PENGEMIS KEKALAHAN


PENGEMIS KEKALAHAN

“Penulis abadi tidak menulis untuk kemenangan

Ia hanya menulis apa yang seharusnya ditulis”

Tersebutlah seorang pemuda. Dengan mata yang berbinar akan kemenangan. Langkah yang tegap akan kemenangan dan jiwa yang selalu optimis dalam kemenangan. Seluruh hidup dan matinya ia tujukan untuk kemenangan. Dengan alasan ia adalah makhluk pemenang dan pentakdir menang akan dirinya sendiri.

Ia lalui seluruh perlombaan dan tantangan yang menjadi sebab atas kemenangan dalam hidupnya. Setiap event pun ia lalui dan ia lakukan untuk kemenangan dan kebanggaan hingga kemudian ia tersadar oleh gumaman seorang pemulung yang ia temui waktu memunguti sampah-sampah bekas lomba.

“Manusia itu aneh, ia berjuang untuk kemenangan. Terus siapa yang berjuang untuk kekalahan? Alangkah tidak adilnya manusia.”

Ia pun  langsung menoleh mendengar gumaman pemulung itu, dalam hatinya ia hanya berkata “ah, manusia yang pesimis, jika kau tak merubah pola pikir semacam itu ya tentu tak mungkin engkau menang, miskin. Tak mungkin engkau kaya, miskin. Kau akan tetap menjadi pecundang dan pemulung. Tak kan mengubah dirimu menjadi pemenang seperi aku ini maupun orang-orang yang lomba ini. Mind set itu penting.”

Tiba-tiba pemulung itu menghampiri dirinya “Nak, jika mind set yang kau maksud itu penting, memang apa mind set sang pemenang sejati? Apakah ia menang untuk mengalahkan yang lain? Sehingga dalam doanya ia berdoa kemenangan kepada Tuhannya yang sama halnya engkau meminta Tuhanmu untuk mengalahkan teman-teman yang sekaligus lawanmu itu. Mind set semacam itukah yang engkau maksud?”

Pemuda itu terdiam ia bingung dari mana pemulung itu tau apa yang ia bicarakan dalam hatinya. Ia terkejut dengan pernyataan yang bagaikan menelanjangi dirinya dan pola pikir yang dianggap sebagai kebenaran. Kemudian pemulung itu menepuk pundaknya yang agak tinggi sambil berkata “Janganlah engkau bingung akan diriku, tapi bingungkanlah akan dirimu. Termasuk mind set yang engkau agung-agung kan itu. Janganlah engkau terbodohi oleh mind set mu sendiri. Sehingga engkau menjadi budak akan pikiranmu. Bukankah itu budak yang sesungguhnya? Yang seringkali lebih hina dari pada diriku yang hanya seorang pemulung ini. Walaupun memang aku hina, karna aku pemulung bukan pemenang semacam dirimu.”

Ia tersentak lagi dengan perkataan sang pemulung. Ia diam, matanya terbujur lemas dalam sanubari yang terkuras. Binar-binar mata pemenang itu seakan redup dan kelunglaian tubuhnya mengkerdilkan optimis dalam dirinya. Bagaikan dihantam tombak para gerilyawan, tapi ia masih tertunduk dalam berdirinya. Dan ketika ia sadar ia lemah, pemulung itu telah menghilang dari pandangannya.

***

Perlombaan telah dimulai. Para peserta dengan riuh dan gegap gempita menyuarakan yel-yel kemenangan yang mengagungkan keagungan dan kekuatan dirinya. Yel-yel menjatuhkan lawanpun tersirat dalam bait-baitnya. Setiap peserta optimis untuk menang, walaupun ada juga yang sudah down mentalnya karna kalah suara dengan peserta yang paling ramai dan keras yel-yel keagungan almamaternya.

Pemuda itu ikut dalam barisan depan yang berkuasa dengan jumlah kontingen terbanyak. Mungkin ia adalah tuan rumah dalam acara event lomba tersebut. Kontingennya berteriak keras mengumandangkan senandung yel-yel yang telah dikompakkan untuk disuarakan. Dan mereka berharap senandung yel-yel itu minimal dapat menjatuhkan lawan sebelum bertanding. Jatuhkan mentalnya. Jatuhkan optimisnya. Jatuhkan semangatya. Dan itu bagian dari pola pikir mereka, walaupun tanpa mereka sadari. Tapi tersirat atas tingkah yang mereka aksikan.

Lain dari hari yang lain, pemuda itu hanya diam dalam duduknya. Bagaikan ia didalam sebuah tabung kaca yang berada didalam air. Ia dapat melihat air-air itu meliuk dengan ombak-ombak yang menghempas tabungnya, tapi tidak mengenai dirinya.

Yel-yel itu tak dapat menembus dirinya, semangatnya maupun optimisnya yang biasanya meluap-luap untuk kemenangan. Ia merasakan keanehan dalam lomba kali ini. Ia tidak meraskan harga lomba yang ia tinggikan sebelumnya. Ia tidak meraskan gemeriah lomba yang ia bayangkan sebelumnya. Ia malah merasa sepi diantara ribuan gemuruh suara tak jelas yang mengitari dirinya. Dan ia bingung kenapa ini terasa aneh.

Pikirannya pun menembus bayang-bayang gemuruh itu dan menembus masa lomba sebelumnya. Disebuah expo pameran lomba. Ia berada di sebuah stand lomba yang menghadirkan karyanya. Yang ia mengklaim karyanya sebagai ciptaan terkini dan mutkhir. Tidak seperti bijaknya ilmuwan jaman dahulu yang hanya memeperkenalkan karya nya dan menganggapnya hanya menemukan bukan menciptakan. Ini beda, karna kebanggaan dalam dirinya, ia telah mengklaim ia menciptakan sesuatu. Walaupun itu adalah bagian dari alam yang ia rangkai.

Dalam stand nya itu ia menghadirkan hasil “ciptaannya” yang tak jarang ia lupa bahwa hanya ada satu pencipta Yang Agung. Ia korek semua kekurangan dalam alat lain yang menyerupai alatnya. Dan ia kemukakan masalah-masalah yang melatarbelakangi karyanya yang agak ia lebih-lebihkan walaupun itu tanpa ia sadari. Ia lakukan berbagai macam cara yang menurutnya adalah sebuah trik untuk menang.

Anehnya, pengunjung-pengunjung percaya akan bualannya. Dan karyanya itu terlihat “waw” dimata para pengunjung. Dan kebanggaan yang merasuk dalam tubuhnya menyerupai kesombongan yang tanpa ia sadari telah menelanjangi dirinya sendiri. Karna ciri-ciri kesombongan adalah merasa paling benar dan paling baik, sedangkan dirinya menyalahkan dan menjatuhkan yang lain.

“Mam, ngapain kamu bengong? Kamu itu ketua kontingen mam” suara itu membawa dirinya kembali dalam ruang waktu yang tak jelas arah nya itu.

“Oh ya han, ada apa?”

“Kau ini kenapa tak terlihat seperti biasa. Mana semangat yang engkau agungkan? Mana optimis yang engkau salurkan pada kami dulu? Kok terlihat lemah psimis semacam itu?”

Sleerr mak jleb …. kata psimis merasuk dalam jiwanya. Bagaikan terdesak peluru yang tak tembus, ia merasakan, apakah begini rasanya orang yang di jugje psimis? Psimis memang bukan dari diri orang-orang psimis. Ia datang dari orang-orang diluar dirinya, yang menjatuhkannya dan memberi pernyataan psimis dalam bentuk kata maupun aksi.

Kemudian pemuda itu angkat kaki dan lari keluar dari arena. Teman-temannya memanggil tapi ia tidak menoleh walau sederajat pun. Ia menuju peraduan Tuhan untuk memprotes yang terjadi ini. Dan ia berteriak

“Hai Tuhan, kenapa engkau menciptakan permainan semacam ini? Permainan lomba kemenangan dan kekalahan? Yang membedakan antara pemenang dan yang kalah. Bukankah semua itu dari diri-Mu? Bukankah kami itu dari diriMu? Sama dan tak ada beda.”

“Hai Tuhan, kenapa kau ciptakan permainan gak penting ini? Yang membuat kami berdoa untuk kemenangan kami, yang sama halnya kami menyuruh engkau mengalahkan teman-teman kami lainnya. Betapa kejamnya diriku Tuhan. Dan aku pun yakin mereka juga berdoa untuk kemenangan mereka, yang sama halnya menyuruh-Mu untuk mengalahkan kami. Terus bagaimana ini Tuhan?”

“Kami saling mengklaim bahwa Engkau Tuhan kami, bahwa Engkau akan nurut pada kehendak kami dengan dalih mengabulkan doa-doa kami. Sedangkan mereka juga akan mengklaim Dirimu dan dengan dalih Engkau akan mengabulkan doa-doa mereka yang sama artinya mereka mengkalim juga Engkau nurut pada mereka. Terus hal semacam apakah ini Tuhan?”

“Tuhan, permainan semacam ini telah mengkaburkan kami pada kebenaran dan hakikat kami sebagai manusia. Kami tidak memanusiakan manusia karna ada keinginan di hati kami agar lawan kalah dan akulah yang menang. Bukankah ini kebejatan yang diagungkan? Dan ketika kemenangan terjadi akan ada rasa iri dihati kami, walaupun itu terselubung. Bukankah ini adalah awal mula iri yang juga engkau benci?”

“Tuhan, alangkah tidak adil jika setiap orang berdoa untuk kemanangan. Siapa yang akan berdoa untuk kekalahan? Bukakah kekalahan adalah bagian dari Asma-Mu?”

“Tuhan, pukullah aku, cambuklah aku dan hukumlah aku jika aku berdoa untuk kemenanganku. Karna sama halnya aku berdoa untuk kekalahan teman-temanku.”

“Tuhan aku berdoa untuk kekalahanku, karna kekalahan adalah bagian dari Asma-Mu yang tak tersebutkan oleh mereka yang ingin menang.”

***

Pemuda itu memasuki arena lagi. Tapi ia tidak gabung dengan kontingennya. Ia berjalan menyusuri arena dan menemui beberapa kontingen mahasiswa dari universitas lain.

“Mohon doanya semoga aku bisa kalah” ia menyalami mahasiswa yang ia temui. Mahasiswa yang ia salami bengong dan terkejut dengan pernyataanya.

“Semoga kontingen anda menang” mereka semakin tercengan dengan pernyataannya. Aneh, tak biasanya kontingen lawan mendoakan menang kontingen musuhnya. Tak biasanya kontingen lawan meminta doa kekalahan dari kontingen musuhnya. Karna yang biasa para peserta lomba inginkan adalah doa kemenangan bukan kekalahan.

“Hai bung, apa maksud anda?” teriak salah seorang dari mereka.

“Maksudku?” pemuda itu kelabaan dengan pertanyaan tiba-tiba itu.

“Hai bung, kenapa kau ini? Kau meminta kami mendoakan kekalahan untukmu. Untuk apa kau ikut lomba jika untuk kalah bukan untuk menang? Malahan kau malah mendoakan kemenangan bagi kami. Apa maksudmu? Kau ingin menghancurkan konsentrasi kami dalam lomba ini? Betapa curangnya kau, cuhhh . . .” dia berteriak dengan nada keras dan semua orang mengarahkan pandangan pada perbincangan dua orang ini. Gemuruh yel-yel pun berhenti sesaat.

“Hai kau, jangan lancang terhadap ketua kontingen kami. Kami ini tuan rumah, anda jangan macam-macam. Jaga bicara anda.” Teman pemuda itu membela.

“Sudah . . . . sudah sudah . .. .” teriak pemuda itu dengan nada yang sangat keras, hingga seluruh peserta di audiotorium itu diam sesaat.

“Aku muak dengan lomba-lomba ini, aku muak. Alangkah tidak adilnya lomba ini, setiap orang ingin menang. Kita sama-sama berdoa kepada Tuhan untuk kemenangan kontingen kita masing-masing. Sadarkah kita bahwa itu sama halnya kita menyuruh Tuhan untuk mengalahkan kontingen lainnya? Apakah ini yang disebut kemenangan? Dan setiap peserta mengklaim Tuhan ada dipihaknya. Dan tuhan tunduk terhadap doanya. Inikah yang kau inginkan?”

“Aku muak dengan lomba semacam ini, lombanya para bedebah. Karna dari sinilah munculnya pikiran-pikiran negatif terhadap lawan, termasuk rasa iri dan kesombongan.”

“Aku pun muak dengan pengkotakan yang menang dan yang kalah, yang membuat sombong bagi yang menang dan membuat iri bagi yang kalah. Walaupun kita tidak menyadari rasa itu. Bahkan kita mengelak dan melawan jika dituduh semacam itu.”

“Jika kita semua disini berdoa untuk menang, terus siapa yang berdoa untuk kekalahan? Betapa tidak adilnya kita kan? Bukankah kekalahan adalah bagian dari Asma-nya?”

 “Terus apakah yang dinamakan pemenang sejati? Apakah semacam ini? Dengan lomba semacam ini? Apakah kita melakukan suatu perbuatan semata-mata hanya untuk penghargaan atau kemenangan yang gak penting ini? Betapa bejatnya kita.”

“Hai mahasiswa, manusia abadi tidak berjuang untuk kemenangan. Ia hanya berjuang apa yang seharusnya ia perjuangkan. Lihat Ghandi, Nelson mandela, Bunda Teresa, Abraham Licoln, Gus Dur dan manusia-manusia abadi yang lain. Apakah mereka berjuang untuk penghargaan dan kemenangan semacam ini?”

“Itulah kenapa mereka abadi. Sedangkan lomba semacam ini? Setelah kita mendapatkan pengharagaan-penghargaan semacam ini terus?”

“Hai, Mahasiswa. Jika diseluruh ruang ini berjuang untuk kemenangan? Siapa yang akan berjuang untuk kekalahan?”

“Biarkanlah aku mengemis untuk kekalahan, karna aku ingin kalian menang. Daripada aku mengemis kemenangan yang sama halnya ingin menjadikan kalian kalah.”

 “Hai mahasiswa, aku keluar dari permaiana bodoh semacam ini.”

Pemuda itupun keluar dari arena. Dan suasa di audiotorium mulai semrawut. Semua orang mendengar pernyataan mahasiswa tadi. Dan setiap diri dari yang mendengar ikut bergumam didalam hatinya dan ikut mempertanyakan kembali hakikat lomba dan kemenangan yang sedang mereka agung-agungkan.

***

David, seorang wartawan stasion tv National Gheograpic melakukan ekspedisi pencarian seorang ilmuan yang buku-bukunya best seller internasional. Bukunya terjual lebih dari 15 juta eksemplar di seluruh dunia. Namanya adalah Bunya Hakam, tapi ia tidak diketahui keberadaanya. Tak ada yang tau tempat tinggalnya. Jadi ia seperti tokoh legenda yang melegenda.

Sekitar 3 tahun pencarian dari berbagai negara, akhirnya ia menemukan sesosok yang sangat mirip dengan Bunya Hakam disekitar gugusan kepulauan wakatobi. Dimana kepulauan ditengah laut banda yang lumayan dalam. Jauh dari peradaban kota.

Pulau itu seperti pulau sains impian. Dimana semua peralatan sains terpasang di pulau itu. Dari yang sederhana sampai yang sangat modern. Dan itu adalah hasil karya anak-anak di pulau itu. Bahkan anak usia 15 tahun berani diadu dengan lulusan S1. Disana tak ada pendidikan formal tk, sd, smp dan sma sebagimana biasanya. Tapi setiap anak berhak mempelajari apa yang disukainya.

Dan ternyata setelah ditelusuri dari sejarahnya waktu diwawancara, ia adalah pemuda yang dua puluh tahun lalu membuat heboh se audiotorium waktu lomba. Yang akhirnya ia tak pernah ikut lomba lagi termasuk keluar dari kuliah. Dan sekarang ia malah telah memiliki 3.500 lebih hak paten atas nama dirinya serta banyak buku karyanya yang best seller internasional. Di bukunya ia selalu menulis “Penulis abadi tidak menulis untuk kemenangan. Ia hanya menulis apa yang seharusnya ditulis.”

 

One thought on “PENGEMIS KEKALAHAN

  1. Ping-balik: IMAM HANAFI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s