Inspirasi-inspirasi Insting


INSPIRASI-INSPIRASI INSTING

Sebuah kisah, semua langkah mananti dalam keabadian hati. Dalam langkah malakukan semua yang kan terus abadi. Kugapai mimpiku dan jangan sampai aku putus di tengah jalanku. Saat mentari tengokkan senyumnya padaku ku balas dia dengan semangat yang baru tuk meraih mimpi. Katika jiwa dan hati terpaksa menggapai mimpi maka ku hilangkan rasa terpaksaku itu dan ku ikhlasan semua perbuatanku. Karna semua yang sempurna berawal dari keikhlasan di hati.

Itulah sebuah renungan insting dan inspirasi dalam hatiku ketika aku terjatuh dan terjatuh lagi dalam meraih mimpi menjadi yang terbaik di kelasku. Dalam perjuangan ini kulewati beberapa peristiwa yang terus bimbangkanku dalam memilih arah disetiap pilihan. Beginilah nasib seorang remaja yang masih mencari jati diri untuk temukan “Siapa aku dan bagaimana aku?”. Tak hanya satu atau dua kebimbangan di hati, tapi bnyak kebimbangan yang terus kelabuhi hati yang terus meronta-ronta untuk mencari jalan yang benar dan yang tertepat.

Suatu pagi yang cerah di SMA 1 Blora, aku datang kesekolah jam setengah tujuh kurang tapi masih sepi dan bahkan hanya ada dua atau tiga orang saja. Tidak seperti sekolahan di desaku yang jam enam pagi aja sudah ramai. “Mungkin inilah kehidupan orang kota” ungkapku dalam hati. Kemudian aku berjalan ke kelas yang teletak di paling pojok utara di bawah kelas dua belas IPA. Sesampainya di kelas ada seorang gadis yang berjilbab sudah duduk sambil belajar. Ia adalah Ami yang kata teman-temanku ia tu rajin dan pintar tak hanya itu ia pun katanya muslimah yang solikhah.

“Assalamu’alaikum?”

“Wa’alaikum salam warohmatullaah” jawabnya.

“Belajar apa am?”

“Ni o . . . din lagi belajar matematika.”

“Pagi-pagi gini belajar matematika? Apa gak bosen kamu belajar matematika terus am? Eh ngomong-ngomong rumah mu tu mana ?”

“Manusia ya harus berusaha to din, hidup juga perlu berjuangan gak ada hidup yang gak ada perjuangan, bosen gak bosen ya hidup juga harus dijalani. Kan dalam al-quran juga sudah dijelaskan to din bahwa allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika ia tidak merubah nasibnya sendiri. Jadi kalau ingin bisa matematika ya harus belajar sendiri untuk merubah kita dari yang semula tidak bisa jadi bisa. Dan percayalah din bahwa sebuah perjuangan pasti membuahkan hasil. Orang jawa bilang “sopo nandur bakal ngunduh” kalau di al-quran itu dalam surat alam nasrah yang berbunyi ”fainnama’al ‘usri yusra” yang artinya sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan” jawabnya panjang lebar.

“Aduh ya ya, kok aku malah diceramahin sih. Ya makasih atas ceramahnya bu Nyai?  ha . . . ha . . . semoga belajarmu juga membuahkan hasil, eh kok pertanyaan terakhirku gak dijawab sih? Jawab dong!” Jawabku sambil bercanda.

“Emang yang terakhir kamu tanya apa ae?”

“Hah gini deh, jawabnya tadi kepanjangan sih ya jadi lupa, ya udah aku ulangi rumah mu itu di mana?“

“Oh rumah ku? Rumahku ya pastinya ya di Negara Republik Indonesia lah, masak di Malaysia. Uh . . . . kamu tu.”

“Kok jawabnya gitu sih, kalau gitu adik ku juga tau, uh kamu tu . .! aku ni tanya beneran ya di jawab beneran dong, kan kamu juga tau bahwa jika ada seseorang bertanya baik-baik ya harus dijawab baik-baik. Apa kamu takut kalau aku datang untuk apel?”

“Idih . . . . GR, emang kamu tau rumah ku? Kok bisa-bisanya datang untuk apel.”

“Lha makanya aku tanya di mana rumahmu, kalau akau tau ya gak mungkin lah aku tanya.”

“Rumahku di . . . . . . . . ? hemmm. . . . suatu desa di Jepon, paling kamu juga gak tau kalau saya beri tahu.”

“Lha kamu disini kost atau nglaju?” tanya ku lagi.

“Ow,  aku di sini ikut guruku, rumahnya yang dekat dengan LP itu yang warnanya biru dan di depannya ada pohon mangga yang mungkin sekarang belum berbuah karena belum musimnya.”

“Emang sekarang belum musimnya mangga, tapi kamu tu yang bermusim matematika ha . . . . “

Jarum jam kecil yang berwarna merah menempatkan diri di nomor dua belas dan kedua jarum lainnya menempatkan diri pada angka tujuh dan angka dua belas, bel pun berbunyi dan para siswa mulai masuk ke ruangan. Jam pertama adalah pelajaran agama  yang dibina oleh bapak Muttaqin. Ia adalah orang yang selalu memberi motivasi untuk berbuat baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Karena kita itu hidup di duia maka kita juga harus berbuat dalam perpakara dunia, dan nanti kita juga akan ke akhirat maka kita juga diwajibkan berbuat baik untuk mempersiapkan diri  untuk kehidupan akhirat.

Kata-katanya yang tak pernah ku lupa adalah bahwa “HIDUP ITU HARUS BERGUNA UNTUK ORANG LAIN, KARENA MANUSIA DIBERI HIDUP UNTUK BERGUNA BAGI YANG LAIN. Dan beliau juga bilang untuk jangan menyiakan waktu, dalam Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: Seorang anak Adam mencaci-maki masa padahal Akulah masa, siang dan malam hari ada di tangan-Ku. Jadi kita dilarang bermalas-malasan walaupun di waktu senggang dan sebisa mungkin kita untuk memanfaatkan waktu. Tapi kadang aku itu lupa akan waktu yang terus melaju dan ingin menggilasku. Tapi berkat nasehat dari guruku itu aku jadi berubah akan prinsip-prinsipku yang tak mendasar menjadi agak luntur dari raga yang sering lalai.

Kata-kata beliau telah memotivasiku untuk berubah. Sekarang aku telah berfikir bahwa aku harus berguna bagi orang lain terutama orang tuaku, karena keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua (HR. Al Hakim). Apalagi mereka telah berjuang mencari nafkah untuk menyekolahkanku di SMA 1 Blora ini. Mereka adalah petanii yang menggarap lahan di sawah. Beliau berpesan pada saya untuk menjadi orang yang bisa “mikul duwur mendem jero” yang berarti mengangkat derajad orang tua. Dan juga mereka berpesan supaya ilmu  yang aku cari menjadi ilmu yang berguna dan bermanfaat. Karena kata beliau ilmu yang tidak berguna itu bagaikan pohon yang tak berbuah. Jadi pohon itu bisa besar dan berdaun lebat tetapi tidak bisa menghasilkan buah yang dapat dinikmti orang lain. Dan beliau juga berkata bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amal yang tak terputus hingga akhir zaman.

Dari pernyataan kedua orang tuaku itu aku berffikir untuk menjadi profesor dan membuat alat dan mesin multi guna. Yang bisa membantu banyak orang dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Terutama bagi para petanii yang sekarang amt benar-benar tertindas karena mereka itu sangat berusaha keras untuk menanam padi tapi pupuk mahal, benih mahal dan apalagi harga beras yang sebelum panen itu Rp. 5000-Rp.8000 tapi ketika panen hanya Rp.3500 sampai Rp.5000. Dan lagi musim hujan ketika panen yang membuat tambahnya penderitaan petanii karena mereka tidak bisa mengeringkan padinya. Dengan adanya penderitaan yang semakin banyak kepada mereka aku terinspirasi untuk membuat suatu alat yang dapat berguna bagi para petani. Yaitu jika pada musim hujan dan langit terus mendung maka untuk mengeringkan padi dengan cara membuat lapisan bawah yang digunakan untuk mengeringkan padi dengan menggunakan bahan dari aluminium karena aluminium adalah bahan penghantar panas yang baik sehingga panasnya merata. Dan aluminium tadi diberi pewarna hitam karena warna hitam adalah warna yang bisa menyerap panas. Selain itu di atasnya juga diberi atap yang terbuat dari lensa cembung, untuk menimalisir dana maka lensa cembungnya terbuat dari plastik yang lensa ini biasanya dibuat minan oleh anak-anak dan harganya terjangkau. Gunanya lensa cembung untuk atap adalah karena lensa cembung bersifat mengumpulkan panas sehingga panasnya matahari bisa mengumpul jadi satu untuk mengeringkan padi. Selain itu gunanya atap itu untuk penutup ketika hujan, jadi para petanii gak usah susah-susah kalau hujan tiba.

* * * * * *

Angin terus berhembus dalam lajunya. Waktupun terus melangkah dalam porosnya. Terasa aku sudah hampir setahun dikelas ini, tak teraasa sudah jatuh bangun aku dari kegagalan. Yang mulanya aku bila ulangan selalu remidi tapi berkat suatu hikmah dari kata-kata teman, guru, dan orang tua serta orang lain yang membuatku menjadi lebih baik. Emang benar jika kita mau mencoba segalanya pasti bisa. Makanya saya dilarang menyerah sebelum mencoba. Kata ibu, orang yang sebelum mencoba sudah menyerah sama saja dengan sebelum perang sudah mundur. Orang seperi itu namanya pengecut. Dan aku dididik orang tuaku tidak untuk menjadi orang pengecut, jadi aku tidak mau menjadi orang pengecut. Dan aku tidak takut mencoba.

Suatu pagi di kelasku, pagi itu tidak seperi biasanya. Karena banyak siswa yang sudah datang kurang lebih setengah dari jumlah siswa yang ada di kelasku. Padahal kalau hari biasa mereka datang sekitar jam setengah tujuh lebih tapi sekarang sudah datang jam setengah tujuh kurang. Dalam hati aku berbisik mungkin mereka sudah taubat, tapi insting ku mengatakan lain mungkin mereka hanya tobat TOMAT tobat umat. Karena sekarang PR mematika banyak dan lagi ntar mau ulangan. Kemudian aku masuk ke kelas yang sudah agak ribu itu.

“Assalamu’alaikum?” aku memberi salam.

“Walaikum salam warohmatullah” jawab seseoarang dari mereka dan yang lain tidak menjawab salamku karena sibuk menulis dan belajar. Dan sudah ku duga yang menjawab salam hanya Ami yang sedang duduk santai sambil membaca buku di kursi dekat pintu.

“Lagi ngapain sih kok ramai banget? Nyontek PR?” tanyaku pada teman-teman yang sedang berkumpul mengitari satu buku.

“Bukan nyontek din tapi nyontoh dan saling berbagi” jawab anwar yang berada di sebelah kananku.

“Saling berbagi? Berbagi apa? Dan ini bukunya siapa?”

“Halah kayak gak tau aja sih din bisalah ini bukunya Ami, kan ia pintar matemtika.”

“Gini kok orang Indonesia  nuntut kemajuan bangsa. generasi penerusnya gini, negara mau di buat apa? Gini juga nuntut SDM dan pendidikan meningkat. Meningkat apanya? Meningkat bodoh dan liciknya?” aku bicara agak nyindir.

“Ya beginilah din orang Indonesia” jawab sebagian dari mereka.

“Sukanya nuntut tapi tak bisa jalanin” jawab lagi yang lain.

“Lha ya gini nuntut perubahan, kalau ingin perubahan ya harus berubah dari diri sendiri kemudian baru bersama-sama!” jawab ku.

Bel sudah berbunyi dan para siswa mempercepat tulisannya karena takut ketahuan nyontek PR. Ketika guru datang, beliau langsung menata bangku untuk diberi jarak dan ulangan pun dimulai. Saat ulangan banyak anak yang putus asa di tengah jalannya ulangan. Tapi ada sebagian anak yang serius mengerjakannya.

Bel pergantian jam pun berbunyi dan ulangan telah selesai. Tapi banyak anak tidak disiplin waktu, mereka masih mengerjakan walaupun mereka telah mendengar bel.

Seminggu setelah ulangan, ulangan pun dibagikan. Waktu itu namaku belum dipanggil. Dan lainnya telah dipanggil dengan nilai yang sangat mengenaskan. Mereka mendapatkan nilai 23, 35, 43 bahkan ada yang mendapatkan nilai 10 tapi sepuluh kecil lho bukan sepuluh besar, dan nilai ini hanya nilai kasihan karna sudah menulis ha.a.a.a. Tiba-tiba tibalah namaku dipanggil. Jantungku terasa akan copot dari raga yang kerempeng ini. Dan puas aku tak menyangka jika akhirnya aku mendapatkan nilai 96 dan hampir sempurna. Ada teman ku yang nilainya sempurna, tak lain dan tak bukan adalah ami dengan nilai 100.

Ya emang benar jika kita mau mencoba yang lebih baik maka akan dibalas dengan yang lebih baik. Karena allah telah berfirman dalam surat az zalzalah bahwa Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.Dan aku buktikan itu sendiri, maka dari itu jangan takut mencooba untuk menjadi yang lebih baik. Karena allah akan selalu membantu orang yang ingin berbuat baik.

 

* * * * * *

KARYA PERDANA

IMAM HANAFI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s