemukan di wilayah Kecamatan Todanan tersebut, ternyata hanya Gua Kidang yang memiliki potensi sumberdaya arkeologi. Hal ini didasarkan atas temuan ekskavasi yang dilakukan di gua tersebut, antara lain alat kerang (serut), alat dari tulang seperti sudip, penusuk, lancipan, dan manik-manik. Beberapa jenis artefak tersebut merupakan bukti adanya kehidupan manusia prasejarah (Nurani, 2005). Gua Kidang merupakan gua hunian manusia prasejarah diperkuat dengan temuan hasil penelitian tahun 2009 antara lain alat-alat dari kerang dan tulang, serta gigi dan fragmen tulang manusia (Nurani, 2009).

PENELITIAN KERJASAMA PEMERINTAH KABUPATEN BLORA

DAN BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA

          Sejak tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Blora melalui Kantor Pariwisata dan Kebudayaan merintis satu kerjasama dengan Balai Arkeologi Yogyakarta dalam kegiatan penelitian arkeologi. Kerjasama yang dimaksud dalam kegiatan ini yaitu Pemerintah Kabupaten Blora menyediakan sejumlah dana, sedangkan Balai Arkeologi Yogyakarta menyumbangkan sejumlah peneliti arkeologi yang dibutuhkan.

          Berbeda dengan kegiatan-kegiatan penelitian sebelumnya, penelitian kolaboratif antara Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora dan Balai Arkeologi Yogyakarta ini diterapkan paradigma baru yaitu satu pendekatan yang berwawasan pelestarian dan pemanfaatan. Oleh karena penelitian ini bersifat eksploratif dan menggali potensi sumberdaya arkeologi, maka kegiatan dimulai dengan survey yang dilakukan pada tahun 2006. Selanjutnya untuk tahun 2007 dan 2008 ini mulai dilakukan ekskavasi atau penggalian pada situs-situs yang potensial untuk dilakukan penggalian.

          Hasil kegiatan penelitian tahun 2006 adalah menginventarisir situs-situs dan potensi arkeologis yang ada di wilayah Kuwung dan sekitarnya. Sekaligus melakukan pendataan ulang pada situs-situs yang pernah dikunjungi atau disurvei oleh tim peneliti arkeologi sebelumnya. Hasil dari kegiatan tahun 2006 antara lain merekomendasikan beberapa situs potensial untuk dilakukan penelitian lebih tajam, yaitu dengan metode ekskavasi. Beberapa situs yang penting untuk diekskavasi antara lain Situs Kuwung, Situs Guwo Sentono, dan Situs Lemahduwur. Kegiatan ini perlu diusulkan dalam kerjasama lanjutan di tahun berikutnya.

          Penelitian tahun 2007 dikonsentrasikan pada kegiatan ekskavasi di kawasan situs Kuwung. Penelitian arkeologi yang dilakukan di Situs Kuwung ini bertujuan mendapatkan data mengenai keberadaan Situs Kuwung dalam rangka menyusun historiografi situs Kuwung secara khusus maupun Kabupaten Blora secara umum. Seperti diketahui bahwa Kabupaten Blora mempunyai peran penting dalam konstelasi historiografi dari masa prasejarah hingga masa kolonial. Situs-situs arkeologi dapat dijumpai di wilayah Ngandong, Jigar, Mulyorejo, Ngregem dan lainnya. Kegiatan penggalian diharapkan dapat menemukan potensi dan data baru, serta untuk menampakkan sisa-sisa struktur bangunan yang diperkirakan sisa suatu bangunan candi yang terbuat dari bahan bata. Penelitian atau ekskavasi dilakukan di tiga sector atau Test Pit (Lubang Uji), yaitu Lubang Uji (LU) 1 di lokasi yang diperkirakan sebagai bekas reruntuhan bangunan candi bata, LU 2 di lokasi yang diperkirakan sebagai situs kubur prasejarah, dan ekskavasi LU 3 adalah untuk mencari data tentang Kuwung Purba (masa plestosin).

          Ekskavasi lubang uji yang pertama dibuka adalah LU 1 dengan menggunakan sistem kuadran dengan ukuran 6 x 6 meter yang terbagi dalam 4 kuadran. Alasan pemilihan sistem ini adalah setelah melihat kondisi bakal calon LU 1 yang berada di lahan tegalan yang berada di wilayah Perhutani. Lokasi Kotak LU 1 cukup datar dan dijumpai tatanan bata kuna yang telah disusun oleh penduduk setempat sebagai hasil penggalian liar. Kotak LU 1 dibuka untuk mendapatkan dan merunut temuan bata kuna yang telah diangkat serta untuk mendapatkan dimensi bangunan secara vertikal maupun horizontal.

          Hasil ekskavasi LU 1 menunjukkan akan adanya sebuah candi dari bata di Dusun Kuwung, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan. Pernyataan ini diperkuat oleh temuan 2 buah antefix yang merupakan komponen dari bagian suatu candi Hindu ataupun Budha. Sedangkan ukuran atau denah candi diperkirakan 5 m x 5 m, sedangkan sebagian besar material bangunan telah hilang sehingga tidak mungkin untuk dilakukan rekonstruksi. Walaupun demikian disarankan bata yang berada di permukaan tanah maupun hasil dari penggalian sebaiknya tidak ditimbun kembali, agar dapat ditunjukkan kepada masyarakat luas. Sayang hal ini tidak mungkin untuk dilakukan mengingat factor keamanan yang tidak dapat menjamin akan kelestarian bata-bata tersebut.

          Hasil ekskavasi LU 2 dan LU 3 tidak menemukan sasaran yang diharapkan. Penggalian di LU 2 yang bertujuan untuk mencari data tentang situs kubur dari masa megalitik, seperti yang pernah ditemukan oleh para penggali barang purbakala (penggalian liar), hingga mencapai bed rock lapisan tanah asli yang bukan lapisan budaya, tidak menemukan artefak dan data apapun. Sedangkan ekskavasi di LU 3 yang bertujuan mencari tinggalan dari masa plestosin juga tidak menemukan sisa-sisa fosil binatang ataupun manusia purba. Dari hasil penggalian LU 3 ini diketahui struktur lapisan tanah yang dapat memperkuat bahwa di lokasi penelitian ini terdapat formasi Kabuh yang merupakan layer tempat hidupnya manusia dan binatang purba kala plestosin (Gunadi Dkk, 2007).

          Oleh karena pertimbangan keamanan, sebagian hasil ekskavasi LU 1 disimpan di Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora, dan selanjutna lubang uji tersebut ditutup kembali.  Agar hasil penelitian ini dapat dipahami oleh masyarakat seyogyanya lubang uji tidak perlu ditutup atau ditimbun kembali. Rupa-rupanya pada saat itu masyarakat setempat belum siap menerima tugas-tugas pelestarian dan perlindungan yang harus dilakukannya apabila suatu lubang penggalian tidak ditimbun atau dibiarkan terbuka dengan artefak yang ditemukannya.

          Penelitian tahun 2008 antara kegiatan survey dan ekskavasi dilaksanakan secara simultan. Untuk itu tim peneliti dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok survey dan kelompok ekskavasi. Survei eksplorasi masih dilanjutkan dikawasan Kabupaten Blora bagian selatan, sedangkan ekskavasi dilaksanakan di situs Sentono. Situs Sentono yang hingga sekarang ini masih belum diketahui karakteristiknya, maka perlu dilakukan kajian yang maksimal. Baik kegiatan survey maupun ekskavasi yang dilaksanakan pada tahun 2008 ini telah diterapkan paradigma yang memperhatikan berbagai kepentingan. Dengan kata lain bahwa penelitian kali ini merupakan penelitian yang berwawasan pelestarian dan pemanfaatan.

          Dari kegiatan survey dapat diketahui adanya beberapa table yang memuat potensi sumber daya arkeologi dalam berbagai jenis karakteristiknya antara lain kondisi keutuhan material, keterawatan, dan keterancaman dari suatu bahaya. Sehingga dari hasil survey tersebut akan dapat dinilai atau dibobot situs-situs atau potensi sumber daya arkeologi yang mendesak untuk ditangani, kurang mendesak untuk dikelola lebih lanjut, ataupun situs-situs yang belum perlu mendapatkan perhatian. Sedangkan dari kegiatan ekskavasi di Situs Guwo Sentono, hasil penelitian di sisi timur atau sektor timur menemukan sisa-sisa pondasi dinding batu andesitis dan bata. Selain itu dari ekskavasi disisi timur juga ditemukan susunan tangga yang menghubungkan antara teras pertama dan kedua. Atas dasar hasil penggalian di Situs Sentono ini dapat disimpulkan sementara bahwa bangunan situs Guwo Sentono merupakan bangunan berteras yang tersusun dari sedikitnya tiga tingkat atau teras. Apakah ada unsur bangunan yang didirikan pada salah satu teras, hingga saat ini masih belum dapat dipastikan. Demikian pula tentang jenis bangunan dan latar belakang keagamaan ataupun periodisasinya, semuanya masih perlu kajian dan penelitian lebih tajam dan mendalam. Hasil ekakavasi yang cukup siknifikan baru ditemukan di sisi timur, sedangkan dari ekskavasi sisi selatan yang diperkirakan akan menemukan data seperti yang ditemukan di sisi timur, belum dapat dicapai. Ekskavasi yang dilakukan di lokasi yang diperkirakan bagian dari sudut bangunan, ternyata juga tidak menemukan hasil seperti yang diharapkan.

PEMANFAATAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI DI KABUPATEN BLORA

          Sumberdaya arkeologi setelah dilakukan penelitian, selanjutnya apabila memungkinkan perlu dilestarikan agar dapat diwariskan kepada anak cucu generasi mendatang. Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Bab VI pasal 19 menyebutkan bahwa benda cagar budaya (potensi sumberdaya arkeologi) dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, social, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Bahkan kalau di Negara-negara maju pemanfaatan sumberdaya arkeologi sudah sangat kompleks antara lain :

  1. Scientific research,
  2. Creative arts,
  3. Education,
  4. Recreation and tourism,
  5. Symbolic representation,
  6. Legitimation of action,
  7. Social solidarity and integration,
  8. Monetary and economic gain. (Cooper, Firth, Carman and Wheatley, 1995 dalam: Kasnowihardjo, 2001).

Seperti telah diuraikan di atas bahwa Kabupaten Blora memiliki potensi sumberdaya arkeologi yang sangat lengkap, yaitu tinggalan dari awal masa prasejarah hingga masa datangnya bangsa Barat ke Nusantara. Walaupun potensi yang ada tersebut belum semuanya diungkap secara akademis, akan tetapi apabila dapat dikemas dengan baik, maka sumberdaya arkeologi dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya. Sehubungan dengan hal ini dibawah akan dijelaskan contoh-contoh bagaimana mengemas suatu sumberdaya arkeologi agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Kunci utamanya adalah pengenalan obyek atau situs sumberdaya arkeologi agar dapat diketahui oleh masyarakat luas. Penulis yakin bahwa banyak orang Blora yang sampai saat ini belum tahu adanya Candi Kuwung atau Candi Sentono. Oleh karena itu hasil penelitian arkeologi di situs candi Kuwung dan Sentono, semestinya dapat ditindaklanjuti dengan publikasi dan penyebarluasan informasi yang intensif, sehingga masyarakat akan penasaran adanya berita – berita seperti tersebut. Akan tetapi harus dipertimbangkan pula bahwa obyek yang akan dipublikasikan haruslah dipersiapkan dan dikemas terlebih dahulu agar tidak mengecewakan bagi orang yang datang untuk melihatnya.

Kemasan yang lain yaitu melengkapi situs dengan atraksi-atraksi yang berkaitan dengan situs atau lokasi setempat. Contoh : Mengembalikan fosil kerbau purba ke lokasi penemuan semula dan didisplay agar lebih menarik. Fosil kerbau purba ini secara psikologis bagi masyarakat Kuwung dapat dikaitkan dengan cerita Ki Gede Kuwung. Namun yang perlu dicatat dan selalu diingat adalah biaya pemeliharaan suatu obyek tidaklah sedikit, karena butuh tenaga dan sarana lainnya. Kalau Pemerintah Kabupaten Blora mampu memberikan subsidi, tidak ada masalah. Oleh karena itu pengelolaan sumberdaya arkeologi akan lebih baik apabila tidak mengantungkan dari subsidi pemerintah, melainkan dapat dilakukan secara swakelola oleh masyarakat setempat. Dengan demikian masyarakatlah yang akan bertanggung jawab baik pemeliharaan, pelestarian, maupun pemanfaatannya. Selanjutnya pemerintah tinggal memberikan pengarahan-pengarahan yang bersifat teknis, praktis dan akademis.

PENUTUP

          Penelitian arkeologi di wilayah Kabupaten Blora pada dasarnya telah sering dilakukan. Oleh karena beberapa penelitian masih bersifat parsial dan terkesan berjalan dengan tujuannya masing-masing, maka hasil penelitian arkeologi tersebut belum dapat dirasakan oleh pemerintah kabupaten maupun masyarakat Blora. Oleh karena itu diharapkan penelitian yang belum dan akan dilakukan kedepan nanti agar memperhatikan dan mengintegrasikan dengan rencana dan program kegiatan dari Pemerintah Kabupaten Blora, cq. Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.

          Balai Arkeologi Yogyakarta mengucapkan terima kasih atas kerjasama dalam kegiatan penelitian arkeologi yang digagas oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Blora yang dilaksanakan sejak tahun 2006-2008. Sehingga penelitian arkeologi akan terintegrasikan dengan program daerah sehingga sasaran dan tujuan penelitian dapat dikonsentrasikan pada permasalahan yang bersifat praktis.

          Mengenai hasil penelitian arkeologi yang dilakukan sejak tahun 1977 hingga tahun 2005 an seyogyanya Pemerintah Kabupaten Blora cq. Kantor Pariwisata dan Kebudayaan mulai menginventarisir guna perencanaan pengelolaan sumberdaya arkeologi di Kabupaten Blora. Potensi sumberdaya arkeologi di Kabupaten Blora cukup beragam yaitu dari masa prasejarah, masa klasik, masa Islam, hingga tinggalan dari masa kolonial Belanda.

Pada dasarnya seluruh potensi dan sumberdaya arkeologi adalah milik masyarakat, oleh karena itulah masyarakat yang berhak memanfaatkannya. Namun demikian, pemanfaatan tersebut dapat diwujudkan apabila masyarakat didukung oleh berbagai pihak. Untuk itu, diharapkan partisipasi dan kerjasama antar stake holder agar masyarakat dapat merasakan manfaat dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi.

DAFTAR BACAAN :

Cooper, Firth, Carman, and Wheatley. 1995. Managing Archaeology, Routledge, Printed and bound in Great Brittain by T.J. Press Ltd., Padstow, Cornwall.

Gunadi Dkk., 2007. “Ekskavasi Situs Kuwung, Kec. Kradenan-Kab. Blora”, Laporan Penelitian Arkeologi, Kerjasama Pemerintah Kabupaten Blora dan Balai Arkeologi Yogyakarta.

Gunadi Dkk. 2008. “ Eksplorasi Sumberdaya Arkeologi di Kawasan Blora Bagian Selatan”, Laporan Penelitian Arkeologi, Kerjasama Pemerintah Kabupaten Blora dan Balai Arkeologi Yogyakarta.

Haryono, Timbul dan Suryanto, Diman, 1978. “Laporan Survei Kendeng Lereng Utara”, Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta.

Istari, Rita.T.M. 1996. “Penelitian Arkeologi Situs Candi Lemahduwur, Desa Getas, Kec. Menden, Kab. Blora”, Laporan Penelitian Arkeologi, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Belum diterbitkan).

Kasnowihardjo, Gunadi. 2001. Manajemen Sumberdaya Arkeologi,  Makassar : Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS).

Kasnowihardjo, Gunadi. 2004. Manajemen Sumberdaya Arkeologi – 2, Diterbitkan oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Kalimantan.

Moeljadi Dkk., 1977. “Laporan Geologi Daerah Jigar, Mendenrejo, Blora”, Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta.

Moeljadi, 1984. “Sedimentasi dan Posisi Stratigrafi Fosil Elephas pada Formasi Kabuh di Daerah Mulyorejo, Cepu, Blora”, Yogyakarta: Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.

Nitihaminoto, Goenadi. 1977. “Laporan Ekskavasi Jigar (Blora)”, Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nurani, Indah Asikin 2005. “Pola Okupasi Gua-Gua Hunian Prasejarah Kawasan Pegunungan Utara Jawa di Kabupaten Blora” Laporan Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Yogyakarta, (belum diterbitkan).

Nurani, Indah Asikin 2009. “Pola Okupasi Gua-Gua Hunian Prasejarah Kawasan Karst Blora Tahap III” Laporan Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Yogyakarta, (belum diterbitkan).

Simanjuntak, Truman. 1982. “Laporan Arkeologis Ekskavasi Paleoantropologi Medalem, Blora”, Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala D.I. Yogyakarta.

Widianto, Harry. 1985. “Laporan Pertama Ekskavasi Mulyorejo, Kec. Cepu, Kabupaten Blora”, Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s