Quran


Dahlia Kekasih, dekatkanlah dirimu dengan Al Quran. Sungguh Quran adalah penjelas dan pembenar atas segala sesuatu. Dia akan menjawab segala pertanyaanmu, tentang apapun.

Itulah yang aku rasakan sekarang. Membaca Quran serasa berbicara dan mengobrol langsung dengan sang pemilik Quran. Hingga ada yang kurang jika ke mana-mana tidak terbawa.

Dahlia, Quran senantiasa menemani setiap perjalananku. Termasuk ketika mendaki gunung. Kami mendaki gunung pun hanya untuk membaca satu ayat Quran. Bukanlah puncak tujuan kami mendaki.

Berkali-kali ketika ada masalah, aku bertanya Allah. Dan Quran menjawab pertanyaanku. Apapun masalahnya, dia senantiasa memberiku jalan keluar. Sungguh dia membenarkan dan menjelaskan segala sesuatu.

Dia adalah kalam yang benar, dia juga obat bagi orang-orang yang mengimaninya. Dan hanya akan menjadi cerita masa lalu bagi orang yang mengingkarinya.

Jika Allah tidak memberi pemahaman akan Quran, mereka akan menjadi buta dan tuli walaupun berkali-kali mereka membacanya.

Hanya Allah yang dapat memahamkan Quran kepada  kita, Dahlia ku. Sehebat apapun bahasa arabmu, jika Allah tak berkenan memahamkannya padamu, Quran pun hanya sebatas kata-kata.

Oleh karena itulah Rasulullah mengajarkan kepada kita, sebelum membaca Quran untuk berdoa robbi zidni ‘ilma warzuqni fahma, ya Tuhan tambahkanlah bagiku ilmu dan karuniakanlah rizki pemahaman Quran kepadaku.

Quran diturunkan dalam bahasa Arab, karena sang rasulnya berbahasa Arab, Kekasih. Dan jikalau Allah turunkan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut Al Quran diturunkan dalam bahasa asing sedangkan rasulnya seorang Arab (41:44)?

Maka Allah menyuruh Rasulullah berkata “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti dipanggil dari tempat yang jauh (41:44).”

Dahlia kekasih, banyak ayat yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya sendiri. Supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (4:4).

Tapi kembali lagi, rasul pun diperingatkan oleh Allah bahwa Allah menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan yang maha kuasa lagi maha bijaksana (4:4).

Oleh karena itu, ketika engkau berdakwah jelaskanlah dengan menggunakan bahasa kaum itu. Supaya dengan begitu mereka mendapatkan penjelasan yang terang.

Aku banyak menemui orang-orang yang berdakwah tidak dengan ayat-ayat, tapi dengan bahasa sehari-hari mereka. Tapi sungguh dakwahnya itu qurani banget. Dan bagusnya, hal itu tidak terlihat menceramahi apalagi menghakimi.

Mereka lebih banyak menggunakan ayat atau tanda alamnya Quran, Kekasih. Seperti dalam Quran ada ayat (tanda) tentang bulan dan matahari, maka matahari dan bulan yang sesungguhnya adalah ayat (tanda) itu sendiri atas kebesaran Allah.

Quran yang tekstual hanya menunjukkan, sedangkan tanda atau ayat yang sesungguhnya telah dihamparkan oleh tuhan di hadapanmu. Tinggal engkau mau memikirkannya atau tidak.

Gampangnya, misal ada sebuah robot, Quran adalah buku petunjuknya. Sedangkan robot yang sebenarnya ya robot itu sendiri. Demikian pula dengan ayat-ayat dalam Al Quran.

Quran menjelaskan bahwa Allah menciptakan bulan dan matahari sebagai ayat (tanda) kebesarannya. Bulan dan matahari yang sesungguhnya itulah ayat yang sebenarnya.

Aku bingung menjelaskan ini, Kekasih. Tapi engkau pasti paham lah. Engkau lebih tahu dari pada aku. Dan alangkah bodohnya aku yang seolah-olah mengajarimu, malahan tak jarang terlihat mengguruimu. Mungkin engkau mengenalnya dengan subutan ayat qouliyah (firman) dan ayat kauniayah.

Aku banyak menemui orang semacam itu. Sehingga dakwahnya tidak menggurui. Dan yang didakwahi pun tidak merasa sedang didakwahi.

Seperti cerita-cerita yang aku ceritakan padamu sebelumnya, mulai dari tukang cukur hingga tukang bersih-bersih. Bukankah yang dikatakan oleh mereka sangat Qurani banget, Dahlia? Hanya saja mereka membungkus itu dengan bahasa kaumnya, mereka menjelaskan ayat kauniahnya, sehingga yang mendengarkannya menjadi terang pemahamannya.

Alangkah indahnya Quran itu, Kekasih. Dulu aku hanya mempelajari  Quran secara tekstual, hingga suatu saat aku bertemu dengan seseorang

“Mam, Ngaji Quran itu tidak hanya di pondok. Dulu aku ngaji Quran ya ke sawah, ke hutan, dalam perjalanan bahkan sambil angon sapi, kitabnya di bawa.

Ayat Quran tidak hanya yang ada di kitab, Mam. Yang dihamparkan gusti Allah di depanmu itu juga Quran. Makanya perintahnya di suruh baca.

Coba bayangkan ketika Rasulullah kedatangan Jibril untuk menerima wahyu pertama kali. Ayat apa yang Allah turunkan? Allah menyuruh Rasulullah untuk membaca. Bahkan diulang sampai lima kali.

La tapi Rasulullah kan gak bisa baca. Toh misalkan bisa baca pun, apa yang mau dibaca? Tidak ada tulisan, bahkan itu saja baru ayat yang pertama. Apa yang hendak di baca?

Allah menyuruh Rasulullah membaca dengan menyebut nama Allah, mam. Allah menyuruh Rasulullah membaca segala sesuatu yang Allah hamparkan sehingga muncul ketakjuban pada diri kita untuk mengagungkan nama-Nya.

Makanya santri dulu itu ngaji tidak melulu di pondok. Ngajinya ya ngaji alam. Ngaji ‘ilm-nya Allah, ngaji ilmunya Allah. Dan ngajinya santri dulu itu lama, mam. Tidak seperti sekarang yang hanya beberapa tahun sudah selesai dan merasa sudah menguasai ilmu agama dan paling kenal dengan Allah.

Aku ini mam, selama enam tahun hanya di suruh belajar la ilahaillallah almalikul haqqul mubin, muhammadur Rasulullah shodiqul wa’dil amin. Serta baru bisa nyatol dzikirnya ketika duduk berdiri dan berbaring itu selama dua puluh tahun. Semua butuh waktu, dan itu tidak sebentar.

Mam, cobalah pahami dulu ayat tentang innalillahi wainnailaihi rojiun dan dengan ayat la khaula wala quwwata illabillah. Jika dua ayat itu kamu benar-benar paham, itu saja sudah lebih dari cukup. Apalagi ayat yang lain.”

Sejak saat itu aku mulai ngaji alam, Dahlia. Mentadaburi dan mentafakuri ayat-ayat kauniah-Nya. Oleh karena itulah kami ngaji Quran di bukit senja. Ya hanya beberapa ayat yang kami baca, akan tetapi kami menemukan ayat kauniah yang dihamparkan Allah sebanyak-banyaknya.

Mengaji Quran hanya beberapa ayat ini pun juga disadarkan oleh seseorang, malahan bukan waktu di pondok. Maklum dulu aku di pondok hanya belajar tentang keindahan kata dan nada dari Quran. Mulai dari hafalan, murajaah, tartil, qiroah dan tajwidnya saja. Baru setelah bertemu dengan mereka berdua aku disadarkan betapa dalam dan indahnya makna Al Quran itu.

Beliau yang mengajari untuk membaca Quran ini berpesan padaku “Mas Imam, bacalah Quran walau itu satu ayat. Selamilah makna-maknanya, pelan-pelan.”

“Terkadang aku takut pak, la nanti kalau salah tafsir gimana?” tanyaku dalam keraguan akan nasehatnya.

“La yo siapa yang suruh menafsirkan? Kan Cuma saya suruh baca. Kita hanya diperintahkan untuk membaca mas, bukan menafsirkan.” Aku pun tertunduk bingung mau jawab apa.

“Perintah yang ada Iqra’ kan? Ya sudah dibaca saja, biar Allah nanti yang memahamkan. Tak ada yang dapat memahamkan Quran selain Allah, mas. Oleh karena itulah ketika sebelum membaca Quran kita diajarkan Rasulullah untuk membaca ta’awud semoga kita dilindungi Allah dari bisikan setan. Serta  memohon kepada Allah semoga kita ditambahkan ilmu lagi diberi rizky pemahaman.”

Kemudian beliau meneruskan “Mas Imam, Banyak orang Israel yang lebih mengenal Quran dibandingkan mengenal anaknya sendiri. Hanya saja mereka mengingkarinya, karena nabi terakhir bukan dari golongannya.

Dan banyak agenda yang menggiring kita untuk lepas dari Quran. Karena umat islam tak akan bisa dihancurkan jika Quran masih bersemayam di dalam hatinya.

Dan setan tidak dapat mengganggu orang-orang yang beriman dan  bertawakal kepada Allah, Mas. Setan tak dapat bermain di ayat-ayat Allah, dia bermain di angan-angan serta kepentingan manusia.”

Dahlia Kekasih, aku tak tahu, aku sangat cocok sekali dengan Quran. Dia senantiasa menemaniku dan membimbingku hari demi hari dalam mengatasi semua masalahku.

Dia senantiasa memberi petunjuk kepadaku, dia pun menentramkan hatiku. Tak cukup itu, dialah yang senantiasa memperingatkanku atas segala kesalahanku. Atas segala yang aku lupakan ataupun yang tidak aku sadari.

Seperti rasa sombong, riya’, ujub, pamer dan segala penyakit hati lainnya. Ia senantiasa memperingatkanku ketika aku terjebak dalam lembah penyakit hati yang tidak aku sadari, Dahlia.

Ketika aku mendapatkan  ayat tentang kesombongan, aku langsung berpikir secara mendalam, apa yang telah aku lakukan. Bahkan tak jarang dapat ayat tentang kemunafikan dan kekafiran. Hingga banyak di hari-hariku aku menangis karena penyakit hati yang tidak aku sadari itu.

Lewat dia pun Allah memberikan aku berita gembira. Banyak berita gembira yang aku dapat dari Quran. Sehingga ketika hal itu terjadi, kita tidak akan kaget karena telah dikabarkan sebelumnya.

Lewat Quran juga Allah mengajarkanku tentang bisnis, Dahlia. Tentang betapa pentingnya MOU dan bagaimana menundukkan hati orang. Bahkan dia pun memberi petunjuk kepadaku dalam urusan asmara sekalipun.

Ketika aku bingung akan segala sesuatu, aku bertanya kepada Allah lewat Al Quran. Dan Alhamdulillah selalu dapat jawaban dan jalan keluar, bahkan keyakinan melakukan sesuatu. Termasuk ketika aku ragu, akankah aku mengirim buku-bukuku padamu atau tidak.

Betapa romantisnya seorang hamba yang mengobrol dengan Tuhannya lewat Al Quran. Selayaknya sepasang kekasih, yang memberi berita gembira lagi memperingatkan kekasihnya

Betapa banyak pengetahuan yang aku dapat dari Quran, Dahlia. Banyak rahasia yang diungkapkan oleh Quran jika engkau mau berkenalan dan memahaminya.

Cobalah ketika di malam-malammu engkau membacanya pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru. Bahkan satu ayat pun sudah lebih dari cukup jika engkau mendalaminya begitu dalam dan engkau tanyakan sendiri dalam hatimu “Kenapa Allah menurunkan ayat ini padaku?”

Sungguh Al Quran adalah renungan lagi pelajaran bagi orang-orang yang mau memikirkan ayat-ayatnya. Dia pun pengingat serta petunjuk bagi orang yang lalai lagi dalam kebingungan.

Dia diturunkan Allah untuk menjadi guru kita, untuk menjadi tempat kita bertanya dan berkomunikasi dengan Allah. Serta sebagai sandaran untuk mengeluhkan segala masalah kita.

Dialah pemimpin yang menunjukkan jalan menuju jalan yang lurus. Dialah cahaya yang menerangi kegelapan dalam semua masalah di sepanjang siang maupun malam kita. Dan dialah keindahan yang mengindahkan.

Dia pula pengingat ketika engkau berjanji dan engkau melupakannya. Lewat dia pun segala kebingungan dan keraguanmu akan terjawab. Dan lewat dia segala rahasia pengetahuan akan tersingkap.

Pernah suatu saat ada seorang santri dari Jombang bertanya padaku “Mas Imam, kok bisa mas imam buat buku dengan kata-kata dan puisi begitu bagusnya? Aku pengen belajar seperti itu.”

Dan hanya tak jawab “Bacalah Quran. Dia adalah sebaik-baiknya puisi. Aku belajar semua itu dari Quran. Bahkan isinya pun sebagian besar aku dapat dari Quran.”

Dahlia Kekasih, banyak hal yang aku dapat dari Quran. Saking tidak kuatnya aku menerima pengetahuan dari Quran setiap harinya, aku pun mengoceh terus dengan teman-temanku membicarakan ayat dan pengetahuan yang aku dapat setiap harinya. Itulah kenapa aku selalu ke bukit senja setiap sore.

Dan itu pun tidak cukup, Quran tetap mengucurkan terus aliran ilmunya padaku. Oleh karena  itulah aku menulis. Berharap dapat mengurangi beban pengetahuan itu dengan berbagi padamu.

Suatu saat ketika silaturahmi ke rumah seorang guru yang mengajarkan Quran ini (walau dia tidak pernah mau di panggil guru) aku berkata “Pak, mungkin aku akan meledak jika tidak ada temanku ini. La gimana, setiap hari dikucur terus dengan semacam itu.”

Beliau hanya berkata “Aku pun juga mas, kalau tidak ada istri dan anak-anak juga pasti sudah meledak. Itulah kenapa ketika Allah turunkan Quran itu pada gunung-gunung, maka gunung-gunung itu akan bergoncang dan bumi akan terbelah.”

Aku pun pernah dapat ayat tentang itu, Dahlia, pernah ku ceritakan padamu dalam buku Samudera rindu kalau nggak salah. Bahwasanya Allah menciptakan manusia dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya agar dia merasa senang kepadanya.

Pernah juga mendapatkan ayat yang mungkin saat ini sering di sebut doa minta keluarga sakinah “Wahai Tuhan kami, karuniakanlah dari pasangan kami dan anak turun kami sebagai peneduh hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (25:74).”

Ayat itu menjawab pertanyaanku di buku Samudera rindu, Kekasih, tentang kenapa hampir semua nabi dan rasul di utus malah setelah mereka menikah. Bukankah Allah sangat mampu mengutus Rasulullah ketika bujang? Dan jika Allah mengutus Rasulullah ketika bujang, bukankah hal itu menjadikan waktu dakwah Rasulullah semakin panjang?

Dan ayat itulah jawabannya, Dahlia. Ketika seorang utusan itu diutus oleh Allah untuk memimpin orang-orang yang bertakwa, dia perlu sandaran dan peneduh hatinya dalam menghadapi semua masalahnya.

Bagaikan penampung air yang terus dikucurkan air pengetahuan dari Tuhannya, ia pun butuh tempat untuk mengalirkannya agar tidak membludak dan meledak. Dan istrinyalah sebagai tempat baginya mengalirkan air-air itu.

Aku setuju dengan pesanmu kepada adikmu untuk meluaskan sayap-sayap ilmu agar dia bisa terbang menembus batas langit. Seorang laki-laki harus melalang buana mencari ilmu yang sejati, agar nanti kelak dapat membimbing istrinya menemukan kesejatian.

Itulah dalam ayat tersebut istri dulu, anak, baru bisa menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Suami adalah guru bagi istri dan anaknya. Dia adalah pemimpin dan nakhoda dalam bahtera rumah tangganya.

Memang menjadi seorang Imam itu tidak mudah, Dahlia. Seorang pemimpin akan diberi Allah kesakitan yang lebih dari yang lainnya. Apalagi seorang nabi dan rasul, tak ada kesakitan dari seluruh orang di dunia ini yang melebihi Rasulullah.

Dan Allah menurunkan seorang istri untuknya, agar dia dapat melupakan kesakitannya. Seorang penyair berkata “Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan. Dan Tuhan menciptakan tangis perempuan, agar laki-laki lupa tangisnya sendiri.”

Sungguh Quran itu indah, Dahlia. Oleh karena itulah nanti sebelum aku meminang seorang wanita, aku akan bertanya dua hal kepadanya. Salah satunya “Jikalau ada seorang lelaki yang menjadikan Quran menjadi petunjuk hidupnya, bersediakah engkau menjadi istrinya?”

Aku akan ajak istriku nanti untuk membaca Quran dan mentadaburinya bersama-sama. Kami akan mengarungi perjalanan rumah tangga kami bersama Al Quran sebagai petunjuk menuju Samudera Cinta-Nya.

Bahkan kepada anakmu yang masih kecil, perdengarkan saja Quran, ajak dia ngaji bersama-sama membahas Quran, walau dia belum paham dan malah lari-larian. Karena perintah dari Quran itu membacakan, ya bacakan saja.

Seperti guruku yang mengajarkanku baca Quran beberapa ayat perhati itu. Setiap habis magrib, anak dan istrinya dikumpulkan untuk sholat berjamaah. Kemudian beliau membaca beberapa ayat dan menjelaskannya.

Walau anaknya berkeliaran dan berlarian, beliau tetap menjelaskannya. Ketika ditanya beliau hanya berkata “tugas kita hanya menyampaikan Quran mas, walau itu kepada anak kecil. Ya sampaikan saja, kan yang bertugas memahamkan bukan kita.”

Hanya Allah yang dapat memahamkan Quran. Itulah kenapa ayat yang sama dengan orang yang berbeda, pemahamannya pun berbeda. Seperti yang pernah aku ceritakan padamu di buku Kekasih Special Edition.

Allah akan memperikan pemahaman bergantung kemampuan kita memahaminya. Seperti pada komputer, jika prosesornya masih pentium dengan ram hanya 1 Giga ya belum dikasih MATLAB, baru setelah core i dengan ram 2 GB atau lebih bisa dikasih MATLAB dan program berat yang lain seperti adobe after effect. Jika tidak begitu, komputernya akan eror, Dahlia.

Sungguh Quran itu pembenar dan penjelas atas segala sesuatu. Bacalah Kekasih, bacalah Quran yang di hamparkan Tuhan padamu. Mintalah petunjuk dan pemahaman dari Tuhan yang memberi petunjuk lagi memahamkan. Semoga engkau diberi pemahaman.

Dan Quran akan senantiasa menjawab segala masalah dan keluh kesahmu. Dia pun akan memantapkan sesuatu yang engkau ragukan. Jika engkau ragu atas segala sesuatu, dirikanlah sholat, tanya sama Allah dan buka Quran. Minta Allah memahamkan tanda (ayat) yang diberikan padamu.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al Quran. Jadikanlah ia pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami. Tambahkanlah ilmu kepada kami dan berikanlah rezeki pemahaman Quran kepada kami.

Ya Allah, ingatkanlah kami apa-apa yang terlupa. Ajarkanlah apa-apa yang kami tidak ketahui. Serta karuniakanlah kenikmatan dalam membacanya sepanjang waktu, baik siang maupun malam hari. Dan jadikanlah ia hujjah kami di akhirat. Duhai Tuhan seluruh alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s