Caping Petani


 Aku menyukai para petani, apalagi capingnya. Caping itu memiliki filosofi yang luar biasa, Dahlia. Mengayomi bumi, menjulang ke langit. Habluminannash, habulumminallah. Begitulah seharusnya kita menjadi manusia.

Seperti halnya para petani, yang menghidupi. Alangkah baiknya hidup kita pun menghidupi yang lainnya, Kekasih. Menumbuhkan dan memekarkan yang lain.

Beberapa bulan yang lalu seseorang berkata padaku “Nak, hidup itu menghidupi. Sudahkah engkau hidup?” Sontak kesadaranku kaget, Dahlia. Jika aku tidak menghidupi yang lainnya, sama halnya aku itu mati.

Oleh karena itu, mari kita menghidupi di tempat kita masing-masing. Memberi makan pada orang yang lapar, memberi minum pada teman yang haus. Jika ada tumbuhan yang hampir mati, kita siram air. Termasuk ketika ada kucing yang kelaparan kita kasih makan.

Ada temanku itu aneh, Dahlia. Dia ke mana-mana selalu bawa pakan kucing. Saya tanya “Apa ini?” dia jawab “ini pakan kucing, mam”. “La kok di bawa?” tanyaku. Ia hanya menjawab “biar nanti kalau di jalan ketemu kucing, bisa ngasih makan”.

Sesuatu yang kecil akan tetapi dilakukan terus menerus, Insya Allah  memiliki dampak dan energi yang luar biasa, Kekasih. Ada seseorang yang hanya mengisi air kendi di pasar setiap harinya untuk diminum para pedagang maupun orang yang datang ke pasar. Dan beliau melakukannya setiap hari. Jika airnya habis, diisi lagi dan terus semacam itu.

Tapi sesuatu yang sangat sederhana itulah yang menjadikan Allah sayang kepadanya. Dan menjadikannya Kekasih-Nya. Ada pula kisah seseorang yang senantiasa menjaga sumber mata air. Tak akan ia biarkan orang-orang mencemari lingkungan di sekitarnya yang dapat menyebabkan rusaknya sumber mata air itu. Dan itulah yang menjadikan Allah cinta dan sayang kepadanya, sehingga menjadikannya Kekasih-Nya pula.

Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, tak akan ia berdiam diri, Kekasih. Dia akan terus bergerak untuk menghidupi. Terutama menghidupi apa yang ada di depannya dan apa yang berada di sekitarnya.

Dia bagaikan pohon yang meneduhkan. Menjulang ke langit dan mengakar ke bumi. Segala makhluk dalam naungannya. Ada burung yang bersarang di dahannya, ada kerbau yang makan rumput yang subur darinya, ada petani yang berteduh dari teriknya matahari hingga ada kupu-kupu yang menghisap sari madunya.

Setiap bagian dari dirinya dapat menghidupi yang lainnya, entah itu batang, daun bahkan hingga akarnya. Setiap geraknya dalam rangka beribadah kepada-Nya. Dan segala sesuatu yang dia lakukan dalam rangka untuk mengingat dan bertemu dengan-Nya. Walaupun itu terlihat sederhana oleh orang lain.

Cukup sederhana untuk menghidupi yang lainnya, bukan? Tidak usah menunggu kita kaya dulu, kita sukses dulu baru menghidupi yang lainnya. Cukup apa yang dihadapkan oleh Tuhan padamu, berbuat baiklah di situ.

Jadilah orang yang mengayomi kanan kirimu, sembari dirimu menjulang ke langit, ke hadirat Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Hidupilah apa yang di depanmu dan apa yang ada di sekitarmu, Dahlia.

Tugas kita hanya menanam kebaikan. Apakah dia tumbuh atau tidak? Apakah dia berbuah atau tidak? Itu bukan urusan kita. Biar Allah sendiri yang mengurusnya.

Tugas kita hanya menanam dan merawat. Sedangkan yang menumbuhkan, membungakan dan memekarkan hanyalah diri-Nya.

Dengan kesadaran begitu, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sombong ketika tanaman kita berbuah dan berbunga cantik. Serta semoga kita tidak termasuk orang yang bersedih lagi menyesal ketika ternyata tanaman kita tidak tumbuh, atau malah sudah berbuah dan tinggal memanen akan tetapi Allah berkehendak lain.

Demikian pula dengan cinta dan rinduku padamu, Dahlia. Tugasku hanyalah menanamnya dan menyiraminya, apalagi sudah aku ceritakan bahwa biji ini saja bukan kepunyaanku.

Hanya Dialah yang berhak menumbuhkan, dan hanya Dialah yang berhak mematikan. Dialah yang mempersatukan, juga hanya Dialah yang memisahkan. Sungguh aku berserah diri kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s