KUBUR PETI BATU (KUBUR KALANG): Warisan Budaya Nenek Moyang di Wilayah Blora dan Sekitarnya


KUBUR PETI BATU (KUBUR KALANG):

Warisan Budaya Nenek Moyang di Wilayah Blora dan Sekitarnya

 

 oleh

Bagyo Prasetyo

 

 

 

Pendahuluan

Megalitik sebagai wujud kebudayaan yang pernah berkembang di Nusantara mempunyai peranan cukup besar dalam kehidupan masyarakat masa lampau. Kehadiran megalitik selalu dicirikan oleh bangunan atau benda-benda yang dibuat dari batu-batu besar (mega= besar; lithos= batu). Namun demikian objek yang berasal dari batu kecil pun dapat dimasukkan ke dalam pengertian megalitik, apabila objek-objek tersebut jelas dibuat dengan tujuan sakral seperti pemujaan terhadap nenek moyang (Wagner 1959: 23-25). Secara lebih luas megalitik dimaknai sebagai batu-batu yang disusun maupun yang dikerjakan dan digunakan sebagai sarana aktivitas manusia yang berkaitan dengan penguburan, pemujaan, atau bagian yang berkaitan dengan aktivitas profan. Pengamatan secara teknologis menunjukkan bahwa megalitik dibuat kadangkala hanya dengan memanfaatkan sumber bahan batuan tanpa mengubah bentuk aslinya, namun demikian seringkali  mereka juga membentuk dan mengerjakan sumber bahan batuan sesuai dengan yang dikehendaki bahkan seringkali dihiasi dengan bentuk pahatan, maupun goresan (Hoop 1938:98-101).

Keberadaan megalitik sebagai sebuah kebudayaan dapat dibedakan dengan kebudayaan-kebudayaan lain baik yang berlangsung pada masa prasejarah maupun masa-masa yang lebih kemudian. Berbeda dengan di wilayah Eropa yang dimulai pada kurun waktu Masa Neolitik, kehadiran Kebudayaan Megalitik di Indonesia masih menjadi silang pendapat. Para penganut teori difusionis menyatakan bahwa hadirnya Kebudayaan Megalitik di Indonesia terjadi pada Masa Neolitik yang datang bersama-sama dengan Kebudayaan Beliung Persegi, kemudian  berlanjut lagi  pada  Masa Logam yang   datang   bersama-sama  dengan  Kebudayaan  Dongson. Dalam perkembangannya menunjukkan bahwa didasarkan pada pertanggalan karbon yang telah dilakukan terhadap sejumlah situs megalitik di Indonesia ternyata mempunyai umur lebih muda dibandingkan dengan pendapat klasik tersebut. Namun demikian untuk memperkuat bukti-bukti tentang kehadiran Kebudayaan Megalitik di Indonesia, perluasan pertanggalan karbon (C14) terhadap situs-situs megalitik masih sangat dibutuhkan.

Secara umum megalitik di Indonesia dikelompokkan dalam beberapa jenis yang terdiri atas arca batu, meja batu (dolmen), lumpang batu, lesung batu, bilik batu, silindris batu, tong batu (kalamba), kursi batu, bejana batu (waruga, kabang), punden berundak,  keranda batu (sarkofagus). batu tegak (menhir), temu gelang batu (stone enclosure), dan peti batu (stone cist) (Prasetyo 2008). Bentuk-bentuk megalit ini dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya seperti keranda batu dan meja batu sebagai wadah penguburan, kemudian arca, temu gelang batu, atau punden berundak yang berfungsi sebagai tempat melakukan aktivitas pemujaan. Adapun bentuk-bentuk yang berhubungan dengan kegiatan yang lebih bersifat ekonomis adalah silindris batu yang sebagian peneliti menafsirkan fungsinya sebagai umpak  batu, juga lumpang batu atau lesung batu untuk tempat menumbuk biji-bijian.

Bentuk Megalitik di Blora dan Sekitarnya

Sejauh hasil penelitian sampai saat ini, warisan megalitik yang masih tersisa di wilayah Blora dan sekitarnya diwakili hanya oleh bentuk peti batu yang pada umumnya menyebar di kawasan hutan  di wilayah antara Blora-Bojonegoro-Tuban. Sayangnya penelitian megalitik di Blora kurang intensif pelaksanaannya sehingga informasi mengenai persebaran di wilayah ini tidak begitu banyak. Informasi tentang peti batu di Blora sudah pernah  dilaporkan pada tahun sekitar tahun 1934 (Supardi 1934) dan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta sebagai kepanjangan tangan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) pada tahun 1978. Namun laporan tahun 1934 tidak memberikan penjelasan yang pasti tempat keberadaannya, sedangkan hasil penelitian tahun 1978 memberikan informasi tentang adanya peti batu di Giyanti (Puslitarkenas 1985) (Prasetyo 1985). Justru informasi yang lebih banyak didapatkan wilayah yang berbatasan dengan Blora, yaitu Bojonegoro dan Tuban. Situs megalitik di Bojonegoro terlihat di Kawengan, Kidangan, dan Gunung Mas, sedangkan di Tuban berada di Gunung Sigro (Sonori). Melihat konteks temuan antara situs-situs megalitik baik di Blora, Bojonegoro, maupun Tuban dapat dikatakan bahwa walaupun saat ini dipisahkan oleh wilayah administrasi, namun dalam kenyataannya bahwa situs-situs tersebut merupakan satu kesatuan budaya yang tidak bisa dipisahkan.

Bangunan megalitik berbentuk peti batu atau oleh masyarakat biasa disebut dengan nama kubur kalang dapat didefinisikan sebagai kubur berbentuk liang lahat yang terdiri dari lantai, empat dinding batu, dan tutup peti yang dibuat dari batu pipih. Dalam kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa kubur peti batu tersebut biasanya disusun dari lempengan-lempengan batu tipis (slab-stone) yang berbahan batu pasir gampingan (limestoneous sand-stone)  berupa bagian dasar, tutup, dan keempat dindingnya. Dinding-dinding peti batu didirikan pada keempat sisinya, yang pada umumnya terdiri lebih dari satu lempengan. Antara satu dinding dan dinding lainnya kadang-kadang ditemukan batu-batu yang berukuran kecil, yang melekat pada dinding, mungkin digunakan sebagai penguat berdirinya dinding. Melihat bentuk peti batu yang ada dapat diamati di wilayah Blora dan sekitarnya tampaknya teknik pembuatannya cukup sederhana tanpa penghalusan dan takikan. Oleh karena itu alat yang digunakan juga cukup sederhana, namun demikian paling tidak alat logam sudah digunakan pada saat itu.

Praktek Penguburan

Berdasarkan data hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang dilakukan antara tahun 1980 sampai 1987 dan penelitian Puslit Arkenas tahun 2003 menunjukkan bahwa teknik penguburan yang dilakukan adalah penguburan primer (primary burial).. Dalam prakteknya, mayat diarahkan dengan kepala ke arah timur dan letak kaki di arah barat. Orientasi seperti ini merupakan konsepsi chtonis, yang menganggap bahwa arah timur merupakan arah matahari terbit yang merupakan awal mula kehidupan, sedangkan arah barat merupakan arah matahari tenggelam dan dianggap sebagai akhir kehidupan. Ini melambangkan posisi mayat dalam orientasi suci kembali, karena disesuaikan dengan kesucian ketika dia lahir ke dunia (Handini dkk 2003).

Analisis terhadap komponen rangka yang dilakukan oleh Harry Widianto terhadap sisa-sisa tulang yang berhasil diamati dari kubur peti batu pada situs-situs di Blora dan sekitarnya menunjukkan individu yang dikubur dalam satu kubur berkisar antara 1, 2 dan 5 orang. Dalam pengertian bahwa cara penguburan terhadap si mati jarang dilakukan bersama-sama, namun lebih ditafsirkan bahwa satu peti kubur dapat digunakan untuk beberapa mayat tetapi dalam jangka waktu yang berbeda. Dapat terjadi bahwa individu-individu yang dikuburkan dalam satu peti kubur tersebut masih dari lingkungan keluarga sendiri. Melalui pengamatan terhadap tulang yang ditemukan menunjukkan adanya indikasi usia individu yang bervariatif. Selain individu dengan indikasi yang didominasi oleh individu dewasa, beberapa di antaranya ternyata masih anak-anak. Dari hasil anatomi menunjukkan bahwa usia anak-anak yang dikuburkan mempunyai kisaran antara 1-8 tahun, sementara yang dewasa mayoritas berusia 20-45 tahun, walaupun di antaranya ada yang telah lanjut usia (sekitar 60 tahun). Demikian pula dengan jenis kelamin, yang berhasil diidentifikasikan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (Handini dkk. 2003; lihat juga Widianto dkk 1990).

Identitas Rasial dan Kapan Aktivitas Penguburan Berlangsung

Lebih lanjut Harry Widianto juga telah melakukan identifikasi rasial terhadap individu yang telah dikuburkan melalui ciri-ciri bentuk tengkorak, bagian occipital datar, tidak ada prognatisme pada bagian muka , unuran gigi yang tidak terlalu besar, serta tulang panjang anggota tubuh yang tidak kekar, maka orang-orang yang dikuburkan tersebut mempunyai ras mongolid. Lalu bagaimana dengan hasil analisis ini dan hubungannya dengan Orang Kalang yang seringkali disebut orang masyarakat. Walaupun eksistensi Orang Kalang memang nyata, namun , sejauh ini belum ada bukti-bukti yang konkrit baik data arkeologi maupun data tertulis berhubungan dengan kaitan antara kubur peti batu atau kubur kalang dengan Orang Kalang.

Selain kubur, unsur artefak yang dijadikan penyerta sangat terbatas ditemukan dalam konteks peti batu. Beberapa kubur seperti di Kawengan menghasilkan bekal penyerta berupa fragmen tembikar, fragmen senjata besi, manik-manik, fragmen perunggu. Obyek penyerta tersebut dapat digolongkan sebagai unsur peralatan sehari-hari antara lain  tembikar, alat perunggu, alat besi. Namun demikian obyek-obyek lainnya juga dapat dikatagorikan sebagai perhiasan seperti manik-manik, cincin, maupun anting-anting. Melalui data tersebut di atas, maka kalau menganut aliran difusionisme maka kubur peti batu yang ada di wilayah Blora dan sekitarnya lebih mencirikan pada megalitik muda yang merupakan migrasi lebih lanjut yang muncul di Indonesia pada masa perundagian dimana peralatan logam besi dan perunggu sudah dikenal. Pertanyaan yang muncul di sini adalah apakah kubur peti batu yang hadir disini dapat dikatagorikan sebagai budaya yang berasal dari periode tersebut, ataukah berkembang pada masa-masa kemudian seperti yang terjadi pada beberapa tinggalan megalitik di belahan Indonesia lainnya. Alternatif yang bisa memberikan jawaban adalah perlu adanya pertanggalan absolut melalui C14 (pertanggalan karbon). Hasil pertanggalan yang telah dilakukan pada sisa-sisa arang dari hasil ekskavasi pada kubur peti batu di  Kidangan dengan umur  410±80 BP (1950) (Handini 2003:31). Pertanggalan ini kemudian dikalibrasikan menghasilkan kisaran angka tahun abad 15-17 M (Stuiver dan Reimer 1986-2005). Fakta menunjukkan bahwa walaupun hasil pertanggalan masih terbatas namun paling tidak telah mendapatkan gambaran yang agak jelas bahwa megalitik di wilayah Blora dan sekitarnya paling tidak telah berkembang pada abad-abad tersebut di atas.

Penutup

Dari uraian yang telah diutarakan di atas dapat disimpulkan bahwa kubur peti batu atau yang seringkali disebut dengan kubur kalang merupakan  salah satu produk dari budaya megalitik yang berkembang pada masa-masa kemudian ketika kebudayaan  Hindu-Buda bahkan mungkin kebudayaan Islam telah masuk di Jawa. Hal ini diperkuat oleh pertanggalan dari salah satu kandungan kubur peti batu. Walaupun demikian tidak terdapat unsur budaya Hindu Buda maupun Islam yang terkandung di dalamnya.

Kehadiran kubur kalang yang banyak ditemukan di wilayah Blora dan sekitarnya nampaknya masih sulit untuk dihubungkan dengan keberadaan Orang Kalang. Akan tetapi yang pasti bahwa tinggalan tersebut merupakan hasil budaya sekelompok masyarakat tertentu yang pernah hidup dan menghuni wilayah tersebut dan keberadaan kelompok itu sudah tidak dapat dilacak kembali.

PUSTAKA

Handini, Retno, Widianto, Harry, dan Prasetyo, Bagyo. Kompleks Kubur Peti Batu (Kubur Kalang) di Daerah Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur: Kaitannya dengan konsep religi kematian dan tatacara penguburan orang Samin dan orang Kalang saat ini. Jakarta: Bidang Prasejarah, Asdep Urusan Arkenas. 2003.

Handini, Retno. ˝Pertanggalan Absolut Situs Kubur Kalang : Signifikasinya Bagi Periodisasi Kubur Peti Batu di Daerah Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur˝ , dalam Berkala Arkeologi Tahun XXIII Edisi no 2/November. Yogyakarta : Balai Arkeologi Yogyakarta. 2003.

Hoop, A.N.J.Th.a. Th. Van der, “De Praehistories”, dalam Geschiedenis van Nederlands Indie, Ed. W.F. Stapel deel 1. Amsterdam: N.V. Uitgeversmaatschappij, 1938.

Prasetyo, Bagyo, Daftar Inventaris Peninggalan Megalitik. Bidang Prasejarah Puslit Arkenas, 1985.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Laporan Pelita IV. Jakarta. 1985.

Stuiver, M dan Reimer, P.J. Calib Radiocarbon Calibration Program. 1986-2005.

Supardi. Het Bosch. 1934,

Suryanto, Diman. Kubur Peti Batu Kidangan dalam Perbandingan, dalam PIA III. Jakarta: Depdikbud 1985. Hal. 142-148.

Wagner, Fritz A., “Indonesia The Art of an Island Group”, dalam Art of the World (Series of Regional Histories of The Visual Arts), Holland: Holle and Co, Verslag, 1959.

Widianto, H; Soedjono, Agus; Suryanto, D, Sistem penguburan masyarakat megalitik: kajian atas data hasil ekskavasi kubur kalang di Bojonegoro dan Tuban, AHPA Plawangan. Jakarta: Puslitarkenas. 1990.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s