ALL POST

Nasehat Ibu Tentang Wanita


Kembali lagi soal nafsu, musuh terbesar dari kita adalah diri kita sendiri (nafsu). Semakin pintar dirimu, semakin pintar pula musuhmu. Semakin cerdik dirimu, semakin cerdik pula musuhmu. Bahkan semakin alim dan taat dirimu, dia pun akan semakin dapat menjebakmu dengan jalan kealiman dan ketaatan.

Berhati-hatilah, Kekasih. Ibuku pernah menasehatiku bahwa seorang wanita itu nafsunya besar. Nafsu di sini lebih pada nafsu keinginan. Jadi, sudah menjadi kodratnya wanita bahwa dia memiliki banyak keinginan.

Beliau bilang “Di surga saja yang berbagai makanan dan minuman sudah tersedia, masih saja wanita (hawa) menginginkan sesuatu yang lain. Padahal hanya satu itu yang tidak diperbolehkan.

Mam, wanita itu terbuat dari tulang rusuk lelaki. Tulang rusuk itu bengkok, maka luruskanlah. Tapi jangan engkau memaksanya, bisa jadi dia akan patah. Karena hati wanita itu rapuh, luruskanlah dia dengan cara yang baik ya mam?

Sudah menjadi kodratnya wanita memiliki banyak keinginan (nafsu). Dan itu pula yang membuat dunia ini berjalan. Jika istrimu nanti punya banyak keinginan, janganlah engkau langsung melarangnya dan memarahinya. Maklumilah dia, masuki jalan pikirnya dan luruskanlah dengan cara yang baik.

Wanita itu perlu diluruskan, mam. Jika wanita itu kau biarkan, ya selamanya ia akan bengkok. Itulah kenapa Imam dalam rumah tangga itu laki-laki. Karena memang sudah Allah lebihkan laki-laki terhadap wanita.

Jadilah Azizur Rahim, perkasa namun penyayang. Perkasa untuk meluruskan istrimu. Tapi cara meluruskanmu itu dengan kasih sayang. Sehingga tulang yang bengkok itu tidak patah.”

Suguhan untuk Kekasih


Akan tetapi, kekasih sejati tak akan pernah tega meminta dibuatkan taman nan indah oleh kekasihnya. Yang ada dari dirinya hanya cinta kepada sang kekasih. Bahkan dialah yang akan membuat taman itu untuk sang kekasih.

Ia senantiasa hiasi harinya dengan apapun yang membuat sang kekasih semakin mencintainya. Dan ia akan berjalan menuju apapun, yang membawanya menuju taman rindu kepada sang kekasih.

Tak mungkin dia berdiam diri. Dia akan terus bergerak, bekerja, bernyanyi, menulis, menari, dan berkarya dalam rangka bertemu dengan Kekasihnya.

Ia pun akan menyuguhkan yang terbaik, nyanyian yang terbaik, kerjaan yang terbaik, tulisan yang terbaik, lukisan yang terbaik dan apapun yang terbaik. Karena semua itu ditunjukkan dan dipersembahkan untuk kekasihnya. Itulah caranya menyembah-Nya, mempersembahkan sesuatu yang terbaik untuk diri-Nya.

Ibadahnya pun tak terikat ruang dan waktu. Apapun yang dia kerjakan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Apapun yang ia ucapkan, ia tulis dan setiap langkah kakinya dalam rangka menyembah-Nya.

Betapa indahnya orang-orang yang mempercayai pertemuan dengan kekasih agungnya, Dahlia. Hidupnya dalam rangka kasih (rahmat) bagi semesta alam. Siapa pun yang berada di dekatnya merasa terayomi dan terlindungi. Semoga kita termasuk bagian dari mereka.

Betapa romantisnya dirinya dengan Tuhannya, Dahlia?


Ketika engkau bisa menjadi awalul muslimin (orang-orang yang awal berserah diri), hidup akan senantiasa nikmat, Dahlia ku. Dia sadar bahwa segala urusan telah diurus oleh Tuannya. Dan tidak ada kekhawatiran di dalam hatinya.

Kekhawatirannya lebih karena takut jika jauh dari Kekasih agungnya, takut kekasihnya tidak ridha terhadapnya. Dan rasa malunya lebih karena malu di hadapan cinta dan rindu pada-Nya. Takut merindu dan mencinta selain diri-Nya, serta takut kalau Kekasih agungnya cemburu terhadapnya.

Sehingga dalam segala kehidupan dan apapun yang dia kerjakan, dia akan senantiasa bertanya “Apakah Kekasihku berkenan jika aku berbuat seperti ini?” Serta dia akan senantiasa menangis ketika malamnya “Duhai kekasih, maafkan aku yang masih ada cinta lain selain diri-Mu.”

Betapa romantisnya dirinya dengan Tuhannya, Dahlia? Semoga dirimu pun memilih jalan cinta dan rindu kepada-Nya. Jalan yang penuh dengan kenikmatan, sebagaimana taman rindu nan nikmat yang ia janjikan.