PERSIDANGAN PENGHUNI SURGA


PERSIDANGAN PENGHUNI SURGA

Kekasih

Jangan lagi kau tawariku surga

Dan menakutiku neraka

Yang ku inginkan hanyalah diriMu kekasih

 

Surga. Tempat damai dan penuh kenikmatan. Dinding-dinding yang hijau merona serta buah-buah ajaib yang menyertainya. Para bidadari cantik nan anggun pun lalu lalang memenuhi titah pemiliknya. Surga. Tempat tersayang bagi orang-orang baik. Dan balasan atas kebaikannya. Dibawahnya mengalir sungai-sungai susu dan madu yang penuh kenikmatan. Tapi ia juga sebagai tempat melalaikan.

Seseorang berdiri dari tempatnya. Dan maju berlari dengan kelajuannya yang tegap. Ia menanyakan kepada malaikat penjaga.

“Hai malaikat, dimana pemilik surga ini? Aku mau bertemu dengannya.”

“Ada keperluan apa anda bertemu denganNya? Bukankah anda telah diberi nikmat yang tiada tara ini?”

“Justru karna ini saya ingin bertemu denganNya. Cepat antarkan aku padaNya.”

“Apakah anda hendak menggugat Tuhan anda? Nikmat TuhanMu manakah yang engkau dustakan?”

“Bukan nikmatnya yang aku dustakan, tapi karna nikmat ini membuat kami semua yang ada di sini ini berdusta dan hilang akal kami, hilang kemanusiaan kami.”

“Apa maksud anda tuan?”

“Pertemukan aku denganNya. Biar ku jelaskan saja denganNya jika anda tak paham.”

“Tuhan ada dalam peraduanNya. Dan hanya Ia sendiri yang berhak membawa seseorang ke peraduanNya. Tak ada yang dapat ke sana kecuali atas kehendak Tuhan sendiri, tuan.”

“Itu tandanya aku tak dapat bertemu Tuhanku?” malaikat hanya terdiam tak bisa menjawab.

“Buat apa aku di surga jika aku tak dapat bertemu denganNya. Hai Tuhan Tunjukkan KehadiranMu. Aku ingin menggugat sesuatu atas nikmat ini.”

Tiba-tiba suara yang menggelegar mengguncang seluruh penjuru surga.

“Apa yang ingin kau sampaikan padaku, kemarilah. Kemari keruang sidangKu.”

Akhirnya laki-laki itu menuju ruang sidangNya dan dikawal oleh para malaikat-malaikat penjaga. Semua penghuni surga ikut kaget atas peristiwa itu. Dan mereka juga berbondong-bondong menghadiri sidang dan meningalkan sejenak segala kenikmatannya. Sidang pun dimulai. Tapi Tuhan tetap dibalik peraduanNya.

“Tuhan, mengapa kau menciptakan surga?”

“Aku menciptakan surga untukmu dan orang-orang sepertimu. Orang-orang yang di dunia telah berbuat baik. Sebagai balasan atasnya.”

“Hanyakah itu Tuhan? Tuhan, jika Engkau menciptakan surga dan neraka hanya untuk orang-orang baik dan sebagai balasan atas perbuatan baik mereka. Terus kemana saudara-saudara kami yang buruk itu Tuhan?”

“Mereka ke neraka karna perbuatan buruknya. Dan itu adalah balasan atas apa yang mereka perbuat.”

“Tuhan, tapi aku muak dengan surgaMu ini.” Teriak lancang orang itu. Dan seluruh penghuni surga terkejut atas apa yang ia katakan. Karna tak ada satupun orang berfikir muak dengan surga. Semua orang menikmati surga ini.

“Tuhan, aku muak dengan SurgaMu. Aku muak. Karna dengan segala kenikmatan yang engkau berikan itu membuat kami lalai.”

“Hai manusia bedebah, jaga perkataanMu. Jangan lancang di hadapan TuhanMu. Apa maksudmu engkau muak dengan kenikmatan yang diberikan kepadamu ini? Nikmat TuhanMu manakah yang engkau dustakan?” teriak seseorang ahli surga.

“Bagaimana aku tidak muak? Dengan nikmat yang semacam ini malah membuatku lalai.”

“Lalai macam mana pula yang engkau maksud?” teriak dari belakang memotong pembicaraannya.

“Bagaimana tidak lalai? Dengan kenikmatan yang semacam ini, dan diri kita adalah tuhan-tuhan kecil yang baru. Yang bisa mendapat apapun yang kita inginkan. Tapi rasa kemanusian kita malah hilang karnanya. Hai manusia, bukankah nilai tertinggi atas penciptaan kita adalah kemanusiaan kita sendiri?” semua hadirin terdiam, ada yang paham ada yang tidak atas diamnya. Seseorang yang tidak paham diantara mereka berteriak

“Apa maksud anda? Saya tidak paham.”

“Kita di sini merasa nyaman atas nikmat ini. Kita di sini menikmati apa yang diberikan olehNya. Tapi gara-gara nikmat ini pula kita lupa bagimana nasib teman-teman kita dan saudara kita yang ada di neraka. Jikalau semacam ini, apakah nikmat ini tidak melalaikan?”

“Bukankah telah diajari oleh DiriNya bahwa kita tidak boleh memikirkan diri sendiri? Sedang kita saat ini? Kita di sini hanya memikirkan kenikmatan kita sendiri di surga, sedangkan kita lalai dengan teman-teman, saudara-saudara kita yang di siksa di neraka. Bukankah itu egois? Bukankah egois itu dilarang olehNya.”

“Tapi kan mereka di neraka karna perbuatan mereka” mereka membantah.

“Iya anda benar, tapi apakah layak seorang yang mengaku muslim bersenang-senang sedangkan yang lain di siksa? Apakah itu mencitrakan seorang muslim? Apakah layak seorang muslim kenyang dengan makanannya sedangkan yang lain kelaparan dan kehausan? Apakah itu yang diajarkan olehNya?”

Semua hadirin sidang terdiam. Dan mereka baru menyadari apa yang sebelumnya tak mereka sadari. Dan kata-kata nya itu benar-benar menancap dalam hati para pendengarnya.

“Tuhan, tiada zat yang kekal kecuali diriMu. Termasuk surga ini pun tak kekal. Surga ini hanyalah sementara. Tak ada yang kekal kecuali diriMu. Jadi nikmat surga yang engkau janjikan ini pun semu, hanya sementara. Terus buat apa aku Engkau berikan nikmat yang sementara ini sedangkan aku malah lalai gara-gara nikmatmu?”

“Tuhan terus apa bedanya nikmat di dunia dan di surga ini jika sama-sama sementara? Sedangkan nikmat didunia telah engkau terangkan melalaikan, tetapi kenapa tidak Engkau terangkan nikmat di akhirat ini pun melalaikan? Padahal nikmat surgaMu ini pun melalaikan. Apa yang ingin kau kehendaki atas rencanaMu ini?”

“Tuhan, jika aku di surga sedangkan aku lalai akan nasib orang lain dan aku memikirkan diriku sendiri atas kenikmatan yang aku terima, maka masukkan lah saja aku ke neraka. Toh surga dan neraka juga sama-sama sementara dan tak kekal lagi tak abadi. Yang penting aku lebih ingat kepadaMu, lagi tidak hilang rasa kemanusianku, sehingga aku khusuk dan berdoa bersama mereka atas siksa yang Engkau berikan.”

Semua orang terkaget mendengar pernyataan pemuda itu. Setiap orang ingin masuk ke surga, sedangkan ia? Ia telah masuk ke surga malah meminta di masukkan ke neraka. Semua orang terdiam dalam tanda tanya yang besar. Walaupun kalimat sindiran itulah yang lebih membungkam mulut mereka.

“Malaikat, bawa ia ke neraka.” Dan malaikat pun membawanya ke neraka. Sidang telah selesai, tapi penghuni surga belum beranjak dari tempatnya. Mereka masih termangun akan perkataan pemuda tadi. Dan tak jarang mereka mulai mempertanyakan surga yang diberikan olehNya lagi surga yang dulu mereka harap-harapkan hingga memperebutkan kebenaran dan kebaikan tanpa mereka sadari.

Semua penghuni surga mulai gelisah setalah sidang tadi. Dirasa-rasakan memang benar kata pemuda tadi. Surga ini melalaikan. Nikmat surga yang berlebihan ini menghilangkan kemanusiaan mereka. Sedangkan Tuhan sendiri tidak suka hal-hal yang berlebih lebihan. Kebanyakan dari mereka sekarang telah mulai jenuh dengan kenikmatan surga yang terus menerus tiada habisnya. Mereka mulai muak dengan surga.

***

Di neraka, dia dilempar ke perapian yang sangat panas. Api neraka, sepanas-panas nya api. Timah-timah panas pun menghujani dirinya, cabikan para malaikat pun menghantam dirinya. Tapi ia hanya bertasbih dan semakin sayang sama Allah. Ia merasakan betapa kejamnya siksaanNya dan kemudian berdoa untuk orang-orang yang disiksaNya, walaupun ia tahu ia berdoa itu akan percuma. Tapi ia berdoa sebagai wujud rasa kemanusiaannya. Ia tak peduli Dia mengabulkan doanya atau tidak, ia hanya berdoa sebagai hamba dan manusia.

Tiba-tiba ia bertemu dengan seseorang yang cerah wajahnya di dalam neraka itu. Ia disiksa tapi ia hanya senyam senyum. Bahkan ia tertawa merasakan siksaan yang begitu pedih dan kejamnya. Kemudian pemuda itu mendangi laki-laki itu dan bertanya

“Assalamu’alaikum tuan”

“Wa’alaikumsalam warohmatullah“ jawabnya dengan tersenyum dan penuh ramah.

“Tuan, kenapa tuan disiksa semacam itu malah tersenyum sendiri bahkan ketawa? Bukankah siksaan ini begitu pedih?” tanya pemuda itu dengan decak kagum.

“Jika engkau merasakan jatuh cinta pada kekasihmu, apa yang engkau rasakan?”

“Nggak teruraikan tuan”

“Begitulah aku, ini bukanlah siksaan. Ini adalah belaian lembut kekasihku.”

“Kekasih? Maksud tuan?”

“Ya kekasih. Kekasih alam semesta. Ia pun kekasihku. Yang amat ku cinta lagi ku tuju dirinya. Bukan surga atau neraka tak berharga semacam ini.”

“Tuhankah yang engkau maksud tuan?”

“Siapa lagi kalau bukan Ia? Yang berhak dicintai lagi dirindukan?”

“Apakah tuan tidak merasakan sakit apapun? Kok merintih pun tidak, malahan anda tersenyum dan tertawa menghadapi malaikat pengadzab itu.”

“Ketika engkau jatuh cinta dengan orang yang engkau cintai, engkau akan lupa apapun dan tidak merasakan apapun kecuali dirinya. Begitupun jika engkau mencintaiNya. Engkau tak akan merasakan apapun dan mengingat apapun kecuali diriNya. Dan itu lebih dari nikmat yang ada di seluruh alam semesta. Surga pun tak dapat menandinginya. Hasbi Robbi Jalallah. Ma fi qolbi ghoirullah. Cukuplah bagiku kemulyaanNya. Tiada lain di hatiku kecuali Allah.”

“Jadi jika kita merasakan cinta itu kita pun tak akan merasakan sakit dan kejamnya panas api neraka ini?”

“Bagaimana mau merasakan sakit dan pedihnya siksa api neraka yang tak seberapa ini, jika rasa cinta itu lebih besar dan memenuhi seluruh jiwa ragaku?”

“Jika tuan mencintaiNya, kenapa tuan dimasukkanNya ke neraka? Alangkah tidak adilNya Ia.”

“Ha ha ha . . . anak muda-anak muda” sambil menepuk punggung anak muda itu sambil tertawa “yang ku tuju bukanlah surga atau nerakaNya. Aku selalu berdoa ‘Kekasih, janganlah engkau menawariku lagi surga dan menakutiku dengan neraka’.”

Pemuda itu semakin bingung dengan perkataan tuan aneh itu. Kemudian ia tak kuasa dengan berbagai pertanyaan yang mau meledak dalam pikirannya. Dan akhirnya ia tanyakan pula pertanyaanya

“Maaf tuan, aku belum paham apa yang tuan katakan.”

“haha hahaha, ya udah nggak papa” ia hanya tersenyum simpul tanpa meneruskan pembicaraanNya.

“Loh? Kok nggak jadi bicara tuan? Tolong ajari saya tuan, saya tidak tau apa-apa. Karna saya ini bodoh dan suka protes.”

“Jadi begini pemuda. Surga dan neraka adalah milikNya. Ya suka-suka dia mau memasukkan siapa saja ke surga atau ke nerakaNya. SekehendakNya dong, kan surga-surgaNya dan neraka pun nerakaNya.”

“Bukankah surga bagi orang baik dan neraka bagi orang buruk tuan?”

“Ya itu benar menurut hukum. Tapi Ia adalah pencipta hukum itu. Ia keluar dari hukum itu ya sekehndak hati Dia. Tak ada yang dapat mencegah Dia tentang apapun yang Dia kehendaki. Bukankah semacam itu?”

“Iya yah tuan, terus kenapa tuan bisa masuk ke neraka?”

“Kan udah ku jelaskan, bahwa surga dan neraka milikNya. Dia berkehendak atas siapapun yang masuk surga dan siapapun yang masuk neraka. Aku pun adalah MilikNya, pemuda. Jadi terserah Dia aku mau diapakan. Karna aku tak memiliki berhak apapun atas raga dan ruh ini. Jika pemilik diriku menginginkan aku ke neraka dan Ia masukkan ke neraka yang juga milikNya sendiri. Ya sudah. Suka-suka Dia.”

“Loh kok gitu tuan?”

“Karna saya ini hanya hamba. Hanya budak. Yang patuh dan taat atas apapun Sang Pemilik katakan. Jika Sang Pemilik mengatakan aku masuk neraka. Ya sudah. Aku harus taat dan patuh. Karna aku hanyalah budak yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan diri ini pun bukan milikku, melainkan milikNya.”

“Jadi ketika Sang Pemilik Yang Agung mengatakan anda masuk neraka, anda tidak protes?”

“Tidak, dan aku tidak akan dan tidak pernah ingin untuk protes.”

“Kenapa tuan?”

“Kurang jelas apa lagi penjelasanku?”

“Terus apa yang tuan inginkan dariNya jika tidak surga dan menghindari nerakaNya?”

“Hay anak muda, surga dan neraka adalah bagian dair jebakanNya.”

“Maksudnya jebakan tuan?”

“Segala amal ibadah yang ia lakukan untuk SurgaNya dan menghindari NerakaNya atau untuk diriNya? Dan kebanyakan kita terjabak pada hal itu. Kita beramal tapi bukan karnaNya, tapi karna surga dan nerakaNya. Sehingga ketika kita di beri surga yang kita tuju, kita lalai. Dan kita tidak akan pernah mendapatkan nikmat tertinggi. Yaitu nikmat bertemu dan bersanding dengan Nya.”

“Terus Doa apa tuan lantunkan setiap hari jika bukan terntang surga dan neraka?”

“Doa yang ku ceritakan padamu tadi.”

“Tuan, doa yang mana? Tolong aku yang bodoh ini engkau ajari doa padaNya.”

“Aku hanya berdoa ‘Kekasih, Jangan lagi kau tawariku surga dan menakutiku neraka. Yang ku inginkan hanyalah diriMu kekasih.’” Akhirnya mereka berdua berdoa bersama dengan doa itu. Dan gemuruh suara dari langit kembali menggetarkan gerbang-gerbang neraka dan tembok-temboknya. Apa pun padam seseaat. Dan terdegnan suara

“Hai malaikat, bawalah kekasihku dua orang ini ke peraduanku.”

Malaikat pun bergegas menaati perintahNya. Dan kedua orang yang berdoa itu di bawalah ke peraduanNya. Bersanding bersama DiriNya yang Agung lagi Kekal Abadi. Dan itu adalah puncak tertinggi dari segala kenikmatan. Dan seluruh penghuni surga dan neraka merasa iri karna tidak mendapatkan nikmat yang tertinggi itu. Dan karna bersama zat yang abadi, kisahNya pun kekal abadi diseluruh penjuru semesta akhirat.

***

20 Mei 2014

Imam Hanafi

 

 

One thought on “PERSIDANGAN PENGHUNI SURGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s