Kita Butuh Cermin Untuk Melihat Siapa Diri Kita


Dandelia, ketika ada orang datang padamu untuk memarahimu walau alasannya itu adalah sebuah kritikan untuk kebaikanmu. Terima saja dengan penuh senyuman dan terima kasih.

Ketika dia mengungkapkannya ke seluruh umat manusia pun, terimalah dia dengan penuh senyuman dan kelembutan, Dandelia. Janganlah engkau berbalik mencari kesalahannya hanya untuk membela dirimu. Karena memang sudah menjadi fitrahnya manusia jika dia dikritik, maka dia akan mencari pembenaran atas kritikannya.

Dan terkadang ketika kita dalam keadaan dikritik, kita akan mencari celah dan melihat seolah-olah yang mengkritik kita itu juga sama atas apa yang ia katakan. Tapi mencari kesalahan semacam itu tidaklah bijak, Dandelia.

Terkadang bahkan mereka berkata bahwa jangan mencari kesalahan orang lain. Bukankah ketika dia berkata semacam itu sebenarnya dia mencari kesalahan dirimu juga? Tapi ya tidak masalah, janganlah engkau membantahnya. Biarkan dia mengemukakan semua kesalahanmu. Itu pun untuk kebaikanmu kan?

Apa untungnya kita membela diri kita, Dandelia? Pembelaan itu malah menambah dirinya benci terhadap dirimu dan dikira dirimu tidak mau di kritik. Walaupun ketika dia kau kritik semacam itu marah, itu sudah menandakan bahwa dirinya itu juga tidak mau dikritik.

Tidak apa-apa, Dandelia. Mengalahlah, mengalahlah untuk memenangkan hatinya. Tapi janganlah engkau mengalah hanya bertujuan memenangkan hatinya. Memenangkan hatinya hanyalah efek samping, Dandelia.

Mengalahlah, mengalahlah biarkan dirimu seolah-olah orang yang paling berdusta dan orang yang paling munafik di seluruh muka bumi ini. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya.

Maka tahanlah amarahmu, Dandelia. Akui saja semua yang dikatakan olehnya. Janganlah engkau mencari pembelaan diri, apalagi ikut mencari kesalahannya. Karena apapun kesalahannya itu akan percuma, jika saat itu engkau sampaikan. Dia pasti akan mencari pembelaan yang malah akan menyudutkanmu. Hingga debat kusir pun tak terelakkan.

Terimalah kritikan dan masukannya, Dandelia. Sesungguhnya itu ada baiknya untukmu. Jangan terima amarahnya, tapi terimalah masukannya. Sesungguhnya segalanya itu adalah cara Tuhan menegur dan mengajari dirimu.

Apa susahnya kita bilang “ya sudah aku salah. Terus baiknya gimana?”. Terkadang pengakuan yang hanya semacam itu sangatlah mahal dalam situasi semacam itu, Dandelia. Apalagi ketika dia sudah menyebarkan aibmu itu ke seluruh penjuru dunia.

Maka merendahlah sedalam laut. Semoga engkau bisa tinggi menjulang setinggi langit. Hilangkan segala keegoisan dalam diri kita. Menghilangkan segala ke’aku’an dalam diri kita. Karena sejatinya yang mendatangkan dia dengan penuh amarah hanyalah Tuhan.

Tuhanlah yang menghadirkannya padamu, Dandelia. Tuhanlah yang membuat dia berpikir semacam itu. Tuhanlah yang menunjukkan keburukanmu padanya. Siapa lagi yang memberi tahu keburukanmu padanya selain Tuhan?

Terkadang kita perlu kaca untuk melihat siapa kita, Dandelia. Dan kaca itu bukan dari dalam diri kita, melainkan dari luar diri kita. Oleh karena itu, mungkin bisa jadi dia adalah kaca yang diturunkan Tuhan untuk melihat siapa dirimu, Dandelia.

Maka berterima kasihlah kepada Tuhan karena mendatangkan orang yang menegurmu dan memberimu masukan semacam itu. Terima kasihlah kepada Tuhan karena lewat orang itu engkau belajar sabar, memaafkan, tidak mencela, tidak mendebat, tidak mencari kesalahan dan yang terpenting merendah serendah-rendahnya.

Terkadang kita juga butuh merendah walaupun kita itu benar, Dandelia. Kita tetap mengakui kesalahan yang ia ajukan lebih karena  kita tidak ingin menyakiti hatinya. Kita mengaku salah untuk menyenangkan hatinya. Apakah itu salah?

Tapi setiap orang memiliki pilihannya masing-masing dan memiliki cara masing-masing. Terkadang kami semacam itu Dandelia.  Mengakui kesalahan yang diajukan orang lain hanya untuk menyenangkan hatinya. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang ia sampaikan itu ada benarnya dan baik buat kita.

Tak usahlah kita balik mencari kesalahannya. Jika semacam itu, terus apa bedanya dirimu dengan dirinya? Apa yang bisa kita lakukan atas apa yang ia ajukan, ya kita lakukan. Untuk apa? Pertama untuk kebaikan kita, yang kedua untuk menyenangkan hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s