Untung Aku Bukan Kyai


Untung Aku Bukan Kyai

 

Saat ini adalah musim liburan. Biasanya liburan pasca UAS semester ganjil akan menjadi liburan yang panjang. Apalagi di UNDIP, liburan bisa mencapai 1 bulan atau bahkan hampir 2 bulan.

Seperti biasa, disela-sela liburan, Ma’mum menyempatkan waktu untuk datang ke kampusnya. Dan ternyata masih banyak mahasiswa yang belum pulang kampung.

Dengan alasan ada acara inilah ada acara itu  yang menjadikan mereka telat untuk pulang. Apalagi di otak mereka telah termind-set bahwa liburan akan berjalan sangat lama. Hingga sangat rugi jika tidak digunakan dengan membuat acara tertentu yang lebih bermanfaat.

Oleh karena itu, para organisatoris dengan segala kewibawaan dan kehebatan manajerial waktunya, memaksakan membuat acara agar tidak menjadi mahasiswa “nganggur” di waktu liburan. Gengsi dong, mahasiswa nganggur dan nggak ada kerjaan. Apalagi kluntrang-kluntrung di rumah.

Slogan “Jangan membuang-buang waktu dengan hal yang tidak berguna” pun berkumandang keras di dalam hatinya. Hingga ia pun tak sadar bahwa yang dilakukannya pun sesungguhnya tidak berguna juga. Bukannya tidak berguna, tapi adakah yang tidak berguna? Ha ha ha.

Peace para organisatoris, jangan didengarkan perkataan orang tidak berguna. Apalagi perkataan Ma’mum. Sudah jelas dia mahasiswa setengah sinting. Sudah tidak ikut organisasi manapun, sukanya mengolok-ngolok organisatoris.

Coba ketika ia daftar organisasi dan ia diterima, pasti sekarang ia telah menjabat pada departemen seperti mahasiswa non-pengangguran yang lain. Dan pastinya ia tidak akan berfikir semacam itu. Bahkan ia akan ikut sama berfikir semacam mahasiswa yang lain yang mengagung-agungkan manajerial waktunya dan acaranya. Dan tidak akan berbicara semacam ini.

Berhubung ia tidak diterima, ya seperti itulah pola pikirnya. Ini ada cerita menarik dari kesintingan pikiran Ma’mum dalam ngelokke atau membantai teman-temannya organisatoris yang tidak pulang atau telat pulang.

Satu hari, ia mengajak teman-temannya jalan-jalan ke Kudus. Malam itu mereka menginap di masjid Menara Kudus. Dan terjadilah perbincangan seru antara Ma’mum dengan Kholis sang santri dan para teman organisatoris yang lain.

“La kenapa liburan kok pada belum pulang?” Ma’mum memulai percakapan.

“Ada acara Undip Science Expo mas. Acaranya Minggu depan, tapi pada belum fiks semua. Ah bingung ah, makanya saya tinggal refreshing ikutan jalan-jalan dirimu” curhat Dika sang ketua Organisasi Riset.

“La kamu Kholis? Kamu nggak ada kegiatan to?” tunjuk Ma’mum pada Kholis sang santri.

“Belum boleh pulang sama Abah, Ma’mum. Nanti ada jadwalnya pulang. Jadi pulangnya gantian perkamar.”

“Loh kok lucu?”

“Iya, soalnya ngajinya tetap berlangsung walau liburan. Jadi tetap harus ada santri yang ngaji. Nah, jadi liburnya gantian per kamar.”

“Emang dikasih libur berapa lama?”

“Cuma satu Minggu, he he he”

“Lah kok Cuma satu Minggu? Kan liburan kampus hampir 2 bulan Kholis?”

“Ngaji kan lebih utama dari pada nganggur di rumah to?” elah Kholis.

Sama pemikirannya dengan para organisatoris. Yah, nggak papa lah. Mungkin maksud dari sang Kyai baik. Agar pondok pesantrennya tidak sepi. Tapi masak harus memaksakan dengan semacam itu?

“Mas Dika, dulu waktu aku kelas 2 SMA aku dinasehatin oleh ibu ku.

‘Nak, kamu sama ibu palingan cuma sampai usia 18 tahun. Setelah itu engkau kuliah dan pastinya jarang pulang. Syukur-syukur kalau bisa pulang setiap bulan. Tapi kalau jauh? Palingan pulang 6 bulan sekali. Itu pun belum pasti. Iya kan?’

‘Setelah kuliah pasti kamu cari kerja kan Nak? Apalagi sudah kerja, palingan pulang 1 tahun sekali waktu idul fitri, karena engkau sibuk dengan pekerjaanmu. Itu sih masih mending. Sebentar setelah engkau kerja, pulang-pulang engkau bawa calon istri. Sudah deh, habis engkau menikah, tak ada waktu lagi untuk ibu. Karena engkau sudah sibuk mikirin anak, istri dan kebutuhan. Pulangnya pastinya tidak tentu setiap tahun, apalagi jika mertuamu diluar kota atau di luar Jawa. Iya kan?’

‘Nak, saya tanya, kira-kira waktumu sama ibu dengan waktumu dengan istrimu nanti banyakan mana?’

‘Ya pasti banyakan sama istriku lah buk’ sahut ku.

‘La ya, waktumu palingan Cuma 18 tahun sama ibu. Dan coba hitung waktumu dengan istrimu, pasti lebih dari 30 tahunan kan, jika umurmu sampai 60 an?’

‘Makanya kalau di telfon Ibu mbok ya di angkat. Yang namanya nggak sempat itu nggak ada. Yang ada tu Kamu Nyempetin Atau Tidak!!! Sesibuk apapun dirimu, Jika kamu nyempetin pulang, ya pasti pulang. Jika kamu nyempetin nelfon ya pasti nelfon.’

Itu Mas Dika, perkataan ibuku yang paling berkesan.  Sudah berapa bulan Mas Dika belum Pulang?”

“Wah nggak tak hitung saya, mungkin 4 atau 5 ya?”

“Tapi sering telfon Ibu kan?”

“He he he , jarang juga. Kalau nggak di telfon ya aku nggak telfon.” Jawabnya sambil tersenyum manis mengakui kesalahannya.

“Mas Dika . . . Mas Dika . . . ya gak papa sih. Kalau bisa minimal seminggu sekali lah telfon orang tua. Masak nggak sempet? Nyempetin dah 5 menit saja. Ibu itu sangat senang sekali walau hanya mendengar kabar dari anaknya. Coba bayangkan jika engkau nanti menjadi orang tua, anakmu nggak pernah pulang, nggak pernah ngabari, tapi engkau masih terus ngirim bulanan ke dia karena engkau mencintainya sebagai anakmu. Gimana perasaanmu?”

“Ya juga sih . . .”

“Kalau aku ya . . ., wah anak kurang ajar. Sudah di beri sangu (uang saku), malah nggak pernah pulang, sms nggak dibales, telfon nggak di angkat. Maumu apa sih? Aku nyekolahkan kamu agar berbakti, la ini malah? Kamu PHP-in aku?” Guyon Ma’mum sembari berakting sebagai orang tua yang marah-marah. Tapi tetap, dengan nada tertawa yang akhirnya membuat teman-temannya tertawa ngakak.

“Mas Kholis, kemarin aku sedang ngobrol dengan Ida anak Teknik Lingkungan. Kamu tau kan dia juga mondok di Ngesrep sana. Kasusnya sama seperti dirimu. Ia juga hanya liburan 1 minggu doang. Terus aku tanya kenapa? Ya seperti jawabnmu, dengan alasan Guru lebih tau apa yang terbaik bagi muridnya lah, atau ngaji lebih baik dari pada di rumah. Akhirnya aku bilang padanya

‘Da, misal aku menjadi seorang Kyai, aku akan bilang kepada santriku

Santriku yang abah sayangi, abah beri waktu liburan padamu selama 1 bulan. Jadi sebelum satu bulan penuh, jangan kembali ke pondok, apapun alasannya, oke?

Walaupun kurang 1 hari, 1 bulan kurang 1 hari, tetap jangan pulang dulu ke pondok. Kalau lebih dari satu bulan malah boleh. Lakukan apapun yang engkau bisa di rumah. Bantulah orang tuamu sebisamu. Jika orang tuamu tani, bantulah ikut ke sawah. Jika orang tuamu pedagang, bantu ikut jualan. Jika bisamu hanya menyapu rumah, ya sapulah rumahmu. Jika bisamu hanya cuci piring, ya bantulah cuci piring atau cuci baju.

Kapan lagi kamu bakti pada orang tuamu jika bukan sekarang? Bukankah orang tuamu memondokkanmu ke sini dengan harapan engkau akan menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya?  

Kapan lagi nak, kamu berbakti? Jika 18 tahun kau sibukkan untuk sekolah, apalagi yang sekolah + mondok. Terus dirimu sekarang kuliah sekaligus mondok lagi, pastinya jarang pulang kan? Habis kuliah dirimu cari kerja, cari istri, rumah tangga sendiri. Sudah, kapan lagi kau akan berbakti, iya kan?

Sudah, pokoknya abah kasih liburan 1 bulan, jangan pulang sebelum 1 bulan. Berbaktilah pada orang tuamu dengan melakukan apa yang engkau bisa. Jika mau lebih, abah malah senang. Tidak papa lebih dari satu bulan. Abah senang sekali ada santri abah yang taat dan berbakti kepada ke dua orang tuanya. Abah sangat senang punya santri yang dia demen bantu orang tuanya di pasar, di sawah maupun di rumah. Itulah mondok yang sebenarnya, santriku. Bukan hanya ilmu kosong yang kau serap tanpa ada makna setiap harinya di sini.

Dan jangan lupa, ikut ramaikanlah desamu. Sumbangkan sesuatu untuk desamu. Masak punya ilmu tidak dimanfaatkan? Sudah tahu ilmunya kan, jika ilmu tidak bermanfaat bagaikan pohon yang tidak berbuah. Buat apa punya pohon tapi tidak berbuah? Mending potong saja, iya kan?

Nah, begitulah santriku, abah harap engkau ikut meramaikan desamu. Jika ada kerja bakti, ikutlah, semarakkanlah. Jika ada masjid atau surau tempat anak-anak kecil ngaji, ikutlah mengajar. Ajarilah anak kecil Qur’an. Walaupun itu hanya 1 huruf, hanya 1 alif saja. Abah sudah sangat senang sekali karna ada ilmu yang bermanfaat dari ilmu yang abah ajarkan.

Jika belum ada tempat di mana anak-anak bisa ngaji, maka buatlah, dirikanlah. Jadilah kamu pelopor. Kalau mahasiswa bilangnya agen of Change ya? Jadikanlah dirimu lentera yang membawa cahaya dalam gelapnya malam.

Jika engkau mahasiswa teknik mesin, tuh bagaimana membuat solusi buat para petani di desamu. Jika kamu teknik lingkungan ya gimana membangun lingkungan ideal di desamu. Jika engkau mahasiswa pertanian, ya ajarilah tetanggamu yang tani tentang cara bertani yang baik. Jadilah mahasiswa yang berani kembali ke kampungnya, untuk membangun kampungnya.

Soalnya, kapan lagi engkau akan mengaplikasikan ilmu mu jika bukan sekarang? Kapan engkau akan mengaplikasikan ngajimu jika bukan sekarang? Palingan setelah lulus kamu bingung cari kerja, kalau ludah kerja pasti di luar kota, apalagi kalau nikahnya sama orang beda pulau, hayo? Dirimu nggak akan dempet membangun kampung halamanmu.

Bangunlah kampungmu selagi engkau bisa, bangunlah desamu selagi engkau mampu. Coba bayangkan jika semua mahasiswa mau kembali ke kampungnya dan mengaplikasikan ilmunya di kampungnya dan tidak bingung cari kerja di kota-kota yang sebenarnya malah membuat dirinya menjadi budak. Beh . . . akan jadi apa negara ini? Negara lain akan kalang kabut melihat kita maju dari lapisan paling dasar, desa dan kampung-kampung.

Sudah, abah terlalu banyak omong kosong. Tidak omong kosong bagaimana, jika yang ku katakan hanya sebatas menjadi angin lalu. Aku hanya bisa berharap semoga omonganku tadi tidak menjadi omong kosong. Memang abah tidak tahu apa yang akan engkau lakukan nanti. Abah juga tidak akan menanyakan apa yang engkau lakukan nanti. Tapi ingat, Allah Maha Tahu dan Allah mengawasimu. Jadi, bekerjalah, berbaktilah dan bangunlah kampungmu karena Allah. Bukan karena sesuatu. apalagi karena Abah.’

“Tapi untung aku bukan Kyai dan tak akan menjadi Kyi. Karena sekarang saja aku bukan santri. Jadi aku tidak akan mengatakan semacam itu kang Kholis ha ha ha , kecuali aku diambil menantu sama Kyi, ha ha ha” guyon Ma’mum.

Kholis hanya terdiam dan kemudian menata diri untuk tidur di serambi Masjid Menara Kudus. Dalam lamunan menuju tidurnya, ia memikirkan ulang apa yang disampaikan si gendeng Ma’mum. Tapi, hitam kelam yang ada dalam pikirannya saat ini, karena ia telah tertidur.

Semarang 2015

(Imam Hanafi)

 

3 thoughts on “Untung Aku Bukan Kyai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s