Perjalanan


Butir air itu menangis, akankah ia bisa sampai ke samudra sedangkan dirinya hanyalah butiran air tanpa daya. Dia pun sadar betul bahwa dirinya tak memiliki kuasa sedikit pun untuk sampai Samudera. Ia hilangkan semua harapannya menuju Samudera.

Dia sadar akan kemungkinan ia diuapkan, hingga hilang tanpa jejak. Atau di dalam perjalanannya dia bertemu tempat yang ditakdirkan Tuhan baginya. Tuhan alirkan dia ke danau-danau ataupun rawa-rawa. Hingga akhirnya pun tak bertemu dengan Samudera.

Keraguan menyelimuti perjalanannya. Ia mulai ragu bahwa Samuderalah muara sungai kerinduannya. Dia rasa dirinya tak layak untuk keagungan Samudera. Hingga ia tolak segala harapan untuk bersanding dan menyatu dengan Samudera.

Karena keraguannya itulah ia bertanya pada tuhan setiap malamnya

“Tuhan, sungguh aku ini tak layak untuk dirinya. Dirinya penuh dengan keagungan serta keindahan, sedangkan aku hanyalah buih dalam Samudera kasih-Mu.

Tuhan, banyak air yang menuju Samudera. Bahkan dari gunung-gunung nan tinggi maupun dari danau-danau yang diagungkan. Aku tidaklah pantas menemuinya. Apalagi menemui, merindukannya pun aku tidak pantas.

Aku tahu diri, siapa diriku ini dan di mana posisiku. Aku tak ingin terjebak dari angan-angan yang membutakanku untuk mengingat-Mu. Apalagi sampai hati melupakan-Mu.

Tuhan, banyak lelaki yang lebih pantas untuknya. Lelaki yang memiliki derajat dan keagungan. Lelaki yang dapat membawanya menuju Samudera cinta-Mu.

Oleh karena itu aku memohon padamu, berikanlah padanya lelaki yang dapat mengantarkan sungai kerinduannya menuju Samudera kerinduan pada-Mu.

Tuhan, bagiku merindukannya itu sudah lebih dari cukup membawaku menuju kerinduan padamu. Mencintainya sudah lebih dari cukup membawaku mengenal cinta-Mu.

Bahkan nikmat cinta nan rindu yang membawaku pada-Mu ini pun tak akan mampu ku tebus, walaupun aku memiliki harta seluruh langit dan bumi sekalipun.”

Dan Tuhan pun menyindirnya “Duhai air kekasihku, kenapa engkau meragukannya kembali? Jika Aku berkehendak atas segala sesuatu, Aku hanya berkata “Jadi!” maka jadilah. Bersabarlah dan bertawakallah kepada-Ku. Sungguh akan aku karuniakan kepadamu Cinta (Rahmat) serta tempat kesudahan yang baik.”

“Tapi, aku juga sadar Engkau menghapus kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau pun berkehendak memisahkan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki. Bisa jadi ketika berada di tengah jalan engkau menguapkanku, hingga aku tiada. Atau mengalirkanku menuju rawa-rawa dan danau-danau.”

“Loh loh loh, gimana to? Kamu ragu akan janjiku? Bukankah Aku sebaik-baiknya pemenuh janji? Memang manusia itu lucu, meminta petunjuk, diberi petunjuk. Eh, malah tidak percaya. Maunya apa coba?”

Akhirnya sang air pun memantapkan hatinya dan mulai perjalanannya kembali. Dia mempersiapkan segala sesuatu sebelum tiba bertemu dengan Samudera. Bahkan dia menghidupi apapun yang dilewatinya dalam perjalanannya menuju Samudera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s