POTENSI SUMBER DAYA ARKEOLOGI DI KABUPATEN BLORA


POTENSI SUMBER DAYA ARKEOLOGI DI KABUPATEN BLORA

OLEH DINAS PARIWISATA

A. PENDAHULUAN
Blora merupakan sebuah kabupaten yang berada di sisi timur propinsi Jawa Tengah. Memiliki luas sekitar 1.794,40 km² berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Pati di sebelah utara, kabupaten Tuban dan Bojonegoro di sebelah timur, Kabupaten Ngawi di sebelah selatan, serta Kabupaten Grobogan di sebelah barat. Secara geografis wilayah Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan Karst. Nama Blora belum banyak dikenal khalayak ramai, tapi blora sebenarnya menyimpan berjuta pesona potensi. Salah satu diantaranya adalah potensi dalam dunia kearkeologian.

Penelitian untuk menggali potensi arkeologi sebenarnya sudah banyak dilakukan, bahkan sejak akhir abad XIX. Penelitian di Blora dimulai oleh para peneliti asal Belanda dengan area sekitar Ngandong. Tetapi banyak yang menuliskan penelitian tersebut bukan penelitian di wilayah Blora. Hal ini dikarenakan wilayah Ngandong berada dalam KPH Ngawi, padahal secara administratif Ngandong merupakan wilayah Blora yang berbatasan dengan Ngawi.

Sejak tahun 2005 Pemerintah Kabupaten Blora melalui kegiatan yang diusulkan oleh Kantor Kebudayaan dan Pariwisata mulai menggali potensi sumberdaya budaya yang ada di wilayah ini, salah satu diantaranya adalah sumberdaya arkeologi. Blora sendiri sebagai salah satu sasaran penelitian arkeologi sudah berjalan sejak tahun 1970 an. Walaupun penelitian arkeologi telah sering dilakukan, akan tetapi masih bersifat parsial dan hasil antara penelitian yang satu dengan yang lain belum terintegrasikan dalam satu tujuan yang terkait dengan upaya pengembangannya (Kasnowihardjo, 2008).

B. POTENSI ARKEOLOGI BLORA

Blora memiliki berbagai potensi bagi penelitian arkeologi yang membujur dari barat ke timur dan utara ke selatan. Potensi tersebut secara lengkap bisa menggambarkan Blora dari masa ke masa. Sumber daya arkeologi di Blora terekam dalam arkeologi prasejarah, Hindu Budha (klasik), Islam dan Kolonial.

Blora yang sebagian wilayahnya berada di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo mempunyai titik penting dalam sejarah kehidupan manusia, karena sebagaimana diketahui Sungai Bengawan Solo merupakan sarana vital baik dalam segi transportasi maupun sebagai pemasok kebutuhan manusia.

Dimulainya kehidupan manusia yaitu masa Prasejarah di Blora ditandai dengan banyak ditemukannya tinggalan arkeologi di Ngandong. Temuan ini berupa 11 rangka manusia, alat tulang dan alat batu. Disini budayanya masih rendah dengan spesies manusia Homo erectus jenis Soloensis. Atau lebih dikenal dengan Homo erectus Soloensis yang merupakan jenis terakhir dari homo erectus (Simanjuntak, 2009).

Prof. Harry Widiyanto juga mengatakan bahwa Ngandong terkenal dengan alat tulangnya dan Sangiran terkenal dengan alat serpihnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Ngandong merupakan wilayah penting dalam dunia arkeologi karena mempunyai prototype kebudayaan sendiri. Di daerah lain mungkin sangat jarang bahkan tidak ada.

Masih dalam masa prasejarah, disekitar Ngandong atau tepatnya masih dalam wilayah Kecamatan Kradenan banyak ditemukan alat batu maupun tulang dengan teknologi yang lebih modern karena sudah ada pengerjaan ulang atau lebih dihaluskan dalam teknik pembuatan alat. Wilayah tersebut, antara lain Sembungan pernah ditemulkan fosil harimau (panthera tigris), serta di Sunggun (Ds. Medalem) ini pernah ada penemuan menghebohkan berupa fosil gajah purba (elephas) yang masih utuh.
Setelah kepunahan manusia purba yang pertama di Ngandong, ditemukan jenis manusia baru di Blora yaitu manusia jenis sapiens yang menghuni wilayah gua. Penelitian tentang hunian di gua banyak dilakukan, tetapi yang mengindikasikan gua hunian baru gua kidang. Penelitian di Gua kidang telah berjalan sampai lima tahap. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan alat-alat, cangkang moluska, dan rangka manusia.

Dr. Indah Assikin dan Tim Balar Arkeologi Yogyakarta yang secara telaten telah melakukan penelitian di Gua Kidang, menyarankan agar penelitian yang sampai lima tahap ini bisa dilanjutkan unutuk merumuskan tentang kronologi hunian sejak awal dihuni, perkembangan teknologi dalam pembuatan peralatan sehari-hari dan perhisan, sistem penguburan, serta pola hunian kompleks gua kidang.

Kehidupan prasejarah selanjutnya yaitu masa megalithikum, ditandai dengan peninggalan batu besar. Daerah temuannnya antara lain; di Bleboh (Kec. Jiken) berupa temuan kubur batu yang oleh penduduk sekitar sering disebut Kubur Kalang. Penelitian mengenai Kubur batu ini belum pernah dilakukan secara mendalam, hanya kegiatan survey yang dilakukan oleh BP3 Jawa Tengah.

Tahap kehidupan yang ada di Blora selanjutnya adalah masa Klasik. Pada tahun 1997 penelitian arkeologi dilakukan di Situs Lemahduwur, Situs Genjeng, di Desa Getas dan Situs Kamolan, Kecamatan Blora. Hasil penelitian ini antara lain ditemukan beberapa tinggalan dari masa berkembangnya budaya Hindu-Budha di Indonesia. Temuan di Situs Lemahduwur diperkirakan sebuah candi dari batu padas dan berlatar belakang agama Hindu. Di Situs Genjeng ditemukan sebuah batu prasasti yang bertuliskan Jawa Kuno dan berbahasa Sanskrta. Di atas baris tulisan terdapat goresan yang melambangkan gambar matahari dan bulan. Menurut MM. Sukarto Kartoatmodjo prasasti tersebut dapat dibaca Raganaya atau Ragadaya yang bermakna bimbingan cinta atau kekuatan cinta. Apabila dikaitkan dengan sengkalan atau candra sengkala prasasti tersebut menunjukkan angka tahun 1269 Saka atau tahun 1347 Masehi. Temuan sisa-sisa sebuah candi bata di Desa Kamulan, Kecamatan Blora, diperkirakan merupakan candi agama Hindu. Hal ini berdasarkan konteks temuan sebuah fragmen arca yang ditafsirkan sebagai arca Dewi Durga (Istari, 1996).

Selanjutnya penelitian dilakukan pada tahun 2010 oleh Tim dari Puslitarkenas yang dipimpin oleh Dr. Titi Surti Nastiti. Fokus penelitian ini adalah apakah benar DAS Bengawan Solo mempunyai keterkaitan dengan pusat peradaban Mataram Kuna. Hasil penelitian ini banyak menemukan sebaran keramik dari abad ke – X, serta tembikar dan manik-manik sebagai bekal kubur.

Pada penelitian tersebut menemukan fakta baru bahwa di daerah Blungun (Kec. Jiken) terdapat anak cabang Sungai Bengawan Solo yang dikenal masyarakat sebagai Kali Braholo. Kali ini erat kaitannya dengan aktifitas perdagangan, karena disekitar wilayah tersebut banyak ditemukan sebaran keramik dari Dinasti Tang. Di wilayah Blungun juga terdapat sebaran temuan tembikar dan rangka manusia yang dikubur dengan membawa bekal kubur.

Memasuki masa Islam, Blora merupakan poros penting. Siapa tidak kenal tokoh legendaris Arya Penangsang? Semua orang pasti tahu. Tetapi bukti-bukti arkeologis yang terkait dengan tokoh itu sangat minim, hanya berupa petilasan yang sekarang dijadikan punden dan makam-makam yang berada di wilayah Jipang Panolan.

Disamping tokoh Arya Penangsang tersebut, juga terdapat tokoh-tokoh lokal yang menempati posisi tidak kalah penting; diantaranya K.H. Abdul Qohar (Ngampel), Sunan Pojok, Jati Swara dan Jati Kusomo, Tumenggung Benowo, Ki Ageng Jipang dan masih banyak lokal figur yang lain. Tetapi belum pernah ada penelitian mendalam yang dilakukan karena sangat minimnya data-data arkeologi yang ada. Karena tinggalan yang terkait dengan tokoh tersebut hanyalah makam.

Tinggalan masa Islam yang identik dengan masjid maupun langgar juga ada, diantaranya ; masjid agung Blora, Masjid Assanami (Jati).

Periode masa berikutnya adalah masa kolonial, posisi Blora juga tidak kalah pentingnya. Hal ini ditandai dengan banyaknya tinggalan arkeologi kolonial terutama bangunan baik berupa bangunan publik maupun rumah tinggal. Di sepanjang jalan Pemuda Blora merupakan jalan utama kota terdapat bangunan yang berasitektur kolonial yang masih original. Sebagian bangunan-bangunan ini masih tersebar di kota blora dan sebagian lagi di kota-kota kecamatan. Di samping itu bangunan tinggalan ethnis Thionghoa juga masih dapat kita lihat di daerah kota.
Pada sisi lain tinggalan kolonial berupa makam Belanda juga ada yaitu di daerah Kunden (Blora) dan Mendenrejo (Kradenan).

C. KENDALA TERKAIT POTENSI SUMBERDAYA ARKEOLOGI
Suatu tempat yang mempunyai potensi sumberdaya yang banyak, tentunya mempunyai kendala yang tidak kalah banyaknya juga. Kendala tersebut dapat kita kategorikan dalam tiga hal, diantaranya :

1. Manusia (Human)
Manusia merupakan penghalang terbesar bagi potensi sumberdaya arkeologi. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang kurang, sehingga menyepelekan potensi sumberdaya arkeologi yang ada, karena dipikir tidak ada manfaatnya. Tetapi pengetahuan yang terlalu berlebih juga terkadang iya, karena saking tahunya mereka mengeksploitasi sumberdaya arkeologi untuk kepentingan sendiri. Misalnya ; dengan penjualan penemuan artefak, sehingga mereka melakukan penggalian liar. Hal ini banyak terjadi di Blora sangat marak dengan penggali kubur kuno, karena mengambil bekal kubur yang disertakan. Hal ini jelas-jelas sangat merugikan dunia kearkeologian, karena bagaimanapun data yang diperoleh nantinya berkurang yang akan berdampak pada analisis sehingga kesimpulan kurang valid.

2. Alam
Kondisi alam Blora yang sangat labil karena merupakan pegunungan Karst Utara, sehingga mengakibatkan terganggunya kelestarian sebuah situs. Maka dengan kondisi seperti ini manusia harus lebih tanggap menjaga kelestarian potensi sumberdaya arkeologi yang ada.

D. HARAPAN TERKAIT DENGAN POTENSI SUMBER DAYA ARKEOLOGI

Kami sebagai pihak pemerintah khususnya dan warga Blora pada umumnya mempunyai harapan yang besar sekali terkait dengan banyaknya potensi sumberdaya arkeologi yang dimiliki Blora, antara lain :

– Adanya penelitian-penelitian lanjutan
Kebanyakan penelitian di Blora hanya sebatas penelitian awal dan belum ada kelanjutannya sampai sekarang, kecuali gua kidang yang sudah sampai pada tahap ke-V.
– Adanya pemanfaatan baik dari segi IPTEK, ekonomi dan sosial budaya.
Selama ini potensi sumberdaya arkeologi yang dimiliki Blora hanya sebatas digunakan sebagai bahan penelitian arkeologi, sedangkan dari segi lain belum ada. Sehingga diharapkan potensi tersebut bisa membawa manfaat agar masyarakat lebih peduli dan peka dengan tinggalan-tinggalan arkeologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s