Nafsu dan Ambisi


Dahlia Kekasih, banyak orang yang aku temui mengatakan hal yang sama. Allah memberi bukan apa yang kita inginkan, melainkan Allah memberi apa yang kita butuhkan. Dan mereka pun sama dalam hal berhati-hati dengan segala ambisi dan nafsu.

Seperti temanku dari Sidoarjo, dia pernah menasehatiku “Mam, ada setan yang paling halus godaannya. Yaitu setan nafsu. Setan nafsu itu mam, menggoda manusia lewat rasa. Rasa kasihan, cinta, benci dendam dan rasa yang lain. Hati-hatilah dengan rasamu. Cobalah jika ingin merasakan. Tapi jangan coba-coba.”

Itulah kenapa aku selalu takut untuk bertemu denganmu, Kekasih. Aku sadar bahwa ketika orang jatuh cinta, mas bertemu orang yang dicintai adalah ambisinya. Apalagi ketika sudah lama tidak pernah bertemu dan tak tahu kabar.

Seperti ketika engkau datang ke wisuda temanmu di Sudarto. Temanku mengabariku bahwa engkau di sana. Seketika itu juga rasanya ingin sekali menemuimu, walau itu hanya melihatmu dari kejauhan.

Tapi aku malah mengurungkan niatku untuk datang. Padahal aku juga berencana menemui temanku yang sedang wisuda. Aku sadar bahwa itu adalah ambisi, maka aku bilang stop pada diriku sendiri.

Juga seperti ketika tiba-tiba sengau nge-chat via WA. Bayangkan saja, engkau mencintai seseorang dan tidak pernah menghubunginya bahkan sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba menghubungimu, bagaimana perasaanmu?

Jelas, gejolak untuk segera membalasnmu itu ada, Kekasih. Tapi selama gejolak atau ambisi untuk membalasmu  itu belum reda malah tidak aku balas pesanmu. Baru malam harinya ketika gejolak itu telah reda aku baru balas pesanmu. Itu pun aku hanya balas “Alhamdulillah” kan?

Jika aku teruskan berkirim pesan padamu, Dahlia, itu sangat berbahaya. Karena aku sadar itu adalah sebuah ambisi atau nafsu. Janganlah engkau sekali-kali mengharapkan dapat mengalahkan nafsu dengan cara menurutinya, Kekasih.

Bagaikan makanan yang tidak pernah memuaskan nafsu makan, bahkan ia akan ketagihan bila diberi makan. Dan nafsu itu seperti halnya anak-anak. Jika engkau biarkan, dia akan menyusu sampai tua. Tapi, jika engkau menghentikannya, dia akan berhenti.

Maka, kendalikanlah nafsumu. Janganlah engkau beri dia kesempatan untuk menguasaimu. Karena jika dia berkuasa, ia akan membutakan dan menulikanmu. Jagalah nafsumu baik-baik, walau dia telah tertunduk dalam ruang ketaatan. Oleh karena itu, janganlah engkau lengah dari dirinya, Dahlia.

Banyak hal yang telah nafsu sesatkan dari orang-orang yang taat. Dia menguasai segala medan dan memalingkan korbannya dari tujuan dan niat awalnya. Berhati-hatilah, Kekasih.

Tapi karena dia lah yang membuat kita senantiasa mengalirkan air mata kita dalam pinta penyesalan. Biarlah air mata itu kering karena senantiasa menangisi kemaksiatan kita, Dahlia. Hingga kita senantiasa menjaga pintu penyesalan dan kerendahan kita di hadapan-Nya. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi berbangga diri apalagi merasa paling suci dari yang lain.

Semoga Allah mengampuni kita dari perkataan yang tidak diiringi dengan amalan. Sungguh dosaku terlalu besar karena aku menyuruh orang berbuat kebaikan sedangkan aku sendiri belum melakukannya.

Dan semoga kita senantiasa diajarkan oleh Tuhan untuk menguasai nafsu-nafsu kita, Dahlia. Sungguh kita akan tersesat tanpa petunjuknya dan kekuatan-Nya. Nafsu adalah musuh paling nyata bagi kita dan perang paling besar dalam jagat ketaatan kita kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s