SETAN MENGGUGAT


SETAN MENGGUGAT

“Yang Aku butuhkan hanyalah ketaatanmu menjalankan yang Aku perintahkan”

Di hari hisab, sebuah persidangan mega besar diadakan untuk mengadili yang seharusnya diadili. Segalanya hadir, termasuk malaikaat, jin, setan dan manusia. Sidang dimulai. Dan hawa hening memaksa seluruh yang hadir terdiam atas titah Sang Maha Agung, yang akan mengadili dan sebagai hakim dari segala hakim.

Majulah seorang manusia untuk disidang tentang dirinya.

“Hai manusia, kenapa kau melakukan yang Aku larang pada dirimu?”

“Aku kebujuk setan-setan bajingan itu Gusti, mereka memaksaku untuk melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan.”

“Kenapa kau berkata semacam itu hai manusia? Bukankah perbuatan ini adalah perbuatanmu?”

“Ya gusti, tapi para setan terlaknat itu selalu membujukku dari jalan lurusMu. Sedangkan aku selalu berniat berbuat baik sedangkan setan terkutuk itu memalingkan niatku. Bukankah Engkau menilai hambaMu berdasarkan niatnya?”

“Hai manusia, kenapa engkau terbujuk oleh mereka? Bukankah telah kuperingatkan agar engkau tidak terbujuk oleh mereka?”

“Ya Gusti, tapi mereka merasuk dalam jiwa dan mengusik semua pikiranku. Hingga aku berbuat apa yang tidak seharusnya aku perbuat. Seharusnya engkau menyalahkan mereka Gusti, bukan kami. Karna sesungguhnya kami selalu berniat baik.”

“Kamu masuk neraka hai manusia, hai malaikat bawa ia ke neraka” malaikat pun menuju padanya. Tapi ia menolak dan protes kepada Tuhannya

“Gusti, Engkau tidak adil. Kenapa engkau memasukkan aku ke dalam neraka? Bukankah Engkau mengetahui segala niat baikku? Yang seharusnya Engkau masukkan ke neraka adalah setan terlaknat itu. Para setan bajingan yang selalu menggoda manusia. Mana keadilanMu hai zat yang mengaku Maha Adil? Jangan engkau putuskan pengadilan ini dalam satu pihak.”

“Terus apa maumu?”

“Bawa setan bejat itu kemari dan adili bersama aku. Karna ia yang membelokkan niat lurusku ke jalanMu.”

“Hai malaikat, bawa setan itu ke sini” Setan itu pun menjadi tertuduh dan disidang di hadapan Sang Hakim Agung.

“Hai Tuhan, kenapa kau sidang aku? Apa salah ku?”

“Ini ada seorang manusia meminta saksi terhadapmu”.

“Dasa manusia bedebah, apa yang kau inginkan dari ku? Engkau ingin menyalahkan aku lagi, atas apa yang engkau perbuat sendiri? Engkau tak puas selalu menyalahkan aku di bumi? Dan engkau menyalahkan aku lagi di hari ini?” setan itu pun menggugat manusia.

“Hai setan terlaknat dan terkutuk, engkau bedosa karna selalu membujukku ke jelan yang bukan JalanNya. Kau yang seharusnya di masukkan ke dalam neraka. Bukan aku. Karna engkaulah yang memalingkan niat baikku.”

“Hai manusia, aku semakin muak dengan dirimu. Ketika kau di dunia dan kau melakukan perbuatan yang tidak seharusnya engkau lakukan, engkau selalu mengatakan bahwa itu salahku. Engkau selalu menghujat ‘gara-gara bujukan setan nih aku melakukannya’. Dan segala perbuatan bejatmu, aku lah yang selalu engkau salahkan. Aku lagi dan terus lagi. Segala perbuatan bejatmu selalu kau hubung-hubungkan dengan diriku.”

“Karna memang itu dari dirimu setan terlaknat, setan terkutuk. Kau yang selalu membujuk kami dengan rayuan-rayuanmu hingga kami berbuat bejat. Siapa lagi yang membujuk kami jika bukan engkau? Sedangkan fitrah kami adalah berbuat baik. Dan engkau memalingkan niat kami.”

“Sudah-sudah, hentikan debat kalian. Akulah hakimnya. Akulah yang memutuskan.” Bentak Tuhan menghentikan keduanya.

“Hai setan jawablah dengan jujur pertanyaanku.” Titah Sang Hakim dari segala hakim.

“Siap sedia Gusti. Karna aku adalah bagian dari hamba yang tunduk kepadaMu.”

“Hai setan, jangan sok taat di depan Tuhanmu” teriak manusia.

“Diam kau manusia, jangan lancang dalam sidangKu”.

Semua hadirin sidang terdiam dan suasana hening menyelimuti sidang kali ini. Semua tertunduk menantikan titah Sang Hakim. Dan semua malaikat berjaga ketat dalam sidang itu, karena suasana sidang itu semakin panas.

“Hai manusia apakah kesalahan setan ini?” tanya Tuhan kepada manusia.

“Seperti apa yang aku katakan tadi Gusti, ia yang memalingkan diriku dari jalanMu”

“Apakah benar setan?”

“Engkau lebih tau apa yang aku perbuat Gusti.”

“Hai setan, jangan sok alim kau sekarang. Dasar munafik. Setan terkutuk, terlaknat, bedebah. Setan bajingan.”

“Hai kau manusia, jaga perkataanmu.” Semua terdiam , dan manusia itu pun terdiam.

“Hai setan, apa pembelaanmu? Katakanlah agar semua tahu”.

“Gusti kenapa selalu saya yang disalahkan atas perbuatan mereka? Perbuatan bejat apapun yang mereka lakukan selalu di dihubungkan dengan diriku. Bahkan pengajian-pengajian yang mengagungkan asmamu juga selalu menyalahkan diriku atas kajiannya. Apa yang salah dari ku gusti?”

“Gusti, bukankah aku hanya menjalankan titah yang engkau berikan kepadaku? Aku hanya taat atas apa yang engkau perintahkan gusti. Salahkah aku taat atas perintahmu? Sedang manusia-manusia itu sendiri yang melanggar atas titah yang engkau perintahkan kepada mereka.”

“Apa maksumu hai setan?” teriak manusia.

“Gusti engkau telah mengetahui bahwa engkau titahkan aku untuk menggoda dan menguji iman manusia. Itu adalah titah yang engkau perintahkan kepadaku. Itu adalah tugasku gusti. Dan aku hanya taat dan menjalani apa yang engkau titahkan. Sedang manusia, engkau titahkan untuk beribadah kepadaMu. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka malah melanggar apa yang Engkau perintahkan kepada mereka. Mereka tidak taat kepadaMu Gusti.”

“Dasar setan bedebah, jangan kau bermain kata di depan hakim yang agung.” Amarah manusia itu pun semakin memuncak karna omongan pedas setan yang mengupas habis dirinya.

“Gusti, ampuni aku. Aku hanya mencoba istiqomah dalam menjalankan apa yang engkau perintahkan kepadaku.” Setan itu dengan rendah diri meminta ampun kepada Hakim Yang Agung.

“Hai manusia, aku terlepas dari apa yang engkau perbuat. Dan engkau terlepas dari apa yang aku perbuat. Karna aku tak dapat berlaku apapun terhadapmu. Dan engkau tak dapat berlaku apapun terhadapku. Tugasku hanya menyampaikan. Sedangkan engkau sendiri yang melakukan. Tugas dari Tuhanku adalah menyesatkan dirimu. Janganlah lagi kau melaknat dan menyalahkan aku” gugat sang setan.

“Dasar setan bedebah, tidak tau diri. Terlaknat kau. Terkutuk kau.” Teriak manusia itu tidak karuan.

“Malaikat, tangkap ia. Seret ia ke neraka. Sekarang juga. Hukum dia atas kesombongannya. Dan bakar dia di atas neraka yang mendidih.” Titah sang Hakim Agung yang sudah tidak dapat diganggu gugat.

“Ta . . . ta . . . tapi Tuhan . . . . .” teriak manusia itu dalam keadaan terseret oleh malaikat. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

“Dan Engkau setan, akan aku masukkan engkau ke dalam surga yang di dalamnya penuh dengan kenikmatan.”

“Tuhan, tidak kah salah? Bukankah Engkau mentakdirkan aku masuk neraka yang panas dengan bara itu?”

“Tidak setan, engkau akan masuk surga.” Jawab Tuhan dengan tersenyum.

“Kenapa Engkau memasukkan aku ke surga Tuhan? Sedangkan aku tidak pernah berbuat baik sezarah pun.”

“Karna engkau telah taat kepadaKu dan istiqomah menjalankan perintahKu. Sedangkan yang kubutuhkan hanyalah ketaatanmu menjalanakan yang Aku perintahkan. Dan engkau melaksanakannya dengan sangat amat baik.”

“Itu adalah amal baik yang sesungguhnya setan. Berbuat karna diriKu. Bukan karna yang lain. Walau kau telah tau kau akan ku masukkan ke neraka. Tapi kau tetap melaksanakan tugasmu dengan baik” lanjut titah Tuhan.

“Tuhan, terima kasih atas apa yang engkau karuniakan kepadaku. Sungguh kasihmu tiada tara. Dan dirimu adalah Hakim Yang Paling Adil dari seluruh hakim di semesta ini. Maha Suci Engkau atas segala apa yang kami prasangkakan.”

Akhirnya sidang berakhir. Dan manusia itu masuk ke neraka karna kesombongan dan pengakuan kebenaran akan dirinya. Sedangkan dirinya menyalahkan orang lain. Padahal segala kesalahan adalah dari apa yang ia perbuat sendiri. Dan ia yang akan menanggung sendiri.

Sedangkan setan malah memasuki surga yang didalamnya penuh dengan kenikmatan sebagai janji Tuhan kepada hambanya yang taat dan istiqomah menjalankan perintahNya. Serta merasa rendah diri di hadapan TuhanNya. Tanpa rasa sombong akan kesucian didalam dirinya.

***

 

Semarang, 15 Mei 2014

Imam Hanafi

 

One thought on “SETAN MENGGUGAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s